
Hari sudah begitu larut. Namun, Naura tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Dia melirik jam dinding yang kini telah menunjuk ke pukul satu dini hari. Naura berlahan menatap Icha yang telah tertidur pulas di sampingnya. Naura membuang napasnya kasar lalu duduk bersandar di atas ranjangnya.
Namun, tiba-tiba Naura menatap ponselnya yang berbunyi. Karna merasa penasaran siapa yang mengirim pesan kepadanya malam-malam seperti ini. Naura langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di meja samping ranjangnya. Naura mengerutkan keningnya binggung karna mendapat pesan dari aplikasi misi yang masih tersimpan di ponselnya.
"Aku tau kau sedang ada dalam masalah besar. Aku punya solusi untuk itu," guman Naura membaca pesan dari aplikasi itu.
Melihat pesan dari aplikasi itu, Naura langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia mencoba mencari nomor whatshap Raygan. Berlahan Naura membuang napasnya lega ketika melihat nomor whatshap Raygan yang masih online.
Naura memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada Raygan. Senyuman di wajah Naura tiba-tiba langsung mengembang, ketika pesannya langsung di balas oleh Raygan.
"apa kau belum tidur?" Naura.
^^^"belum! memangnya ada apa?" Raygan.^^^
"kenapa?" Naura.
^^^"Aku masih ada pekerjaan penting. Kau kenapa belum tidur?" Raygan.^^^
"Aku sedang tidak bisa tidur. Apa aku mengangumu?" Naura.
^^^"Tidak! Pekerjaanku baru saja selesai," Raygan.^^^
"Em! Apa kita bisa bicara sebentar?" Naura.
^^^"Tentu saja! Aku akan datang ke kamarmu," Raygan.^^^
Melihat pesan Raygan, Naura langsung tersenyum kecil. Dia merasa sangat tenang dan nyaman berada di sekitar Raygan. Bahkan dia juga bisa merasakan ada getaran aneh saat dia berada di dekat Raygan. Namun, Naura tidak pernah bisa mengerti getaran apa yang ada di dalam dirinya saat ini.
Tidak menunggu lama, dia melihat Raygan membuka pintu kamarnya. Tidak mau membuang-buang waktu Raygan langsung masuk ke kamar Naura dan Icha. Dia menatap Naura yang duduk bersandar di atas ranjang lalu, duduk di tepi ranjang tepat di samping Naura.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Raygan melirik Icha yang sudah tertidur lelap.
"Aku tidak bisa tidur," ucap Naura.
"Kenapa?"
"Aku sedang memikirkan siapa sebenarnya pencipta aplikasi itu,"
"Kau tidak perlu memikirkannya. Aku dan Mbara akan terus mencaritaunya,"
"Oh ia, aplikasi itu baru saja mengirim pesan kepadaku lagi," ucap Naura mengingat apa tujuannya menghubungi Raygan.
"Mana?" ucap Raygan menatap ponsel Naura.
"Lebih baik kita bicara di kamarku saja. Kasihan Icha, jika kita bicara di sini dia pasti tergangu," ucap Raygan memperbaiki selimut Icha.
"Baiklah!" ucap Naura langsung setuju sambil melirik ke arah Icha.
"Ayo!" ucap Raygan bangkit dari duduknya lalu menyuruh Naura untuk jalan terlebih dulu.
Raygan juga dengan sigap membuka pintu untuk Naura. Melihat perlakuan Raygan yang selalu memperhatikannya. Naura langsung tersenyum kecil lalu menatap Raygan dengan penuh rasa haru. Dia merasa sangat istimewa karna perlakuan Raygan yang selalu memperhatikannya. Sangat berbeda dengan Gabryel yang tidak pernah memperhatikannya sedikitpun.
Sesampainya di kamar Raygan. Raygan langsung duduk di tepi ranjang lalu menyuruh Naura duduk di sampingnya. Melihat perintah Raygan, Naura langsung menurut lalu duduk di samping Raygan.
"Apa boleh aku melihat pesan itu?" tanya Raygan menatap lekat Naura.
"boleh!" ucap Naura menganguk lalu mengotak atik ponselnya.
Raygan langsung saja meletakkan tangannya di belakang pungung Naura, lalu mendekatkan wajahnya ke Naura. Dia menatap ponsel Naura sehingga tanpa dia sadari jarak mereka kini sangat dekat. Melihat jarak mereka yang sangat dekat, tiba-tiba Naura merasakan aura yang berbeda.
