
Ronal yang menonton konferensi pers Raygan langsung tersenyum haru. Dia tidak menyangka jika Raygan akan melakukan hal senekat itu untuk membersihkan nama Naura. Bahkan dia rela di cap sebagai pembinor agar nama Naura kembali bersih.
"Inilah cinta yang sesungguhnya. Kau memang pantas mendapatkan Naura," gumam Ronal tersenyum haru.
Namun, tiba-tiba ponsel Ronal berbunyi sehingga membuat pandangannya teralih. Ronal mencoba mengambil ponselnya lalu menatap siapa yang mengangu acara santainya.
"Panti asuhan," batin Ronal ketika melihat jika yang menelponnya adalah pengurus panti asuhan tempat Naura di besarkan.
Berlahan Ronal menekan tombol hijau lalu meletakkan ponselnya di telinganya.
"Hallo, ada apa?" ucap Ronal dingin.
"Semalam ada kelurga Wilona yang datang ke sini untuk menanyai masa lalu Nyonya, Tuan," ucap pengurus panti asuhan.
"Apa kau mengatakan apa yang saya perintahkan?"
"Ia, Tuan. Saya hanya memberitau seperti yang tuan katakan,"
"Bagus! Jika Naura datang ke sana katakan kepadaku. Sudah waktunya dia tau semuanya,"
"Baik, Tuan. Tapi apakah tidak begitu cepat?"
"Tidak! Aku akan mengurus masalah itu,"
"Baik, Tuan," ucap pengurus panti asuhan itu mematikan sambungan teleponnya.
Setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan pemilik panti asuhan itu. Ronal berlahan mengotak atik ponselnya. Dia mencari nomor seseorang yang sengaja dia sembunyikan sejak dulu. Tidak banyak pikir Ronal langsung menekan tombol hijau hingga akhirnya pangilannya langsung tersambung.
"Hallo! Apa kau sudah melakukan semuanya?" ucap pria dengan suara sedikit serak dan terdengar begitu menyeramkan dari sebrang sana.
"Sudah, Tuan. Apa kita akan memberitaunya sekarang?"
"Ia! Sudah dua puluh lima tahun aku menantikan hal ini. Aku sudah sangat merindukannya,"
"Kapan tuan akan menemuinya?"
"Secepatnya. Aku akan mengabarimu secepatnya,"
"Lalu bagaimana dengan pria itu?"
"Aku percayakan kepadamu. Aku tau kau pasti bisa menjalankan tugasmu dengan baik,"
"Baik, Tuan," ucap Ronal patuh lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Naura! Sudah waktunya kau mendapatkan hadiah dari perjuanganmu selama ini," gumam Ronal sambil menitikkan air matanya.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Ronal keluar dari ruang kerjanya. Saat hendak mendekati ruang tamu dia mendengar keributan yang di ciptakan oleh istrinya. Dia melihat Rini sedang menangis dan mengumpat mengucapkan sumpah kepada Naura. Ronal dapat mendengar dengan jelas jika Rini mendoakan hal yang buruk kepada Naura.
"Ada apa ini?" ucap Ronal dingin karna sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan istrinya itu.
"Ada apa kau bilang? Tidak perlu bertanya kau pasti sudah tau apa alasannya," ucap Rini menatap Ronal penuh amarah.
Mendengar ucapan Rini, Ronal langsung menatap Elissa yang berada di samping Rini. Dia melihat kedaan Elissa yang sangat kacau. Bibirnya sedikit robek karna tamparan Gabryel. Kakinya di penuhi luka lembab karna pukulan Gabryel. Namun, bukannya merasa kasihan, Ronal malah tersenyum sinis.
Ronal langsung mengingat luka di tubuh Naura akibat pukulan Gabryel dulu. Namun, sekarang Naura sudah bahagia dan sekarang giliran Elissa yang mengantikannya. Dulu saat Naura yang mengalami hal itu hati Ronal sangatlah terluka. Karna dia sangat menyayangi Naura seperti putrinya sendiri.
Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karna dia juga menyayangi Gabryel putranya. Namun, lama kelamaan kelakuan Ronal semakin menjadi sehingga membuat Ronal semakin muak kepadanya. Apalagi melihat kelakuan Rini yang selalu menghina Naura. Dulu dia tidak bisa berbuat apa-apa karna dia masih terikat oleh Rini.
