SANG PENAKLUK

SANG PENAKLUK
Wanita Masa Lalu


6 bulan kemudian . Pukul 7 pagi waktu New York.


Alena tiba di pelataran parkir sebuah bangunan tua tempat shooting drama yang ia bintangi. Audi R8 merah miliknya terparkir rapi di bawah sebuah pohon berdaun oranye. Tak lama  kemudian seseorang mengetuk jendela mobil. Alena segera keluar dan tersenyum  menyapa salah satu kru film yang telah enam bulan ini ia kenal.


Tak terasa Alena telah disibukkan dengan perannya di serial drama yang telah tayang di TvG . Selain Geralt, Alena juga bermain dengan beberapa artis senior dan pendatang baru seperti dirinya. Keakraban diantara semua pemain dan kru tercipta dengan kebersamaan selama enam bulan layaknya keluarga baru bagi masing-masing orang. Terkadang mereka juga menginap di lokasi shooting,  karena PH memberikan fasilitas tempat tinggal bagi mereka. Cukup dekat dengan lokasi sehingga bisa berjalan kaki lima menit sudah bisa mencapainya.


“Jeff…ada apa kau mencariku ? “ Sapa Alena pada kru tersebut.


“Hai Al, sutradara menunggumu. Ini scrift yang harus kamu pelajari. Ada beberapa perubahan pada dialog. Kuharap kau bisa menyesuaikan.”


Alena menerima scrift, ada beberapa dialog yang diwarnai kuning. “Hmm… benar Jeff ini berubah. Ok aku pelajari setelah bertemu sutradara. Thanks ! “ Alena tersenyum.


“Ok Al, dia menunggumu. Lantai dua ruangan pintu biru sebelah kanan.” Jeff mengarahkan kemudian berlalu meninggalkan Alena.


\==================


Ditempat lain yang masih berada di area lokasi shooting. Di sebuah kamar tidur seluas 6x6 meter. Dua orang yaitu seorang pria dan seorang wanita tampak berdiri saling menatap di tengah ruangan. Sang pria menatap penuh kebencian, sedangkan yang wanita tampak kacau, memelas dan seperti menahan tangis.


“Beraninya kau datang kemari setelah apa yang kau perbuat !” Pria itu membentak.


“Geralt…aku mohon maafkan aku. Aku bersalah telah mengkhianatimu. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku masih mencintaimu.”


“Sayang sekali...huh. Aku malah membencimu.” Jawab Geralt sinis. Geralt mendengus sangat muak. Ia teringat masa disaat seluruh kepercayaan telah diberikan pada wanita itu, tapi dibalas dengan sebuah pengkhianatan.


“Hubungan kita sudah berakhir Livia, dulu aku memang mencintaimu tapi sekarang aku sudah mengganggapmu sebagai masa lalu. Hanya ada kebencian untukmu. Sebaiknya kau belajar melupakanku.”


“Tidaak….jangan minta aku melupakanmu Geralt. Aku masih tunanganmu. Sampai kapanpun aku tidak akan mengakhiri hubungan kita. Lebih baik aku mati.” Ancam wanita bernama Livia dengan berderaian air mata.


“Cukup Livia !!! Jangan mengancamku. Aku tidak perduli jika kematian adalah pilihanmu. Seharusnya kau bersyukur aku tidak mengangkat berita perselingkuhanmu ke media, karirmu bisa hancur. Pikirkan itu dan pergilah sekarang juga !” Perintah Geralt dengan mata berapi-api.


Livia menangis , ia menerjang Geralt dengan pukulan-pukulan di dada. Tapi Geralt tidak bergeming dari posisinya. Ia membiarkan Livia memuaskan hati dengan memukulinya. Sampai Livia berhenti sendiri dan menangis sesenggukan di dada Geralt sehingga membuat kemejanya basah.