Dia menatap wajah Raygan yang sangat dekat dengan wajahnya. Terlebih lagi wajah Raygan yang terlihat sangat tampan dari dekat. Berlahan Naura menelan ludahnya kasar sambil terdiam menatap pesona Raygan.
"Kenapa kau diam?" tanya Raygan sambil menatap Naura binggung.
"Tidak apa-apa!" ucap Naura gugup dengan tangannya yang sedikit gemetar.
Melihat tangan Naura yang berkeringat. Di tambah lagi wajahnya yang sedikit pucat membuat Raygan langsung menyadari sesuatu.
"Maaf!" ucap Raygan berlahan menjauh.
"Aku mengerti," ucap Raygan tersenyum sambil menatap Naura penuh rasa iba.
"Sekarang coba kau ajak aplikasi itu untuk berkomunikasi. Mana tau kita dapat sedikit imformasi dari sana," ucap Raygan kembali.
"Baiklah! Aku akan mencobanya," ucap Naura kembali membuka aplikasi itu.
"Maaf!" ucap Raygan kebali mendekatkan tubuhnya dengan Naura tapi tidak sedekat tadi.
"Coba kau tanyakan apa solusinya," ucap Raygan membaca pesan terakhir dari aplikasi itu.
"Baiklah," ucap Naura menganguk.
"Aku mengalami masalah yang sangat berat. Bahkan sangat berat, sehingga aku mulai lelah untuk menghadapinya." Naura.
^^^"Aku punya solusi yang sangat baik untukmu. Bahkan bukan hanya saat ini. Tapi juga untuk kehidupanmu selanjutnya,"'^^^
Melihat pesan dari aplikasi itu, Naura dan Raygan langsung saling bertatapan. Raygan takut jika ketakutan terbesarnya terjadi. Dimana aplikasi itu akan membawa pengaruh buruk kepada Naura.
"*Apa?" Naura.
^^^"Bukalah hatimu kepada pria yang selalu ada di sampingmu. Yang selalu membantumu, dan selalu mementingkan kebahagiaanmu," ^^^
"Jangan aneh! Apa masih ada pria seperti itu di jaman sekarang?" Naura.
^^^"Tentu saja ada! Bahkan dia selalu berada di sampingmu. Selalu menghawatirkan dirimu, dan juga selalu melakukan apapun untukmu,"^^^
" Selalu ada di sampingku?" Naura
^^^"'Ia, Disampingmu. Dia sangat mencintaimu. Aku yakin kau akan bahagia bila hidup bersamanya,"^^^
"Siapa pria itu?"
^^^"Putra Wilona*,"^^^
Setelah membaca pesan itu Naura langsung menatap lekat Raygan. Sedangkan Raygan hanya diam tidak bisa berkutik. Dia diam menunduk tidak berani menatap wajah Naura.
"Apa benar, Ray?" tanya Naura lirih sambil berusaha menahan air matanya.
Mendengar pertanyaan Naura, Raygan berlahan menganguk pelan. Dia menatap netra mata Naura sambil berusaha menyentuh tangan Naura.
"Maafkan aku! Maafkan aku karna selama ini aku mencintaimu dalam diam," ucap Raygan menatap Naura dengan mata berkaca-kaca.
Raygan tidak tau harus berkata apapun lagi saat ini. Dia tidak tau harus sedih atau senang saat ini. Namun, yang paling pasti Raygan sangat takut saat ini. Dia taku Naura akan menjauhinya setelah dia mengetahui perasaannya selama ini.
"Kau tidak salah! Cinta memang datang tanpa kita ketahui," ucap Naura menunduk.
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Apa kau mau membuka hatimu kepadaku? Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku akan melakukan apapu untukmu. Aku akan mengobati semua luka yang ada di hatimu," ucap Raygan mengengam tangan Naura.
"Aku tidak butuh janji, Ray. Yang aku butuhkan adalah bukti," ucap Nuara menatap lekat netra mata Raygan.
Namun, saat mereka saling bertatapan tiba-tiba ponsel Naura kembali berbunyi. Aplikasi itu memberikan pesan kepada Naura lagi.
^^^"Masih ada satu hal yang harus kau cari tau,"^^^
"*Apa?" Naura.
^^^"Masa lalumu, orang tuamu*,"^^^
Bersambung....
******