SANG PENAKLUK

SANG PENAKLUK
Membangun Chemistry


“ Cut  cut  cut  !”  One more !!!


Peter terlihat kesal dengan adegan scene Alena dan Geralt. Berulang kali mereka diminta mengulangi dan ia tetap


merasa tidak puas dengannya.


“Cut cut cut !”


“ Sebaiknya kalian berdua istirahat. Dan kau Alena, aktingmu hari ini sangat buruk.  Ayolaaah….. usahakan terlihat natural. Jangan tegang seperti  itu.  “ Ujar Peter sang sutradara kemudian berlalu meninggalkan Alena yang tampak merasa tidak enak hati.


“ Hei….. minumlah ? “ Geralt memberikan sekaleng soft drink kepada Alena.


“ Thanks.” Ucap Alena dengan wajah yang dipaksakan tersenyum.


“ Jangan berkecil hati. Hal ini biasa terjadi, bukan hanya kau tapi aku juga sering mengalaminya.” Geralt mencoba


menenangkan.


“ Maaf… aku pasti sangat mengecewakan semuanya. “


“ Tidak ada yang kecewa Alena. Ini adalah adegan intim kita berdua yang pertama.  Tentu saja wajar jika kau merasa gugup. Setelah scene ini akan lebih banyak lagi scene yang mengharuskan kita beradegan intim Alena. Masalahnya adalah chemistry. Kita belum memilikinya.” Geralt tersenyum menambahkan lalu kembali menenggak kaleng soft drinknya.


Alena tertegun meresapi kata-kata Geralt. Ia mendesah pelan dan sesekali menutup matanya dengan perasaan yang tak menentu. Nafasnya  tertahan sesaat lalu ia lepaskan lagi. Itu terus yang ia lakukan beberapa kali. Berharap dengan begitu dapat mengusir kekalutan hatinya. Kebiasaan itu selalu muncul jika Alena merasa tegang. Bagaimana tidak tegang, adegan berciuman mereka tadi sungguh membuatnya tak nyaman. Menatap mata Geralt dalam jarak yang sangat dekat saja sudah membuat jantungnya mau meledak. Walaupun itu hanya berciuman tapi Alena belum pernah melakukannya sebelum ini.


Bagaimana dengan ayah dan ibunya , juga seluruh keluarganya ? Jika adegan intimnya nanti ditayangkan di televisi apa yang akan Ayah lakukan padanya ? Oh Tuhan membayangkannya saja Alena semakin resah. Ayahnya pasti akan semakin menentang pekerjaannya di dunia akting. Itu melanggar semua aturan yang ada di dalam keluarga besarnya.


Geralt melambaikan tangannya di depan wajah Alena. " Haloo... Alena , apa kau mendengar kata-kataku " tanyanya yang ternyata sedari tadi ia berbicara kepadanya. Alena tanpa sadar melamun.


Dipandanginya wajah Geralt, berusaha mengumpulkan kesadarannya dengan mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. Lalu menghembuskan nafasnya yang terasa berat.


" Apa yang kau pikirkan hm ? Ingin berbagi denganku ? " Tanya Geralt kemudian. Ia sedari tadi melihat wajah Alena yang terlihat resah. Kemudian meraih kursi lipat dan duduk berhadapan dengan Alena.


" Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah. " Elak Alena lalu menyesap soft drink ditangannya perlahan.


Otaknya terus berpikir bagaimana caranya ? Apa yang harus ia lakukan ? Ia harus menjadi aktris yang sukses. Berakting adalah impiannya. Sudah sejauh ini ia melangkah. Bagaimana mungkin harus berakhir hanya karena ketakutannya pada tanggapan keluarga besar Morreti . Bagimana mungkin ia merelakan impiannya begitu saja hanya karena ia merasa gugup beradegan intim dengan pasangan mainnya. Oh no way !!! Teriak hati Alena. Aku tak akan pernah menyerah pada ketakutanku sendiri. Aku akan melawannya. Aku akan bersikap profesional. Ini adalah konsekuensi yang harus aku terima. Berakting adalah jiwaku. Aku akan lakukan sebaik mungkin sekalipun harus menentang keluarga besar Morreti. Tekad Alena kembali kuat.


