Sistem Kebangkitan

Sistem Kebangkitan
Hukuman Karena Ketahuan Mengintip


Ketika sampai di Mansion, Bryan dan Gerry menjadi yang pertama datang disusul Nayla, Eve dan Gladis, lalu yang terakhir datang adalah Monica dan Elena. Hugo tidak kembali ke Mansion karena banyak yang harus dia urus di markas.


Di dalam Mansion semua orang berkumpul di ruang keluarga untuk melepaskan rasa lelah setelah hari ini sibuk beraktivitas. Berkumpul di ruang keluarga Elena dan Monica menceritakan apa yang seharian ini mereka alami di rumah sakit, termasuk kejadian di parkiran rumah sakit saat mereka ingin pulang.


Bryan jelas mendengarkan cerita mereka, dan dia sangat puas dengan apa yang mereka lakukan pada dua pria pengganggu. Untuk Zeis yang dalam keadaan kritis, Bryan sama sekali tidak peduli dengan keadaan pria itu.


Dia bahkan merasa lebih senang jika pria itu mati. Meski nama rumah sakit keluarganya akan sedikit tercemar dengan kejadian yang menimpa Zeis, tapi setelah semua orang tahu siapa Zeis yang sebenarnya, pasti lebih banyak yang senang mendengar kabar Zeis.


Sedangkan Nayla, Eve dan Gladis, mereka hari ini bekerja dengan tenang dan tak ada kejadian khusus yang perlu diceritakan.


“Besok akhir pekan, apa tidak ada yang ingin pergi berlibur?” Bryan bertanya pada semua orang.


“Aku sangat ingin berlibur, sayang, bagaimana kalau besok kita pergi ke pantai sekalian melihat keadaan anak-anak panti? Sudah lama kita tidak melihat keadaan mereka.” Eve mengutarakan keinginannya. Bryan setuju-setuju saja dengan itu begitu juga dengan yang lainnya. Jadi sudah diputuskan mereka besok pergi berlibur ke pantai sambil melihat anak-anak panti.


...----------------...


Selesai mandi hal yang pertama Bryan lakukan adalah memakai pakaiannya. Selesai memakai pakaian lengkap dia bermaksud keluar kamar untuk berkumpul dengan yang lainnya, tapi tiba-tiba Elena masuk ke dalam kamarnya dengan pakaian malam yang cukup tipis. Bahkan di balik pakaian Elena, Bryan tidak melihat adanya pakaian dalam penutup dua bukit kembar yang seketika menarik perhatian kedua matanya.


“Na, kenapa malam yang dingin ini kamu memakai pakaian tipis? Apa tidak dingin?” Bryan mengambilkan jaket untuk Elena, tapi wanita itu menolaknya dan lebih memilih duduk di tepian ranjang.


“Bryan aku sengaja memakai pakaian ini untukmu, apa kamu tidak suka aku memakai ini untukmu?” Elena bertanya, sedangkan Bryan merasa ada seseorang yang menyuruh Elena berpenampilan seperti saat ini.


“Sebagai pria normal jelas aku menyukainya, tapi apa kamu tidak takut aku melakukan sesuatu padamu? Malam ini kamu bisa kehilangan semua jika masih di tempat ini!” ungkap Bryan.


Dengan tenang, Elena tersenyum. “Kalau kamu ingin, kamu bisa melakukan apapun padaku! Aku sama sekali tidak takut, aku justru senang kalau kamu mau melakukannya denganku malam ini juga,” ucap Elena sembari menyunggingkan senyuman di wajahnya.


“Apa kamu langsung ingin melihat apa yang ada di balik pakaianku? Kalau kamu ingin aku tidak keberatan membukanya.” Perlahan Elena mulai melepaskan kancing pakaiannya mulai dari kancing teratas.


Bryan melihat apa yang sedang dilakukan Elena. Dia ingin mencegah Elena melakukan itu, tapi entah kenapa jiwanya yang merupakan seorang pria menginginkan Elena melanjutkan apa yang sedang dia lakukan, kalau perlu terus melakukan itu sampai seluruh pakaiannya terbuka.


