
"sudah lama tidak bertemu gita." Ucap pria tampan yang masuk dengan langkah besarnya.
"Pak dito." Ucap gita. Senyuman yang tadinya bertengger manis kini serentak turun berubah menjadi wajah cemas bercampur kalut.
Mulut gadis itu bagai terkunci, bibirnya bergetar saking takutnya. Tak kuasa ia menatap wajah yang ia sendiri tak tahu bagaimana ekspresinya. Langkah pria itu semakin terdengar mendekat. Deru nafas panjang pria itu terdengar dingin. Gita gemetar hebat menahan air mata yang hampir tumpah. Dengan kuat ia meremas selimut bergaris garis yang ia pakai.
"Jangan takut. Aku disini tidak akan marah padamu." Ucap pak dito dengan suara rendah.
Namun itu bukan jaminan jika lelaki itu sudah tidak berbisa. Lelaki itu bisa saja menghabisinya kapan saja. Apalagi disini tak ada orang lain lagi selain mereka.
"Aku berjanji tak akan menyakitimu gita. Asalkan kau mau bekerjasama denganku." Ujar pria itu lembut.
Gita hanya menatap kuyu laki-laki dengan kemeja rapi dan potongan rambut yang sudah berbeda. Pak dito tampak lebih muda dan segar di banding sebelum-sebelumnya. Gita hampir saja tak mengenali pria di hadapannya.
"Ma-maafkan saya pak." Ucap gita lirih.
Drap.. drap.. drap..
"Maaf? Maafmu tidak akan bisa menggantikan semua kerugian yang aku derita gita. Katakan padaku, sejak kapan kalian bersekongkol?" Ucap pak dito penuh penekanan. Kini dirinya sudah berada tepat di samping gita.
"Tidak pak. Ampun. Hiksss.. hikss.. maafkan saya." lirih gita. Ia sudah tak lagi mampu berkata-kata.
"Kubilang maafmu tak akan mampu menggantik semua kerugian yang kau perbuat bersama kelompok begundal kecilmu itu. Kau sudah membakar kedua rumahku beserta istriku yang masih ada di dalamnya. Kau dan kelompokmu juga sudah menghabisi bi minah bukan?" Cecar dito dengan intensitas yang tinggi.
"Membakar rumah? Bu sandra? Tapi pak.. tapi.." sanggah gita.
"Sudah cukup gita. Kau sudah tak bisa lagi berkelit. Semua bukti ada di tanganku. Sekarang pilihannya, kau mau jujur dan menunjukkan dimana sekarang si b*ngs*t hadi itu atau... atau kau mau di penjara untuk waktu yang sangat lama?" Ucap dito sembari memegang dagu gita.
"Tapi pak, aku benar-benar nggak tau kemana mereka. Bahkan aku nggak tau jika ada insiden kebakaran... Aku.." sanggah gita kembali.
"Jika kau tetap bungkam, akan ku pastikan kau akan membusuk di penjara!" Gertak pak dito.
"Setelah ini, ikutlah denganku." Sambung dito singkat.
...****************...
Waktu berjalan begitu cepat semenjak insiden di malam itu. Kini gita sudah hidup lebih layak di banding dengan kehidupan lamanya. Adiknya pun sudah sehat kembali. Kendati demikian, gita selalu mewanti wanti agar tetap merahasiakan semua yang terjadi tempo hari. Apalagi setelah dia menjadi tangan kanan pak dito saat ini. Kesalahan kecil saja bisa menjadi hal yang fatal.
"Mbok, gita tinggal berangkat kerja dulu ya." Ucap gita pada simboknya yang tengah duduk di teras di pagi hari.
"Iya nduk, kamu mau berangkat sekarang? Nggak nunggu siangan aja?" Tanya simbok dengan wajah bahagia.
"Nanti kalau udah selesai rumahnya, gita pasti pulang lagi kesini. Gita janji." Sambung gita setelah melihat ada urat sedih di tatapan simboknya.
"Terimakasih ya nduk. Rumah kita bisa bagus begini semua berkat kamu. Simbok nggak bisa bales apa-apa." Ujar simbok tertunduk.
"Udah mbok nggak apa-apa. Oh iya, nanti ada mobil perabotan datang mbok. Bawa kulkas sama lemari. Nanti di atur aja mau di taruh mana. Udah gita bayar semuanya." Jawab gita semakin membuat simboknya geleng-geleng kepala. Dahinya mengernyit terheran-heran.
Baru saja kerja selama satu tahun tapi sanggup merenovasi rumah secara total. Belum lagi perabotan-perabotan rumah tangga yang terhitung cukup mewah. Jangankan simboknya sendiri, tetangga-tetangga samping rumah pun sampai terheran-heran dengan gita. Tentu tak sedikit selentingan miring keluar dari mulut tetangga yang memang sepertinya sudah hal lumrah terjadi dimanapun.
"Tenang kok mbok. Ini semua gita nyicil kok sama bos gita. Gita nggak macem-macem kok. Gita juga nggak mungkin jual diri kaya omongan tetangga-tetangga kita." Ujar gita setelah melihat keraguan di wajah simboknya. Ia terpaksa sedikit berbohong.
"Yasudah nduk. Simbok hanya takut kamu terjerumus sama yang enggak-enggak."
"Gita bisa jaga diri kok mbok. Gita berangkat dulu ya." Ucap gita segera berlalu pergi menuju mobil barunya.
Mobil berwarna merah dengan plat nomor yang masih belum di pasang. Kilauan cat mobil saat terkena cahaya matahari membuat silau setiap pasang mata yang iri dengan kesuksesan gita. Namun, hal itu tak kantas membuat gita bahagia. Ada hal lain yang selalu mengganggu gita.
.... Drrrttt...Drrrtt Drrrttt...
Halo
Nyonya, nyonya jadi pulang hari ini?
Ya, jadi. Kenapa pak feri?
Nggak apa-apa, ini tuan minta saya jemput nyonya sekarang.
Saya bawa mobil sendiri kok pak. Saya akan segera pulang.
Tiiitttt...
"Hiksss... Hiksss.. Kenapa nasibku harus seperti ini. Tuhan, apakah yang aku lakukan ini sudah benar??" Gita bermonolog.
"Aku bodoh!! Sungguh bodoh!!!"
"Mbok maafin gita mbok.. maafin gita.. hikss.. hikss.." ratap gadis muda itu di sepanjang jalan desa yang terlihat lenggang.
Terlihat mata itu begitu sayu memandang jalanan. Airmata menitik perlahan membasahi pipi putihnya. Bibir merah itu terus bergetar menahan tangis yang hampir tumpah. Di sepanjang jalan, wanita itu terus terisak sembari mengelus-elus lembut perutnya sendiri.
TAMAT