
Di sebuah kedai kopi yang terletak di jantung kota New York. Kedai itu sangat terkenal akan kopinya, kopi yang di panggang terlebih dahulu sebelum diolah dan disuguhkan langsung kepada pelanggan. Duduklah seorang wanita di sudut ruangan. Ia mengenakan dress hitam bergaya retro yang terlihat sangat mahal dari seorang perancang ternama. Hal itu bisa dipastikan dengan melihat bahan kain dan taburan Kristal Swarovski yang menghiasi kerah dress. Kacamata hitam masih bertengger di pangkal hidungnya menghiasi wajah cantiknya. Wanita itu sengaja
memesan meja yang posisinya tidak terlalu menarik perhatian orang dari pintu masuk. Meja yang terletak di sudut ruangan, dekat jendela kaca yang menghadap ke taman. Ia butuh privasi karena ia sedang menunggu seseorang.
Saat ini kedai tampak sepi. Hanya ada
sekitar lima pengunjung termasuk dirinya. Biasanya kedai ini ramai dengan para eksekutif muda yang datang sembari untuk
sarapan sebelum jam kerja dimulai. Yaahh…Mungkin itulah penyebabnya karena jam
kerja sudah dimulai sejak dua jam yang lalu.
Wanita itu menyesap kopinya yang
masih panas dengan perlahan. Ini cangkir keduanya. Sesekali ia melirik jam di
tangan. Lalu pandangannya dilemparkan ke pintu masuk kedai. Lagi dan lagi, tapi
orang yang di tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Shit!!! Kemana dia ? Dia pikir aku
tidak punya pekerjaan lain ? Awas saja kalau dia muncul !!! Gerutu wanita itu
tampak kesal.
Ia meraih tas tangan hitamnya. Lalu
mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas. Saat ia hendak menekan kontak di
ponsel, tiba-tiba seorang pria berjaket hitam dengan topi yang juga berwarna
hitam menghampirinya dengan cepat dan duduk di samping kursinya.
“ Hei, maafkan aku jika sudah lama
menunggu. Macet !” Ucap pria itu dengan entengnya.
“ Apa kau sudah gila ! Aku hampir
satu jam menunggumu disini. Ini cangkir kopiku yang kedua, dasar bodoh !!!
Wanita itu memarahinya.
“ Sstt…. Jangan kencang-kencang
marahnya. Aku kan sudah minta maaf. Sebaiknya kau simpan energimu untuk
rencanamu selanjutnya. Karena orang suruhanku telah berhasil memukul nyamuk
dalam sekali tepuk.” Bisik si pria lalu tersenyum sinis. Lalu ia mengeluarkan
sebuah ponsel dan menunjukkan sebuah video saat insiden Alena terjadi di tempat
shooting. “ Ambillah , ponsel itu sekarang milikmu.”
Wanita itu menerimanya kemudian
menghela nafas. Ia mengeluarkan sebuah amplop dari tas tangannya tadi ke atas
meja. Cukup tebal ukurannya.
“ Sesuai kesepakatan, sisanya akan
kuberikan setelah aku memastikan karir gadis tengik itu hancur dan Geralt
bertekuk lutut dikakiku. “ Lalu ia mendorong amplop tersebut kearah sang pria.
“ Katakan, apakah pekerjaanmu sudah dipastikan aman ? “ Tanya si wanita
kemudian.
“ Nona Livia kau seperti tidak hafal
saja cara kerjaku. Aku juga sudah membereskan suruhanku. Ia sudah tenang di
alam baka. Kau tak perlu khawatir, pekerjaanku sangat rapi. Gadis yang bernama Alena itu sudah menjadi si buruk
rupa sekarang. Kurasa takkan ada lagi pria yang akan memujanya atau yang mau
mengontraknya di film. Kau juga bisa lihat foto-foto yang ada di ponsel itu.”
Ujar si pria sedikit tersinggung.
Pria berjaket hitam itu kemudian
berdiri dari duduknya setelah memasukkan amplop kedalam saku bagian dalam jaket.
Sebelum beranjak pergi, ia kembali menatap Livia dengan senyum miring, lalu
mendekat dan berbisik di telinga Livia. “ Jika kau masih butuh orang untuk
pekerjaan kotormu, kau tahu kan harus mencari siapa.” Lalu berbalik pergi
meninggalkan Livia yang menatapnya dengan sinis.
*****
Di rumah sakit, di ruangan tempat Alena dirawat. Seorang pria tua berumur
sekitar awal 50 tahun-an menatap lekat wajah putrinya yang sudah lama tak
berjumpa. Pria itu berambut coklat seperti Alena namun sedikit pudar karena
usia. Matanyapun berwarna sama walau telah banyak bermunculan garis kerut di
sekitar mata itu, tapi tetap saja ia masih terlihat tampan. Setelan jas abu-abu yang dikenakan terlihat agak
kusut karena sejak dari bandara ia tak sempat pulang ke rumah untuk sekedar
berganti pakaian. Dengan tergesa ia datang ke rumah sakit ketika menerima
khabar buruk tentang Alena. Tas koper berukuran kecil itupun masih ia tenteng
di tangan sejak keluar dari bandara. Tampak sinar lelah bercampur cemas
tergambar di wajah pria itu.
Ayah Alena berdiri di depan pintu
sal. Kakinya belum juga melangkah masuk. Sorot mata tua itu sangat tajam.
Bibirnya terkatup, seperti ingin meneriakkan nama putrinya karena rindu tetapi hatinya masih terselip
kemarahan.
