Sistem Melayani Suami

Sistem Melayani Suami
Part 29


Sebagai sesama pengusaha Raygan juga mendapatkan undangan dari keluarga Patrick. Dia menatap lekat undangan itu sambil berpikir seorang diri.


"Permisi, Tuan." ucap Mbara memecahkan lamunan Raygan.


"Apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku suruh?" ucap Raygan menatap Mbara.


"Sudah, Tuan. Aku sudah mengumpulkannya semua di sini." ucap Mbara memberikan sebuah dokument kepada Raygan.


"Naura dulu adalah anak panti asuhan. Dia bertemu dengan Raygan ketika dia bekerja menjadi OB di perusahaan keluarga Partrick. Naura menikah dengan Gabriyel karna Gabryel pernah melecehkannya saat Naura sedang membersihkan ruangannya di malam hari. Karna kepergok oleh penjaga malam Gabryel akhirnya memilih untuk menikahi Naura sebagai bentuk tangung jawab." ucap Mbara menjelaskan informasi yang dia dapat.


"Tapi, setelah menikah Naura selalu di siksa oleh Gabryel. Bahkan dia sering melakukan kekerasan pada Naura. Ini adalah hasil visum Naura uang saya dapatkan dari dokter yang menangani Naura saat dia ingin mengakhiri hidupnya. Terdapat luka yang cukup parah pada tubuh Naura karna siksaan Gabryel. Bahkan Gabryel juga telah menghianati Naura dengan cara menikah dengan Elissa secara diam-diam." jelas Mbara kembali.


Melihat semua perjalanan hidup Naura yang penuh penderitaan, Raygan langsung merasa iba kepadanya. Dia tidak menyangka jika wanita sebaik Naura bisa mengalami penderitaan yang cukup besar.


"Tapi, saya menemukan sebuah kejangalan, Tuan." ucap Mbara kembali.


"Apa?" ucap Raygan terus membaca dokumen yang di berikan Mbara.


"Pada saat sidang perceraian Naura menolak harta gono-gini yang di berikan Gabryel. Dari informasi yang saya dapatkan jika selama menikah dengan Gabryel Naura tidak pernah bekerja sama sekali. Dia juga tidak memiliki harta apapun yang dia miliki." ucap Mbara.


"Lalu?" ucap Raygan menghentikan aksinya lalu menatap Mbara dengan lekat.


"Tapi, setelah keluar dari kediaman Gabryel dia langsung membeli apartement yang dia tempati saat ini. Bahkan setelah sidang perceraiannya dengan Gabryel dia juga membeli restoran itu secara kontan. Bahkan dia merenovasi restoran itu dan mengembangkannya dengan cepat." ucap Mbara.


"Karna penasaran dari mana Naura mendapatkan uang sebanyak itu dalam sekejab saya telah merentas ponsel milik Naura. Di sana aku menemukan sebuah aplikasi yang sangat aneh. Bahkan aku sebelumnya belum pernah melihat aplikasi itu sebelumnya. Bahkan aku sedang mencari tau siapa mencipta aplikasi itu dan kenapa Naura menginstal aplikasi itu." ucap Mabara dengan serius.


"Aplikasi?" gumam Raygan nampak berpikir.


"Apa tuan tau?"


"Tidak! Tapi, sepertinya aku pernah mendengar ada seseorang yang menceritakan tentang aplikasi misi." gumam Raygan seperti pernah mendengar aplikasi aneh itu.


"Sekarang tugasmu mencari tau tentang aplikasi itu. Pastikan aplikasi itu tidak akan berdampak buruk kepada Naura." ucap Raygan khawatir jika aplikasi itu akan membawa dampak buruk kepada Naura.


"Baik, Tuan." ucap Mbara menunduk patuh.


"Eh! Apa kau pernah mengajak seorang wanita berkencang?" ucap Raygan secara tiba-tiba sehingga membuat Mbara langsung menatapnya bingung.


