Sesat : Teror!

Sesat : Teror!
Tamu Tak Diundang


Di tengah kegelapan yang kian menyisakan ketakutan. Wanita itu tengah berjalan berjuang untuk hidup. Aneh memang terasa. Kebun liar yang gita yakini tak begitu luas, nyatanya sanggup membuat dirinya hanya berputar-putar tak tentu arah lebih dari 5 jam nonstop. Di tambah lagi, semakin ia berjalan semakin tersesat pula dirinya.


Hanya airmata yang selalu menemaninya mengitari tempat asing yang terasa pekat. Udara yang terasa semakin lembab membuat dingin kian terasa. Pelukan pada sang bayi pun ia rapatkan kembali. Wajah kecil itu nampak sangat menikmati mimpinya sendiri. Gita sekali lagi terduduk dengan pasrah. Kakinya sudah tak mampu lagi melangkah. Semua terasa sia-sia belaka. Mau minta tolong pun, suaranya tercekat hanya sampai di tenggorokan saja. Hingga tak di sangka...


Samar dari kejauhan sebuah titik yang menyilaukan. Melihat itu, gita kembali bangkit. Harapan yang hampir pupus hilang kini menyala berkobar kembali meski hanya setitik. Kakinya sudah terasa bergetar hebat karena saking lelahnya. Takdir itu semakin terlihat jelas tergambar seiring waktu berjalan. Mendekati perlahan gadis yang sudah lemas itu. Kemilau itu semakin menyilaukan. Dan..


"Woy sini woy?! Sudah ketemu! Disini!!" Teriak laki-laki paruh baya yang tengah menyorot gita yang meringkuk di samping pohon karet yang sudah lapuk.


Tak berapa lama, beberapa laki-laki datang berbondong-bondong ke arahnya. Gadis muda itu nampak linglung. Gita kali ini mencoba untuk tidak melawan. Tubuhnya terlalu letih bahkan hanya untuk bertanya. Tak berselang lama, tubuh gadis manis itu akhirnya ambruk di atas tandu.


Para lelaki yang serempak memakai baju oranye itu langsung sigap melihat kondisi gita. Tabung dan selang di pasang bergantian sembari terus meneruskan perjalanan ke daerah yang lebih strategis. Mata gita sejenak melihat kabur ke arah enam pemuda yang membawa dirinya di atas tandu. Wajahnya terlihat lega karena merasa ini sudah berakhir.


"Nduk, bangun. Ini mbok yem. Eladalah, pingsan ternyata. kasihan banget to yo kamu nduk." Ujar suara yang tak begitu asing tengah berdiri di samping gita.


"Mbok.." jawab gita lirih.


"Iya nduk. Iya. Sudah kamu istirahat dulu." Sahut mbok yem menahan gita yang hendak bangkit.


"Iya mbok.. eh.. rindu mana mbok? Itu anak kecil yang tadi tak bawa. Dia baik-baik aja kan mbok?" Ujar gita setelah teringat dengan anak mbak rida yang di titipkan padanya.


"Rindu? Rindu apa to nduk? Terus bayi apa? Wong kamu tadi di temuin sendirian kok." Jawab mbok yem santai.


"Husshhh!! Kamu ini ngelantur. Mana mungkin itu anaknya rida. Apa kamu sudah ketemu sama rida?" Jawab mbok yem memalingkan wajahnya. Ekspresinya terlihat gundah.


"Rida.... dia sudah di temukan di dekat sungai di belakang rumah besar itu tiga hari yang lalu. Sekarang dia sama si hadi. Dan bayinya, Alhamdulillah selamat. Tapi, pas anaknya lahir, kamu kan posisi sudah di nyatakan hilang gita. mana mungkin tau anaknya rida lahir." Bisik mbok yem lirih.


"Tidak mungkin mbok! Tiga hari? Aku baru saja ketemu mbak rida tadi." Sangkal gita.


"Kamu sudah hilang semenjak tiga hari yang lalu nduk. Sekarang permisi, mbok yem mau pergi sebentar. Nanti simbok kesini lagi yo." Ucap mbok yem setelah rombongan tiba di salah satu polindes.


"Mbokk.. aku..." Tiba-tiba mata gita kembali berkunang-kunang. Tubuhnya menggigil tapi bukan karena dingin. Giginya bahkan sampai terdengar gemeratak karena saling beradu. Pandangannya kembali kabur. Gita mencoba terus menunggangi kesadaran akan dirinya sendiri.


Singkat waktu, akhirnya gita di bawa ke sebuah bangunan sederhana yang terlihat masih baru. Disana rupanya sudah ramai orang. Gita melihat semuanya meskipun hanya nampak siluet samar-samar. Tabung dan selang masih berseliweran saling menopang kesadaran gita. Disana rupanya gita di oper lagi ke rumah sakit yang lebih besar karena keterbatasan alat. Gadis itu segera di larikan ke rumah sakit karena di duga menderita hipotermia sehingga mengakibatkan halusinasi yang cukup parah.


...****************...


Senja bertumpuk menghiasi mega. Gemuruh berlari dari arah selatan membawa awan hitam yang menggelegar. Kilatan demi kilatan sahut menyahut menciptakan pertunjukan cahaya yang bergema.


Di ranjang putih bermotif garis-garis, gita sudah kembali sadar dari pingsannya yang terjadi berulang-ulang. Seutas selang bening menancap di pergelangan tangan kirinya. Gadis muda itu nampak linglung dengan keadaannya sendiri. Hingga tiba-tiba sebuah sosok muncul dari balik pintu ruangan. Segaris senyuman manis menghiasi wajah gita.


"Sudah lama tidak bertemu, gita."