
Di malam sebelumnya..
Jam 16:32
"Apa mereka sudah pergi dari sana mbok?" Tanya pak hadi dengan wajah risau.
"Anak itu sih sudah SMS simbok tadi. Tapi simbok juga nggak tau sudah apa belum. Apa mau di mulai sekarang saja di?" Tanya simbok dengan wajah serius.
"Baik mbok." Sahut pak hadi dengan mantap.
Kemudian mbok yem dengan tertatih, bergegas naik ke lantai atas dan membuka paksa kamar yang sedari dulu tak pernah di buka oleh seorangpun. Kamar yang terletak tepat di ujung dari kamar pak dito.
Sementara itu pak hadi dengan sesegera mungkin mengambil motor bututnya dan segera bergegas pergi ke tempat yang sudah di janjikan. Rasa rindu yang menggebu menjadi penyemangat tersendiri untuk pria paruh baya berkumis lebat itu.
"Setelah ini, akan ku bawa simbok dan rida pergi jauh dari sini. Tentu b*jing*n itu tak akan membiarkan aku hidup jika mengetahui aku mengacaukan rencananya." Batin hadi berkecamuk.
Dengan penuh tenaga, pria itu menggeber motor tuanya membelah jalanan desa yang cukup ramai. Perjalanan panjang yang akan ia lalui demi bisa mencapai kata bahagia.
Kembali lagi di rumah besar..
Brrrakk!!
"Akhirnya terbuka!.. hmmm bau apa ini.. Astaghfirullah... Dasar manusia berhati iblis!!." Sontak mbok yem berteriak begitu kencang. Beliau sampai jatuh terduduk saking kagetnya.
Bau semerbak kemenyan, dupa dan bau busuk bersatu menembus penciuman mbok yem seketika. Di hadapannya kini sudah terpampang sebuah jasad yang sudah mengering sempurna. Berwarna hitam legam dengan bau yang tak karuan. Sosok yang sudah di bungkus pocong itu tergantung di tengah ruangan. Hal yang hampir saja membuat mbok yem jantungan karena saking terkejutnya.
"Aku harus secepatnya cari jimat sialan itu." Ucap mbok yem yang sedikit bergidik tatkala harus melewati pocong yang tergantung aneh itu.
Matanya terus mengawasi setiap sudut ruangan yang di penuhi oleh benda-benda yang tak lazim itu. mbok yem kemudian menyalakan beberapa lilin karena di rasa cukup sulit melihat dengan kondisi gelap gulita. Hingga akhirnya setelah sedikit mencari, bahkan mbom yem harus merangkak di bawah meja, tak sia-sia usahanya. Akhirnya mbok yem menemukan buntelan putih yang di bungkus cukup rapi. Buntelan dengan bau melati yang sangat pekat.
Hihihihihi... Hihihihihi...
Tiba-tiba suara tertawa terdengar lirih. Mbok yem harus menelan ludahnya sendiri. Keringat sebesar biji jagung keluar begitu saja dari dahi dan pipinya. Sudah tidak salah lagi, itu pasti jelmaan dari yani. Kuntilanak buntung!!
"Yani.. ini aku yani.. aku Siyem, sahabatmu. Aku kesini ingin membantumu yani. Supaya kamu bisa pergi dengan tenang." Ujar mbok yem lirih.
Hihihihihi... Jlaaappp..
Di ruangan yang hanya di terangi lilin itu, terlihat samar sebuah sosok dengan kepala yang menghadap ke belakang namun badannya menghadap ke depan. Bau amis darah tiba-tiba menyeruak. Bukannya takut, Mbok yem malah menangis lirih melihat kondisi yani seperti itu. Nampak airmata mengalir deras di pipi keriputnya.
"Yani.. ya Allah, sadar yani.. ini aku Siyem." Ucap mbok yem mencoba mendekati sosok dengan darah bagai air mancur itu.
Tiba-tiba tangan setan itu memutar 180° kepalanya. Kini kepala yang sudah hampir putus itu menghadap ke arah mbok yem. Wajah yang hancur itu perlahan memudar. Berganti rupa dengan rupa cantik yang kini ikut menitikkan airmata.
"Siyem." Suara besar menggema terdengar jelas.
"Sudah, hentikan semua yani. Pergilah dengan tenang. Lupakan semua dendammu dengan dito. Asal kau tau, dendam kesumatmu itulah yang di gunakan dito untuk memanfaatkanmu. Dia dengan licik memanfaatkan dirimu untuk kepentingannya sendiri." Terang mbok yem.
"Lihatlah ini yani." Ucap mbok yem.
"Setelah ini, akan ku pastikan badanmu akan segera di kubur secara layak yani.. aku mohon bantu aku."