"Kenapa, Tuan? Apa tuan ingin mengajak seorang wanita untuk berkencang?" ucap Mbara menatap serius Raygan.


"Ia! Tapi, aku tidak tau bagaimana caranya. Apa kau pernah melakukan itu?"


"Em! Sayangnya tidak." ucap Mbara santai.


Mendengar ucapan Mbara, Raygan langsung berdecak kesal. Dia menatap asistennya itu penuh kekesalan.


"Dasar kau! Tidak berguna." ucap Raygan kesal.


"Apa tuan ingin mengajak Naura ke pesta pernikahan Gabryel?"


"Hem! Tapi, bagaiamana caranya?"


"Itu mah gampang, Tuan. Tuan tingal pergi ke restroran Naura lalu temui dia secara langsung."


"Lalu?"


"Itu masalahnya."


"Masalah apa, Tuan."


"Aku tidak ada keberanian untuk mengatakannya." ucap Raygan terkekeh kecil.


"Sama! Aku juga tidak berani melakukan itu kepada adikmu." ucap Mbara memelas.


"Apa?" ucap Raygan menatap tajam Mbara.


"Tidak apa-apa, Tuan." ucap Mbara memukul mulutnya pelan.


"Siang, Kak." ucap Icha main nyelonong saja.


"Siang! Tumben kau menemui kakakmu ini?" ucap Raygan tersenyum manis.


"Em! Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bicara berdua dengan kakak." ucap Icha mulai menjalankan rencananya dengan Yulia untuk menjodohkan Raygan dengan Naura.


"Ada apa? Sepertinya ada yang serius." ucap Raygan menatap lekat Icha.


"Nanti malam kakak datang ke apartementku ya. AC kamarku lagi rusak. Jadi aku tidak bisa membenarkannya." ucap Icha mencari alasan.


"Jika ACmu rusak kenapa harus memangil kakak. Kau pangil saja tukang servis." ucap Raygan kesal.


"Kakak! Datang ke apartementku ya. Sebentar saja." ucap Icha kehabisan akal.


"Ada apa?" ucap Raygan menatap Icha dengan tatapan penuh selidik.


"Begini kak. Sebentar lagi'kan pernikahan si pria brengsek itu. Pasti kakak di undang'kan." ucap Icha manatap undangan pernikahan Gabryel di meja Raygan.


"Ia! Terus."


"Aku mau kakak mengajak Kak Naura untuk pergi bersama. Aku mau lihat bagaimana reaksi kedua nenek lampir itu ketika melihat Kak Naura pergi ke sana bersama pria hebat seperti kakak." ucap Icha.


"Aku sangat ingin melihat mereka malu sendiri kak. Mereka selalu menghina Kak Naura dengan mengatakan dia akan menjanda seumur hidup." ucap Icha memasang wajah sedihnya.


"Hiks... Kakak mau ya. Nanti kakak datang ke apartementku. Biar aku yang membujuk Kak Naura agar mau pergi bersama kakak. Plisss." ucap Icha penuh permohonan sambil menitikkan air matanya.


Melihat Icha yang memohon kepadanya Raygan langsung merasa tidak tega. Lagian ini adalah kesempatan emas untuknya.


"Baiklah! Kakak akan datang ke apartementmu." ucap Raygan tersenyum.


"Yaech! Terima kasih kak. Kakak adalah kakak terbaikku." ucap Icha bersorak ria lalu memeluk Raygan dengan erat.


"Aku tunggu ya, Kak. Aku perbaiki kata-kataku tadi. Bukan ke apartementku tapi, ke apartemen Kak Naura yang ada di sebelah apartementku. Dadah aku kembali ke rumah sakit dulu." ucap Icha melangkahkan kakinya meningalkan Raygan dan Mabara yang masih bengong.


"Jangan lupa. Jam delapan malam. Aku tunggu." ucap Icha menghentikan langkahnya lalu kembali melangkan kakinya.


"Dia tidak memperdulikanku?" gumam Mbara ketika melihat Icha tidak meliriknya sama sekali.


Bersambung.....