Ronal dulu adalah kepercayaan pembisnis besar. Namun, karna ada perperangan antara sesama pembisnis, sehingga membuat sebagian dari mereka tewas. Hanya beberapa dari mereka yang selamat. Ronal yang waktu itu di utus untuk pergi ke kota itu untuk mengerjakan sesuatu. Tidak sengaja bertemu dengan Rini.
Ronal yang sedang di masa penyamaran tidak sengaja membuat Rini terpesona akan ke tampanannya. Sehingga akhirnya mereka menikah dan memiliki satu putra yaitu Gabryel. Karna Rini adalah putri keluarga terpandang, dan semua harta yang mereka miliki saat ini adalah harta dari ayah Rini. Membuat Rini sombong dan berlaku seenaknya saja.
Ronal yang masih membutuhkan Rini untuk menyembunyikan identitas aslinya memilih untuk diam. Dia tidak bisa menentang Rini karna Rini pasti akan mengungkit semua harta yang di milikinya. Namun, sekarang semuanya akan segera berakhir. Ronal akan segera menyelesaikan tugasnya dan Rini tidak bisa lagi memperlakukan Ronal seenaknya lagi.
"Maksudmu apa? Kenapa kau selalu membela wanita mandul itu. Lihat sekarang di depanmu ada menatumu. Menantu yang akan memberikan keturunan untuk keluarga kita," ucap Rini menatap tajam Ronal.
"Cukup! Naura punya nama. Jadi berhenti menyebutnya dengan nama hina itu," ucap Ronal menatap tajam Rini.
"Apa yang aku katakan adalah kebenaran. Jadi, kenapa kau marah seperti itu?"
"Kau tidak tau apapun. Bahkan kau tidak tau sedikitpun tentang Naura,"
"Aku tau segalanya. Naura adalah anak yatim piatu yang rela menjual dirinya demi harta. Atau jangan-jangan kau juga salah satu dari mereka?"
"Cukup!" teriak Ronal tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia mengangkat tangannya dan hampir menapar Rini di depan Elissa.
"Sekarang kau mulai berani melawanku ya? Apa kau lupa,"
"Ya! Aku tidak lupa. Bahkan aku sangat ingat dengan jelas di memori otakku. Semua ini adalah milik keluargamu," teriak Ronal langsung memotong ucapan Rini.
Mendengar ucapan Ronal, Rini langsung terdiam tanpa kata. Dia menatap Ronal dengan penuh rasa tidak percaya. Selama mereka menikah Ronal tidak pernah meningikan suaranya kepada Rini. Namun, kali ini Ronal tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Sekarang katakan kau mau apa?" ucap Ronal menatap tajam Rini.
"Kita bicarakan ini nanti. Elissa datang ke sini untuk mencari ketenangan. Bukan untuk menyaksikan pertengkaran kita," ucap Rini menunduk ketakutan melihat tatapan Ronal yang sangat mengerikan.
Mendengar ucapan Rini, Ronal langsung membuang napasnya kasar. Dia menatap Elissa yang diam di belakang Rini dengan tatapan penuh kebencian. Dia membenci Elissa karna Elissa terus mengusik kehidupan Naura. Terlebih lagi dia sangat tidak suka wanita ular seperti Elissa menikah dengan putranya. Melihat tatapan Ronal, Elissa hanya diam menunduk. Dia tidak berani menatap wajah Ronal yang sangat mengerikan itu.
"Jangan sampai kalian mengusik kehidupan Naura lagi. Atau aku akan memberikan pelajaran yang tidak pernah kalian duga," ucap Ronal menatap tajam Elissa dan Rini lalu melangkahkan kakinya meningalkan kedua wanita ular itu.
"Ma!" ucap Elissa lirih sambil mengengam tangan Rini karna takut dengan ancaman Elissa.
"Tidak apa-apa, Sayang. Papa sedang emosi makanya dia berkata seperti itu. Mama sangat kenal dengan papamu. Dia tidak akan berani macam-macam karna dia pasti tidak mau jadi gelandangan," ucap Rini tersenyum.
"Ini semua karna Naura, Ma. Bukan hanya hubunganku dengan Gabryel. Tapi juga papa dan mama," ucap Elissa memancing Rini.
"Kau tenang saja. Mama akan memberi pelajaran kepadanya. Kali ini dia akan pergi untuk selamanya,"
"Maksud mama,"
"Kita akan melenyapkannya,"
Bersambung