“ Geralt.... bagaimana caranya kita membangun chemistry dengan pasangan ? Aku sama sekali belum tahu caranya.“ Alena tiba-tiba bertanya , matanya menatap Geralt dengan lekat. .


“ Dan juga….. aku…., " Ucap Alena lagi dengan wajah tertunduk menghentikan ucapannya.


“ Aku…. Belum pernah berciuman Geralt. Karena itulah aku bingung. “ Alena menjelaskannya dengan wajah yang


merah padam seperti kepiting rebus. Tangannya meremas jemarinya dengan sangat kuat. Sesekali ia menengok kearah Geralt untuk melihat reaksi pria itu.


Geralt tercengang, merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Gadis seusia Alena belum pernah


berciuman dengan lawan jenis.  Ia teringat dengan dirinya , saat itu usianya 14 tahun dan telah melakukan hal itu


dengan teman sekelasnya, Jenie. Gadis berambut merah dengan wajah penuh bintik. Untuk remaja-remaja di negaranya hal-hal tersebut sudah biasa. Bahkan remaja perempuan tidak hanya berciuman tapi melepas keperawanannya sebelum menikah bukan lagi hal yang tabu. Malah menjadi kebanggaan untuk mereka.


“ Sungguh ? Jadi, adegan yang kita lakukan tadi adalah first kiss mu ?” Tanya Geralt tak percaya.


Alena mengangguk pelan. Tak disadarinya kalau hal itu membuat Geralt merasa bahagia karena ia menjadi yang


pertama bagi Alena. Padahal Alena pernah berandai-andai melakukan first kiss dengan pria yang ia cintai. Tapi malah ia berikan kepada pasangan mainnya demi tuntutan peran.


Geralt tersenyum miring. “ Ada aku…tenang saja. Tak usah khawatir. Ayo ikut !” Geralt mengulurkan tangannya.


Alena menyambut uluran tangan Geralt. Ia menuruti saja kemana kakinya dibawa. Sampailah disebuah taman dengan hamparan rumput yang menghijau kekuningan dan pemandangan bunga-bunga liar berwarna kuning, ungu dan merah.  Mereka berhenti di bawah pohon, disana terdapat sebuah kursi panjang terbuat dari kayu.  Geralt menuntunnya untuk duduk. Semilir angin mempermainkan helaian rambut Alena. Menampar lembut kulit wajahnya. Ia memejamkan mata menikmati sejuknya angin. Berangsur-angsur ketegangannya berkurang. Perasaan damai dan nyaman mendominasi hatinya. Bibirnya melengkung sedikit ke atas lalu perlahan matanya terbuka.


“ Geralt tempat ini indah….. Aku baru tahu ada tempat seperti ini disini. Padahal sudah berbulan-bulan kita shooting. Bodoh sekali aku karena tidak menyadarinya. “


“ Hmm….. iya sangat indah dan menenangkan. Aku telah datang beberapa kali kemari untuk bersantai. Dan


setelahnya aku merasa mendapat banyak energy positif. Menjadi lebih bersemangat.” Geralt berkata sambil tersenyum menatap Alena yang masih menikmati lembutnya semilir angin.


Tiba-tiba Alena bangkit dari kursi dan menarik tangan Geralt berlari ke hamparan rumput.


“ Ayo kita nikmati anginnya, jangan duduk saja !”


Geralt menurut berlari mengikuti Alena. Mereka tertawa dengan senang tanpa menyadari ada sepasang mata menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan jahat. Kemudian tampak sedang menghubungi seseorang


melalui ponselnya.


“ Hallo…. Lakukan sesuai rencana. Kali ini kau harus berhasil. Jangan mengecewakan aku. Kau mengerti !!!”


\=========================