Tiga kancing pakaian Elena telah terbuka. Kedua mata Bryan yang terbuka lebar bisa melihat bukit kembar Elena yang sangat mulus tapi belum seluruh permukaan buktinya terlihat. Masih ada bagian pakaian yang menutupi keindahan bukit kembarnya, dan itu cukup menghalangi pemandangan mata Bryan.


Detik berikutnya Elena membuka seluruh kancing pakaiannya dan begitu saja melepaskan pakaian, dan hanya menyisakan celana pendek yang menjadi pertahanan terakhirnya.


“Apa aku perlu membukanya yang ini juga?” Tangan kiri Elena mencoba menutup bukit kembarnya, sedangkan tangan kanannya dia gunakan menunjuk celananya sendiri.


Melihat kearah dua bukit kembar Elena dan beralih ke arah yang ditunjuk jari wanita itu, Bryan tiba-tiba saja mengalami kesulitan menelan air liurnya yang memenuhi rongga mulutnya sendiri. Dengan susah payah dia menelan air liur, tapi pandangannya tak pernah teralihkan dari keindahan di hadapannya.


Sedangkan Elena yang dilihat Bryan, wajahnya sudah memerah sedari tadi, dan dia sendiri bingit darimana datangnya keberanian melakukan semua ini di hadapan Bryan. “Kenapa cuma dilihat? Kalau kamu ingin menyentuhnya aku tidak akan melarang. Sentuh jika ingin menyentuh, dan aku akan membuka ini jika kamu ingin melihatnya!”


Tak menunggu balasan Bryan perlahan Elena membuka celananya menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya masih berada di tempat yang sama. Saat celana pendek Elena turun dan nyangkut di lutut, buru-buru Elena menutupi bagian yang ditumbuhi bulu-bulu halushalus, dan dengan bergantian menggerakkan kedua kaki celananya akhirnya jatuh ke lantai.


Bryan semakin sulit mengalihkan pandangannya dari Elena begitu kedua matanya melihat penampilan wanita itu saat ini. Tak lagi ada kain yang menutupi tubuhnya, tapi ada dua tangan yang menutupi area paling sensitif di tubuh seorang wanita.


Tak tahan dengan keindahan pemandangan di hadapannya, puas melihat berikutnya Bryan melangkah maju dan langsung saja dia mendekap tubuh polos Elena ke dalam pelukannya. “Kalau malam ini kita melakukannya, besok kamu tidak akan leluasa saat ikut pergi ke pantai, atau mungkin besok kamu akan benar-benar tidak bisa pergi meninggalkan kamar ini,” bisik Bryan.


Sementara itu, Elena yang mendengar jelas bisikan Bryan, dia sedikit banyak sudah mengetahui akibat melakukan itu untuk pertama kalinya dari Nayla dan Eve, yang mana keduanya pernah melakukan semua itu dengan Bryan. Awalnya dia akan merasakan kesakitan, tapi rasa sakit itu tak berlangsung lama sebelum rasa nikmat yang dirasakannya. Namun, rasa nikmat di malam hari harus dibayar saat bangun pagi.


“Aku sudah tahu apa yang akan terjadi pada diriku, dan aku benar-benar tidak masalah jika malam ini kamu ingin melakukannya! Aku menjaga semua ini untukmu. Meski aku pernah hidup satu atap dengan pria karena sebuah kebohongan, dia sama sekali tak mendapatkan izin dariku menyentuh tubuh ini!” ungkap Elena berterus-terang.


Bryan yang mendengarnya kemudian sedikit mengendurkan pelukannya dan mengarahkan pandangannya pada wajah cantik Elena. “Lupakan apa yang terjadi di masa lalu! Sejak kamu tinggal di tempat ini, sejak saat itu kamu hanya milikku dan tak ada pria lain yang berhak memiliki kamu selain aku!”


Elena menganggukkan kepalanya, dia sama sekali tidak keberatan dengan apa yang diucapkan Bryan. “Aku memang hanya milikmu sejak dulu dan sampai kapanpun, dan malam ini aku ingin menyempurnakan hubungan diantara kita! Sayang, ambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu, dan biarkan aku menjadi wanitamu seutuhnya!”


