
Happy Reading 🤗
...🌹🌹🌹...
Atas hilangnya Ismalia dihari akad pernikahan dengan Mandala. Hilangnya Ismalia sudah dipastikan bahwa Ismalia diculik oleh seorang tidak diketahui identitasnya pada saat menuju kediaman Mandala. Akibat kejadian tanpa disengaja berupa pecah ban tersebut membuat Ismalia mengalami kejadian naas.
Dari Bramantio dan Mandala sudah mengarahkan seluruh anak buahnya untuk mencari jejak Ismalia ataupun si penculik. Namun nyatanya tidak mendapatkan titik terang hingga keesokannya. Acara yang sudah dihadari para tamu kerabat dan keluarga serta penghulu sudah pulang setelah menjamu beberapa hidangan.
Kekhawatiran Rita, Erika, Mastiara, dan Mardian begitu tampak bahkan Mastiara dan Mardian terpaksa harus menginap di rumah Mandala. Karena ingin mendengar informasi dari Ismalia. Pihak keluarga Mandala dan Ismalia tidak berani melaporkan penculikan ini ke pihak polisi. Karena akan berdampak pada keselamatan dari Ismalia sendiri.
Menyewa seorang mata dan detektif terkenal serta pengerahan anak buahnya sudah dilakukan oleh Bramantio ke berbagai daerah. Pencarian yang dilakukan baik dari luar daerah dan dalam daerah namun hasilnya tetap nihil. Begitu juga yang dilakukan oleh Mandala bersama sahabatnya yang bernama Nazir.
Pada saat sesuatu terlewat dari pikirannya untuk mengecek rekaman CCTV yang berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Agus. Situlah Mandala mendapat sebuah petunjuk dari rekaman yang menampilkan sebagian tubuh si penculik Ismalia yaitu terdapat tato dipergelangan tangan sebelah kanan bergambarkan bunga mawar bertengkorak berwarna hitam.
Untuk wajah si penculik tidak begitu kelihatan. Pakaian yang digunakan memakai jaket kulit berwarna hitam. Namun bagi Mandala itu sudah cukup menjadi bahan petunjuk untuk mencari keberadaan Ismalia walaupun memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Semua petunjuk tersebut Mandala menyewa seorang detektif dan mata-mata terkenal untuk mencari jejak tersebut. Tidak lupa juga mengarahkan semua anak buahnya untuk ikut mencari. Sedangkan Mandala ikut menggali informasi disekitar tempat kejadian barangkali ada orang yang melihat. Dan bisa menjadi petunjuk yang kedua untuk memudahkan pencarian.
Sepulang dari tempat kejadian penculikan. Nazir kini yang secara bergantian mengendarai mobil. Mandala yang tengah mengecek ponsel Ismalia yang syukurnya tidak terkunci apapun. Mandala membuka semua aplikasi yang ada bahkan tidak terdapat apapun. Terakhir Mandala mencoba membuka aplikasi WhatsApp milik Ismalia.
Menggeser beberapa chat, terhenti di salah satu chat tanpa nama dengan arti bahwa nomor tersebut tidak tersimpan di kontak. Membuka pesan nomor tanpa nama tersebut membacanya dari awal. Mandala kembali terkejut melihat chat nomor tanpa nama tersebut berisikan berupa pengancaman ke Ismalia. Mandala tidak menyangka Ismalia bisa menyembunyikan hal tersebut dari keluarga dan sahabatnya.
"Kenapa? Kenapa kamu tampak seperti orang kaget saja?" tanya Nazir yang menyetir menoleh ke Mandala.
"Aku tidak menyangka, selama ini Is selalu diteror dan diancam oleh seseorang yang tidak tau identitas nomornya." ucap Mandala sambil kembali membaca pesan orang misterius tersebut.
"Emang apa isinya?" tanya Nazir penasaran.
"Sebuah ancaman dan teror dari seseorang. Aku gak nyangka aja Is bisa menyembunyikan hal sebesar ini sendiri tanpa mau bercerita baik ke orangtuanya ataupun Erika."
"Bagaimana kamu tau kalau Is tidak pernah bercerita?" tanya Nazir lagi.
"Ya, kalau Is bercerita otomatis Erika pasti akan bilang ke aku ataupun Ibu. Tempat Is bercerita keluh kesahnya tak lain Erika." jelas Mandala.
"Ohhh...Nah kenapa tidak kita gunakan saja nomor itu sebagai petunjuk. Kita bisa hubungi kembali."
Mandala yang tengah menghubungi nomor tersebut ternyata sudah tidak aktif kembali baik dari via WhatsApp ataupun telepon biasa.
"Sudah, sudah dihubungi tapi nomornya tidak aktif. Oh ya... apa kamu ada kenalan teman yang bisa melacak nomor ponsel seseorang?" tanya Mandala.
"Emmmm...Ada. Aku ada kenalan yang bisa melacak nomor seseorang nama Vino. Dia ahli dalam meretas dan melacak sesuatu."
"Kalau begitu kita ketemui dia sekarang?"
"Baiklah."