Ada sedikit perasaan iba menyelimuti hati Geralt. Bagaimanapun pernah ada kisah cinta yang terjalin di antara mereka. Geralt pernah sangat mencintai Livia. Mereka sangat bahagia selama dua tahun hubungan itu, hingga akhirnya Livia terlibat cinta lokasi dengan pasangan bermainnya disebuah film. Secara diam-diam Livia mengkhianatinya. Geralt membongkar perselingkuhan Livia setelah menerima pesan ponsel dari nomor yang tak dikenal. Hatinya hancur saat melihat Livia dan actor tersebut sedang bercinta, bergumul di dalam kamar hotel. Ia tak kuat menyaksikan pemandangan itu.


Berbulan-bulan Geralt mengobati luka hatinya. Setiap malam ia pergi ke klub untuk mabuk-mabukan. Ia ingin melupakan kepedihan yang menyiksanya dengan minuman alkohol. Terkadang ia juga menghabiskan malam dengan jalang-jalang yang berkeliaran  di klub hanya sekedar untuk melupakan Livia. Sampai akhirnya Edric, sahabatnya yang selalu ada untuknya membantu ia bangkit dari keterpurukan.


“ Kenapa kau tak mau memberiku kesempatan ? Maafkanlah aku Geralt. Aku mohonjangan tinggalkan aku.” Livia  masih merengek di dada Geralt.


Geralt tersadar dari lamunannya. Kilasan masa lalunya bersama Livia langsung buyar. “Aku tak bisa Liv, hatiku bukan lagi untukmu. Demi hubungan masa lalu kita aku akan memaafkanmu. Tapi aku tak bisa melanjutkan hubungan kita.” Ujar Geralt pelan.


Livia memundurkan kakinya selangkah dari Geralt. Ia menatap mata Geralt. Dengan sisa tetesan airmatanya mengalir di pipi, Livia menelan salivanya dengan berat.


“Apakah …. Ada yang telah menggantikanku ?” Tanya livia dengan berat.


Geralt mengangguk pelan. Livia menundukkan kepala lalu menggelengkannya tak percaya. Airmatanya semakin deras, ia mengepalkan ke dua tangannya. Berusaha menahan jatuhnya airmata itu. Tapi semakin di tahan semakin deras. Ia terisak dan terlihat menyedihkan.


Di sisi Geralt, ia pun berusaha keras untuk menahan hatinya agar tidak memeluk Livia. Bagaimanapun juga ia tak tega melihat wanita menangis. Geralt telah bertekad untuk melupakan Livia.


“Aku tak percaya Geralt. Itu hanya alasanmu saja kan. Aku tak pernah melihatmu bersama seorang wanita baik-baik, kecuali jalang-jalang di klub malam.  Aku tahu kau masih mencintaiku.” Livia memaksakan argumennya.


Tok…tok..tok…


Kemudian terdengar suara knop pintu yang diputar.


Geralt membuka pintu dan terkejut saat melihat Alena di hadapannya. Begitupun Alena, ia tampak terkejut melihat Geralt. Ia berpikir telah salah mengetuk ruangan. Tapi jeff mengatakan ruangan pintu biru sebelah kanan, apa mungkin Jeff  salah mengarahkannya.


“Oh, maafkan aku, sepertinya aku salah ruangan. Seharusnya aku menemui Peter.” Alena merasa canggung di hadapan Geralt. Apalagi ia  melihat tak jauh dari mereka berdiri seorang wanita cantik mengenakan mini dress biru langit dan heels warna senada. Alena mengenalinya, bukankah ia juga seorang aktris ? Livia…. Benar itu namanya.


Batin Alena.


“Hei Al masuklah. Wanita ini akan segera pergi.  Dan oh’ya …..Livia, kenalkan ini Alena …kekasihku.” Geralt menarik tangan Alena lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Alena dari samping dengan posesif.


Alena sedikit bingung, tapi ia segera memahami situasi tersebut dan mengikuti permainan Geralt. Bukankah berakting adalah jiwanya. Ia tersenyum kearah Livia dan mengulurkan tangan seraya hendak berkenalan.


Geralt sempat sekilas memperhatikan sikap Alena yang mau membantunya, ia tersenyum sedikit. Ada rasa senang dalam hatinya karena Alena cukup peka dengan situasi ini.


Livia maju mendekati Alena dan menepiskan tangan Alena dengan kasar. Matanya tidak suka melihat Geralt memeluk pinggang gadis itu. Ia cemburu. Dihapusnya sisa airmata dipipinya dengan tangan.