Ingin rasanya menolak tapi Bryan sudah tak lagi mampu menahan godaan dari keindahan di hadapannya, dan lagi di bawah sana miliknya sudah mengeras siap melakukan pertarungan berdarah serta penuh keringan dengan Elena.


Membiarkan keinginan sebagai seorang pria mengendalikan tubuhnya, Bryan mulai menciun kening Elena, lanjut ke kedua pipi, hidung, dan setelahnya ciumannya cukup lama terhenti di bibir ranum Elena yang terasa manis. Bukan hanya bibirnya yang sedang bekerja, tapi tangan Bryan juga sedang melakukan tugasnya begitu juga dengan tangan Elena.


Jika tangan Bryan sedang menjamah setiap inci tubuh Bryan, kedua tangan Elena sedang melucuti satu persatu pakaian Bryan.


Merasa suasana kamar semakin panas meski suhu udara sebenarnya sangat dingin, Bryan yang tubuhnya sudah sama polosnya dengan tubuh Elena, dia bergerak cepat menggendong Elena, dan dengan gerakan lembut dia menidurkan tubuh Elena di atas tempat tidur.


Di sisi lain ekspresi wajah Elena di penuhi keterkejutan saat dia melihat belalai gajah Bryan yang berada di depan. Besar, panjang dan berotot, Elena kesulitan menelan ludah melihat itu. ‘Apa itu muat di milikku yang begitu kecil?’ Elena bicara dalam hati.


Dia pernah mengukur seberapa lebar miliknya, jelas itu sangat sempit tapi juga elastis.


Bryan tentu saja tahu keterkejutan yang dialami Elena. Dia hanya tersenyum dan sekali lagi dia mengagumi keindahan tubuh Elena. Dari ujung kepala sampai ujung kaki semua indah dipandang, dan sekarang sampai kapanpun semua itu adalah miliknya seorang.


Sama-sama tak tahan, keduanya segera saling tindih dan pertarungan berdarah pun segera dimulai. Awalnya terdengar suara pekikan karena sakit keluar dari mulut Elena, tapi tak lama pekikan kesakitan berganti menjadi erangan dan ******* karena rasa nikmat yang baru pertama kali dia rasakan.


Beruntung kamar Bryan memiliki lapisan kedap suara yang tebal sehingga orang luar tidak dapan mendengar suara keras yang berasal dari dalam kamar.


Namun keduanya melupakan sesuatu, mereka sama-sama lupa mengunci pintu, dan saat ini ada dua wanita yang tersenyum melihat pemandangan di kamar Bryan. Mereka adalah Nayla dan Eve yang diam-diam mengintip adegan panas di kamar Bryan.


“Ideku berhasil. Lihat, pria mana yang tahan dengan keindahan tubuh saudari Elena saat dia berpakaian tipis dan tanpa memakai pakaian dalam! Aku saja sebagai wanita sedikit iri dengan keindahan tubuhnya,” ungkap Nayla dengan pandang fokus melihat milik Bryan yang terus keluar masuk di milik Elena.


“Apa kamu tidak pernah mengaca? Penampilanmu tak kalah dari Elena, dan kalian memiliki kelebihan masing-masing termasuk aku.” Eve bicara pelan di dekat telinga Nayla.


“Hehehe... tentu saja aku tahu apa saja kelebihanku, kelebihanmu, kelebihan Elena, serta satu lagi kelebihan satu-satunya dari kita yang masih seorang gadis.” Gadis yang Nayla maksud dalah Monica.


Saat keduanya asik berbisik di depan pintu, terdengar suara erangan panjang dari dua orang di atas ranjang, tapi tiba-tiba saja Bryan menoleh melihat ke arah mereka. Melihat itu keduanya seketika terkejut dan tanpa membuang waktu mereka kabur meninggalkan kamar Bryan.


“Dasar dua wanita nakal! Berani mengintip artinya mereka siap menerima hukuman dariku!”


Melihat Elena sudah kelelahan sementara dirinya merasa baru selesai melakukan pemanasan, tak ingin membuat Elena semakin lelah, Bryan tahu siapa malam ini yang akan memberinya kepuasan.


“Anggap saja ini hukuman karena mengintip!”


...----------------...


Bersambung.