Mobil mereka pun menuju kediaman Vino teman Nazir. Vino memang ahli dalam melacak dan meretas sesuatu tetapi tidak digunakan untuk membobol data-data penting. Melainkan untuk hal seperti kasus yang mereka hadapi. Vino tidak mau kalau ia akan masuk ke dalam penjara jika sampai melakukan hal seperti itu walaupun hanya demi uang.
Kediaman Vino lumayan cukup jauh membutuhkan 1 jam menuju ke rumahnya. Dalam perjalanan Mandala memberitahu Bramantio kalau ia sudah memiliki petunjuk selanjutnya. Bramantio yang sebelumnya mendapatkan petunjuk pertama dari Mandala berupa gambar tato dipergelangan tangan kanan si penculik langsung mengarahkan detektif untuk menyelidiki diberbagai tempat.
...🌹🌹🌹...
Di suatu tempat yang sunyi, gelap, mengerikan, dan suasana yang sejuk karena dikelilingi oleh beberapa pohon kayu yang tinggi dan rindang. Sebuah rumah tunggal hanya berdiri tegak di atas tanah yang tepat terletak di tengah-tengah hutan. Ya rumah tersebut adalah lokasi penyekapan Ismalia yang diculik oleh anak buah Gino atas permintaan Sofia.
Sofia yang mendapat kabar bahwa rencana penculikan Ismalia telah berhasil akan segera dibawa ke tempat penyekapan. Du pemuda tersebut membopong Ismalia yang masih belum sadar karena pengaruh obat bius. Ismalia dibawa ke dalam sebuah kamar yang gelap hanya terdapat sebuah ranjang kecil, lemari usang, dan kursi.
Ismalia dibaringkan terlebih dahulu di ranjang kecil tersebut dengan kedua tangan dan kaki di ikat ditepi ranjang. Ketika sudah sadar barulah Ismalia akan diikat di kursi. Dua pemuda tersebut keluar dari kamar itu menemui Sofia yang sudah terlebih dahulu tiba di rumah tunggal ini.
"Tugas sudah dikerjakan, Tuan." ucap salah seorang pemuda tersebut.
"Bagus. Saya suka kerja kalian. Untuk bayaran tambahan dari saya akan saya transfer. Dan kalian jaga betul-betul jangan sampai gadis itu bisa bebas atau lari. Kerahkan teman kalian untuk menjaga disekeliling rumah ini." perintah Sofia.
"Baik, Tuan. Akan kami laksanakan." ucap serempak.
"Bagus. Besok saya akan ke sini lagi memantau gadis itu. Beritahu saya kalau gadis itu sudah sadarkan diri."
"Baik, Tuan."
"Hem..."
Sebelum pulang Sofia menyempatkan diri melihat Ismalia yang masih terbaring tidak sadarkan diri sama sekali. Sofia tersenyum senang semua rencana dan keinginannya akan segera terwujud.
"Begitu tak berdayanya dirimu gadis ingusan. Sangat disayangkan sekali, pernikahan kalian menjadi batal. Dan aku akan segera menggantikan dirimu. Hahaha...."
"Kamu memang sangat tidak cocok dengan Mandala apalagi kamu masih gadis ingusan. Dan lihatlah akibat kamu menentang Sofia. Sekarang kamu gak berdaya sama sekali."
"Baiklah, selamat menikmati gadis ingusan. Selamat menikmati kehidupanmu di tempat ini." ucap Sofia sambil mengelus wajah Ismalia.
Sofia akhirnya keluar dari kamar tersebut. Kembali pulang ke apartemen Gino. Seperti kesepakatannya ia akan terus melayani Gino apabila anak buahnya berhasil melakukan tugas menculik Ismalia. Kini ada enam orang yang menjaga rumah tersebut. Yang memiliki postur tubuh kekar, tegap, dan berotot. Tidak bisa diragukan lagi akan skillnya dalam beradu otot.
...🌹🌹🌹...
1 jam lamanya dalam perjalanan, mobil Mandala dan Nazir telah tiba di kediaman Vino. Rumah yang lumayan besar dengan pagar yang tinggi. Terdapat satpam yang berjaga membukakan pintu gerbang.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan." tanya pak satpam.
"Oh ada, mari silahkan masuk." ujar Pak Satpam membukakan pintu gerbang.
Mobil Mandala masuk menuju ke halaman rumah. Pak Satpam mengetuk pintu utama, keluar sang pembantu membukakan pintu.
"Ada apa, Pak?" tanya sang pembantu.
"Ini ada yang ingin bertemu dengan Tuan Vino. Katanya temannya."
Sang pembantu menoleh ke Mandala dan Nazir yang sudah turun dari mobil sedang berdiri tepat dibelakang Pak Satpam.
"Oh iya, sebentar ya. Saya panggilkan Tuan Vino. Mari silahkan masuk."
Mandala dan Nazir dipersilahkan masuk menunggu di kursi ruang tamu. Sedangkan Pak Satpam sudah kembali ke poskonya. Tak lama Vino dan sang pembantu dibelakangnya menuruni tangga menuju ruang tamu.
"Wahhh...ternyata kau Nazir. Apa kabar?" tanya Vino sembari memeluk Nazir.
"Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar? Kemana saja dirimu selama ini?"
"Eh...biasa lah pekerjaan lama."
"Oh ya, ini perkenalkan teman saya juga namanya Mandala. Dan Man ini Vino." ucap Vino memperkenalkan mereka.
"Hai, Mandala." ucap Mandala sembari berjabat tangan.
"Hai, Vino. Mari silahkan duduk." ucap Vino mempersilahkan duduk kembali.
Datang lah sang pembantu membawa nampan berisi minuman dan cemilan. Lalu pergi meninggalkan mereka kembali melanjutkan aktivitas dapur.
"Ada apa gerakan sampai jauh-jauh kemari, Naz?" tanya Vino sembari menyeruput teh.
"Kami ke sini memerlukan bantuanmu, Vin."
"Bantuan apa yang kamu perlukan?" tanya balik Vino.
"Begini..."
Nazir menjelaskan ke Vino tentang permasalahan yang mereka hadapi. Sehingga memerlukan bantuan Vino untuk melacak nomor yang tidak dikenal diponsel Ismalia.
"Apa kamu bisa melacak nomor itu?" tanya Nazir menunjukkan nomor tidak dikenal tersebut.
"In Syaa Allah, tapi soal melacak agak memerlukan waktu."
"Gak papa, yang penting kami memiliki petunjuk selanjutnya melalui nomor tersebut."
"Baiklah, akan aku coba. Kalau sudah mendapatkan info akan aku beritahu kalian."
"Baiklah, terima kasih Vin. Soalnya bayarannya kamu tenang saja."
"Eh, tidak perlu. Anggap saja aku ikutan membantu kalian. Dan Man kamu jangan sungkan untuk meminta pertolongan ku. Tenang saja aku orang yang mudah dipercaya. Betul tidak Naz." ucap Vino sambil ketawa.
"Hahaha....kamu bisa saja. Tapi ya memang benar kamu memang bisa diandalkan."
Mereka pun melanjutkan dengan obrolan yang lain. Setelah nomor tersebut bisa dilacak kapan terakhir aktif sekaligus lokasi terakhir. Bisa dengan mudah untuk pencarian mereka dimana Ismalia disekap. Nomor tersebut adalah nomor ponsel Sofia. Entah Sofia memang sengaja atau tidak ia tidak mengetahui bahwa nomor ponselnya yang satu ini bisa dilacak.
Sofia memiliki dua nomor ponsel. Satunya untuk berkaitan dengan pekerjaan dan teman-temannya. Sedangkan untuk satunya lagi untuk teman-teman malamnya. Akibat kecerobohannya ini akan menjadi petunjuk bagi Mandala untuk bisa menemukan Ismalia disekap.
...🌹🌹🌹...
Di dalam rumah ditengah hutan, Ismalia pelan-pelan membuka matanya. Kepalanya terasa sedikit pusing dan sakit. Ismalia memandangi sekitar gelap, kotor, dan sedikit berantakan. Ismalia hendak bangun namun tangan dan kakinya terikat ditepi sisi ranjang. Ismalia mencoba meronta dan membuka ikatan tersebut juga tidak bisa.
Krek
Suara pintu terbuka, muncul seorang pemuda berbadan besar, tinggi, tegap memakai pakaian kaos hitam masuk membawa sepiring makanan yang bisa dikatakan begitu jorok serta segelas air minum. Piring yang digunakan sepertinya sudah berkarat. Makanan yang dibawa cukup sederhana hanya nasi, telur, dan kecap saja.
"Ah, ternyata kamu sudah sadar gadis manis." ucap pemuda tersebut sembari meletakkan piring makan di meja kecil.
"Siapa kamu? Kenapa aku bisa ada disini? Apa mau mu?" tanya Ismalia sembari ketakutan.
"Kamu tidak perlu tau siapa aku. Yang pasti kamu menginginkan kamu membusuk di rumah usang ini. Hahahaha...." ucap pemuda tersebut sembari ketawa.
"Aku mohon jangan bunuh aku, tolong lepaskan. Aku mohon." ucap Ismalia memohon.
"Tidak semudah itu. Sudah kau nikmati saja." ucap pemuda tersebut mengubah posisi Ismalia menjadi terikat di kursi.
Setelah Ismalia terikat baik tangan dan kaki di kursi. Pemuda tersebut keluar meninggalkan Ismalia yang menangis ketakutan. Berdoa didalam hatinya, semoga ia bisa bebas dari tempat ini dan segera ditemukan. Ismalia menangis tersedu-sedu dengan pakaian pengantin yang masih melekat ditubuhnya. Tidak dengan jilbab dan riasan wajah yang sudah sedikit berantakan.
Beda halnya di apartemen Gino, Sofia tengah bersenang-senang menikmati kemenangannya dengan bermain bersama menghasil keringat hingga pagi. Begitu juga Gino begitu menikmati setiap goyangan nikmat Sofia. Sehingga keduanya sama-sama saling memuaskan.
...Bersambung......
Jangan lupa untuk like, vote, komen, subscribe, dan follow ya biar author tetap up walaupun cuma satu bab.