Sejak Alena memutuskan pergi dari
rumah 6 bulan lalu, komunikasi merekapun ikut terputus. Sifat Alena yang keras
kepala menurun dari sang ayah. Keinginan
Alena untuk berkarir sebagai aktris lebih besar ketimbang mengikuti keinginan
ayahnya agar Alena mengikuti jejaknya
sebagai dokter.
“ Alena !!! Tidak pernah ada
sejarahnya dalam keluarga kita menjadi aktris atau apalah itu namanya !” Bentak
Robert ayah Alena suatu hari. “ Turun temurun dari generasi ke generasi
“ Kalau begitu biarkan Alena yang
mengukir sejarah pertama kali dalam keluarga kita sebagai seorang aktris.
Sebagai pekerja seni Ayaah. !!! Balas Alena keras.
“ Tidak !!! Ayah tidak akan pernah
merestui pilihanmu itu Alena.”
“ Kenapa ayah ? Apa alasannya ?
Berikan Alena jawaban yang masuk akal.”
“ Cita-citamu itu tidak bisa menjamin
hidupmu nak. Suatu saat ketenaran akan hilang seiring waktu berjalan. Akan
bermunculan terus orang-orang baru yang akan menjadi bintang. Ayah tidak pernah
menghalangimu jika hanya sebagai selingan, sekedar hanya untuk mencari
pengalaman dan bersenang-senang. Didunia itu semua orang saling sikut, saling
menjatuhkan. Bersaing tidak sehat hanya demi sebuah popularitas. Ayah tak ingin
putri ayah menderita. Punya banyak musuh dan hidup dalam kepalsuan.” Ucap Ayah
dengan lembut.
“ Ayah, tidak semuanya seperti itu,
profesi apapun pasti ada sandungannya, ada yang menyukai dan membenci tidak
hanya menjadi aktris, ini tidak hanya sebuah pekerjaan tapi passionku ada disini.
“ Alena terdengar melemah saat mendengar alasan sang ayah. Ia berusaha membujuk
sang Ayah.
Alena menyadari tak ada orangtua yang
tidak sayang pada anak. Mereka hanya memikirkan kebaikan anak-anaknya. Walau kadang
pemikiran mereka terlalu berlebihan. Tapi itu semata-mata karena luapan kasih
sayang. Alena bertekad tetap akan mengejar impiannya. Apapun yang terjadi walau
tanpa restu orangtua. Walaupun harus angkat kaki dari rumah. Ia akan
membuktikan semua pemikiran ayahnya itu adalah salah.
Geralt menatap pria yang dipanggil
ayah oleh Alena. Senyum penuh hormat ia berikan kepadanya. “ Pak, silahkan
masuk. Saya akan menunggu di luar.” Kata
Geralt. Ia ingin memberikan privasi bagi
ayah dan anak itu. Saat Geralt hendak mulai melangkah, ayah Alena mengangkat tangan
kanannya mengarahkan kepada Geralt , seraya mengatakan bahwa ia boleh tetap
disini tak perlu pergi. Hal itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Geralt.
“ Ayaaah…. “ Alena memanggil ayahnya
dengan mata berkaca-kaca. “Alena sakit ayah….. Alena rindu sama ayah. “
Dokter Roberto menghambur memeluk
putrinya. Dengan tetesan airmata ia memandang wajah Alena. Diusapnya
bulir-bulir bening yang juga membasahi pipi putrinya. Keduanya saling melepas rindu setelah sekian
lama tak bertemu.
Diperiksanya kulit wajah dan lengan
Alena. Sebagai seorang dokter ia curiga alergi yang Alena derita bukan alergi
biasa. Tapi sesuai dengan informasi dari dokter Matthew , ia tetap harus
menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kecurigaan mereka.
Dokter Roberto menghela nafasnya
dengan berat. Hal yang paling ia takutkan terjadi pada putrinya . Jika
kecurigaannya benar , maka dapat dipastikan Alena terpapar racun sebuah tanaman
langka. Jika terkena racun itu, penderitanya tidak hanya merasa panas dan gatal
di sekujur tubuh tapi juga bisa masuk kedalam pembuluh darah dari jaringan
kulit lalu menghentikan kerja jantungnya dengan menghambat pasokan oksigen ke
jantung.. Racun itu sangat berbahaya jika tidak cepat di tangani. Untunglah
Alena bisa cepat diselamatkan. Tapi bekas alergi yang terdapat di kulit tidak
hanya menghitam tapi juga meninggalkan parut yang tidak akan bisa hilang selain
melakukan tindakan laser.
Geralt memperhatikan kedekatan antara
anak dan ayah tersebut hingga membuatnya terharu. Terlepas dari masalah apa
yang mereka punya, Geralt ikut merasakan keharuan itu. Teringat akan hubungannya
dengan ayahnya sendiri yang sangat jauh dari kata akur. Geralt dan ayahnya
selalu bertengkar dalam hal apapun tak pernah ada kata damai. Hal itu juga yang
membuatnya lebih nyaman tinggal di penthousenya sendiri daripada di mansion
keluarganya.
Alena memperkenalkan Geralt sebagai
kekasih pada dokter Roberto. Tak lama
kemudian ibunya Alena menyusul dan membawa banyak sekali makanan. Iya tahu
suaminya dan kekasih putrinya belum menyentuh makanan apapun sejak pagi. Sedangkan
Alena belum diizinkan untuk makan apapun selain dari yang disediakan rumah
sakit. Mereka terlihat akrab satu sama lain sambil menyantap makanan yang telah
dihidangkan diatas meja. Terlihat sesekali ibunya menyuapkan makanan ke dalam
mulut sang suami. Hari ini Alena merasa
bahagia karena bisa berkumpul kembali dengan kedua orangtuanya.
*****