
(Sementara itu beralih di rumah sang dukun...)
"Bodoh! Apa yang kamu lakukan!" Teriak bi minah lantang sesaat setelah dito menghantam bagian belakang kepala sandra, istrinya sendiri.
"Diam! Dan ikuti kataku! Atau akan aku lubangi kepala picikmu itu!" Gertak dito dengan wajah dingin. Aura buas kini penuh menghiasi wajahnya.
"Bukankah, yang kau butuhkan sekarang itu wanita yang sedang hamil?" Sambung dito.
"Ya, lalu?" Tanya bi minah keheranan.
"Hahaha.. cepat lakukan sekarang bi. Sandra, saat ini sedang hamil. Lihatlah.." sahut dito sembari melempar benda kecil yang terselip di saku bajunya.
"Kau gila! Kau ingin mengorbankan istri dan janin yang merupakan anakmu sendiri demi Nindya? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu?!" Bentak bi minah yang sudah lama menganggap sandra sebagai anak kandungnya sendiri. Kini ia berdiri di depan sandra seakan melindunginya dari murka dito.
"Sudah tak ada ampun untuk wanita j*lang ini. Selama ini, aku selalu menahan luka saat harga diriku selalu di injak-injak. Aku bertahan bukan karena hartanya bi. Bukan! Namun, hanya karena aku cinta padanya dan yakin jika hati keras sandra suatu saat akan berubah. Dan saat-saat manis itu sempat terjadi saat kehadiran nindya. Aku melihat kebahagiaan rumah tangga di sela-sela luka yang selalu ia gores terus menerus."
"Keyakinan yang membawaku pada kehancuran." Ucap dito menatap penuh kebencian.
"Apa maksudmu?" Ucap bi minah seraya meraba-raba benda di sekitarnya yang bisa di jadikan senjata secara diam-diam. Ia tau betul, dito merupakan orang yang sangat berbahaya.
"Dua bulan belakangan ini, aku mencurigai ada yang berbeda dari Sandra. Jika memang caci maki kasar, itu aku anggap sudah makanan sehari-hari bagiku. Tapi kali ini berbeda. Ada sesuatu yang lain dari dirinya. Hati kecilku bergejolak. Hingga akhirnya, aku mencoba selalu menyempatkan diri mengikutinya secara diam-diam. Dan..." Ucap dito tertahan.
"Dia ternyata sudah berhubungan dengan orang lain. Dan yang di kandungannya ini bukanlah anakku. Aku sudah tak peduli lagi dengan mereka berdua. Aku memang sudah terlanjur sering di tipu. Begitu bodohnya aku yang sangat mudah di bohongi." Sambung dito berjalan mendekati bi minah yang sudah gemetaran di pojok ruangan.
Sementara itu wanita dengan rambut yang sudah putih lepek itu hanya bisa terpojok sembari memegang gunting kecil untuk pertahanan terakhirnya. Sebuah senjata yang membuat dito hanya semakin menertawainya. Tangan tua itu sudah sangat gemetar hebat. ia tak bisa melawan dengan apapun kali ini, bulan purnama merah merupakan satu kelemahan besar untuk ilmu hitamnya.
"Mundur dito! Atau aku.." ancam bi minah.
"Atau apa bi? Bukankah kau sangat ingin melakukan ritualmu? Sekarang lakukanlah. Hahahaha. kau tidak bisa bukan?! Bulan yang terlihat merah mencekam itu memudarkan semua kekuatanmu. Kau sekarang ini hanya wanita tua biasa! Hahaha." Ancaman itu untuk dito sama sekali tak terpengaruh.
"Kalian berdua sama-sama munafik! Haaaaaaa!!" Bentak dito kali ini dengan suara tinggi.
Arrrghhhh... Grrrkkkk... Grrrkkk..
"Ah.. waktunya sangat tepat. Kemarilah anak-anak. Makan malam kalian sudah siap." Ucap dito santai.
Tiba-tiba, suasana menjadi dingin seketika. Hening terasa semakin mencekam. Sebuah kepulan asap hitam berpadu berputar dalam satu arus. Bau busuk seketika menyeruak dalam satu ruangan.
Aaaarrrgggghhhhhhkkk... Ggrrrkkk.. ggrrkkk..
Asap yang sedari berputar-putar dalam ruangan kini mulai berbentuk sedikit demi sedikit. Asap itu mulai berubah menjadi pocong dengan ukuran seperti anak-anak. Wajah mereka semua hancur. Wajah pocong itu di penuhi borok yang di hiasi belatung yang seukuran beras. belatung itu banyak memenuhi wajah hitam legam mereka. Bau anyir amis serta seperti bangkai busuk menguar semakin kuat. Lidah mereka serempak satu persatu terjulur panjang hingga liur mereka menyapu lantai di bawahnya. Mereka terlihat amat sangat kelaparan.
"Habisi dia!" Ucap dito singkat.