“Kau pikir setelah aku tahu ini aku akan berhenti mengejar mu? Tidak Geralt. Aku tidak akan berhenti. “ Ujar Livia menatap Geralt dengan marah.


“Dan kau….” Livia mengalihkan tatapannya kepada Alena. “ Jalang sepertimu tidak pantas untuk Geralt. Jangan bermimpi terlalu tinggi. Cinta lokasi tidak akan pernah bertahan lama. Setelah drama kalian selesai hubungan kalianpun selesai. Kau hanya pemain baru yang naif .” Ujar livia sinis.


“Ohya…? Kau sepertinya sangat paham tentang hal-hal yang menyangkut cinta lokasi atau tentang ....perselingkuhan ?. Apakah kau juga pernah menjadi pemainnya ? “  Ejek Alena datar. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Ia sangat kesal dengan sikap Livia yang kasar.


Mata Livia melotot. Ia tersinggung dengan ucapan Alena. Tatapan penuh kebencian ia layangkan. Terpikir di benaknya apakah Geralt yang memberitahu gadis ini tentang perselingkuhannya. Tangannya siap untuk menyerang Alena.“ Beraninya kau jalang !!!” Teriaknya.


Geralt menangkap gerakan itu. Sebelum Livia berhasil menyentuh Alena, ia lebih dulu berhasil menghalanginya. Geralt berputar memeluk Alena dari depan. Dan membiarkan Livia memukuli punggungnya. Di saat Livia mengamuk di belakangnya, Geralt menatap Alena seakan mengatakan padanya bahwa ia akan melindunginya.


Alena membalas tatapan Geralt dengan tatapan khawatir. Ia melihat sesekali Geralt menahan sakit atas pukulan Livia yang bertubi-tubi dan seharusnya itu di arahkan kepadanya. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada hubungan mereka. Alena bertanya-tanya dalam hati. Selama ini berita yang beredar bahwa keduanya telah memutuskan pertunangan secara baik-baik dan meminta maaf kepada fans atas berita sedih tersebut. Tapi yang ada di hadapan Alena tidak sama dengan yang diberitakan. Mereka terlihat dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Geralt kemudian memutar badannya menghadap Livia dan dengan cepat menangkap tangan Livia yang mulai menyerang kembali. Ditariknya dengan kasar lalu menghempaskan Livia hingga tersungkur ke lantai. Geralt menatap Livia dengan tatapan marah yang luar biasa.


“Pergilah dari sini Liv, jangan pernah ganggu kehidupanku lagi !!!” Bentak Geralt  dengan tatapan membara.


Livia pelan-pelan bangkit dari jatuhnya, lalu menatap Geratl dan Alena bergantian. “Aku tidak akan pernah melupakan hari ini. “ Ucap Livia dengan tatapan benci. Lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu dengan luapan kemarahan.


Kelegaan terpancar dari wajah Geralt dan Alena. Mereka saling tatap dengan canggung. Ada perasaan bersalah di hati Geralt karena melibatkan Alena dalam masalah pribadinya.


“Thanks Al, dan sorry aku sudah melibatkanmu.” Ucap Geralt kemudian.


“It’s Ok. Sepertinya aku memang harus menolongmu. “ Alena terkekeh. “Oh ya kau tak perlu khawatir , aku takkan meminta kompensasi apapun.” Canda Alena lagi.


“Oh Alena jangan membuatku semakin malu. Tentu saja aku akan mentraktirmu sebagai kompensasi.  Hahaha…. Geralt  ikut tertawa. “ Ayo aku antar kau menemui Peter, ruangannya ada di lantai 3. “ Geralt menawarkan diri.


“ Oh iya...astaga aku hampir lupa tujuanku sendiri. Wah terima kasih banyak jika kau mau mengantarku, dengan senang hati aku menerimanya. “ Alena tersenyum menjawabnya. Mereka melangkah meninggalkan ruangan tersebut setelah Geralt menguncinya dan berjalan beriringan menaiki tangga ke lantai tiga.


\=============