Dengan cepat mbok yem membuka buntelan itu dengan kasar. Gumpalan tanah langsung berhamburan tak tentu arah. Ada secuil rambut dan beberapa tali pocong yang sudah terlihat kumuh. Tanpa basa-basi, mbok yem langsung membakar rambut beserta bunga yang sudah terlihat mengering.
Whooossshhh...
"Te-terima.... kasih.. Siyem."
Perlahan sosok yang sedari tadi mematung itu makin pudar seiring masa. Wajah yang penuh amarah itu kini perlahan sudah menjadi lebih sejuk. Mata mbok yem berbinar melihat kepergian sahabatnya yang perlahan terdistraksi menjadi debu. Ada secuil rasa kebanggaan dari hatinya. Hal yang ia sudah tunggu semenjak dari lama.
Wanita gempal itu kemudian keluar dari ruangan untuk segera pergi secepat mungkin. Sesuatu yang dia dan pak hadi lakukan, merupakan hal yang bisa membuat pak dito murka. Jika memilih tetap bertahan, bisa di pastikan jika mereka akan membayar dengan harga mahal. Bahkan bisa nyawa mereka sendiri bisa terancam hanya dengan jentikan jari pak dito saja. Wanita dengan tubuh gempal itu nampak tergopoh-gopoh keluar dari kamar itu, namun tiba-tiba..
Bruaakkk... Ckllkekkk..
(Suara pintu di tutup dan di kunci dengan cepat)
Belum sempat mbok yem melihat apa yang terjadi dan siapa yang mengunci pintu, tiba-tiba..
Dooorrrr!!!!! Dorrrr**!!!
Dua letupan senjata api menggema ke segala penjuru ruangan. Tubuh yang sudah mulai sepuh itu ambruk tak berdaya tatkala dua timah panas bersarang tepat di bahu dan perut sebelah kirinya. Dar*h menggenang di lantai yang tertutup karpet. Tubuh itu mulai menggelepar mencoba bertahan untuk tetap bisa sadar.
"Ternyata benar dugaanku. Kau memang sudah merencanakan semua ini dengan pak hadi. Asal kalian tau, aku sudah mengawasi kalian sejak dari lama. Seharusnya kalian bisa berfikir jernih sebelum melakukan perbuatan yang sia-sia seperti ini. Hahaha.." kelakar totok. Pria yang terlihat pendiam itu ternyata sama kejinya dengan majikannya.
Tubuh mbok yem semakin terlihat melemah, nafasnya sendiri mulai terdengar tersengal-sengal. Matanya samar melihat siluet pria yang perlahan berjalan mendekatinya. Derap tapak kaki dari sepatunya bagaikan sebuah pertanda jika ajal sebentar lagi akan tiba untuknya. Namun, wanita itu sepertinya belum menyerah. Ia bangkit dengan kaki yang gemetaran menahan perih. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, ia mencoba merebut, mencakar, memukul pria yang beberapa saat lalu menembak dirinya membabi-buta.
Syyyuuuutttt.. cting.. cting...
Usaha yang ala kadarnya dari seseorang yang sudah di ambang maut. Akhirnya harus mengalah oleh sebuah ayunan balasan dari seorang yang punya lebih banyak tenaga darinya.
Bruuukkkk...
"Dasar wanita bodoh!" Sebuah tendangan keras di perut, membuat mbok yem harus terjungkal ke belakang. Hingga tak sengaja menyenggol lilin yang masih berpendar.
Hingga tak berapa lama, sebuah moncong senjata yang masih hangat terasa menempel tepat di kening wanita yang baru saja tersungkur. Dan..
Dorrrr!!!!
Kepala wanita bertubuh gempal itu pun meledak dengan seketika. Darah berhamburan menghiasi setiap sisi ruangan. Pecahan tengkoraknya bahkan terhambur hingga ke sekeliling ruangan. Pria itu kembali tersenyum dengan sinis tarkala melihat kepala yang sudah tak lagi berbentuk. Sementara itu, lilin yang tadi sempat terjatuh kini malah merembet dengan cepat membakar karpet, sprei san selimut yang sangat mudah terbakar. Totok mencoba memadamkannya namun usahanya malah makin menambah parah keadaan.
Saat hendak keluar dari pintu yang terkunci, tiba-tiba ingatan totok teralihkan. Ingatannya kembali beberapa saat yang lalu saat beradu tenaga dengan mbok yem. Saat dimana kunci yang ia kantongi terjatuh dan ia kemudian menendang mbok yem dengan keras. Wajah bengis itu seketika berubah menjadi pucat.
Di tengah kepungan api yang semakin membumbung tinggi, pria itu berusaha menggedor-gedor pintu di hadapannya dengan sekuat tenaga. Namun, bukankah semua itu malah menjadi hal yang sia-sia? Semua berlangsung perlahan dan menyakitkan. Tubuh totok sedikit demi sedikit terp*nggang hidup-hidup hingga akhirnya berbaur menjadi abu.