
Hari ini merupakan hari kebahagiaan yang ditunggu-tunggu oleh Raka dan Launa. Setelah melewati drama panjang kali lebar selama satu bulan ini akhirnya Raka berhasil mempersunting Launa menjadi istrinya.
Di dalam ruangan yang bernuansa putih dibaluti dekor bunga mawar berwarna hijau sage. Disinilah Raka, Launa, Nenek Melati, Papa Rayhan dan Mama Siska berkumpul untuk menyaksikan acara akad nikah Raka dan Launa.
Raka terlihat tampan dengan pakaian baju pengantin pria berwarna merah khas Bangka Belitung, sesuai keinginan Launa yang ingin mengenakan pakaian asal daerah kedua orang tuanya. Raka yang duduk berhadapan langsung dengan Pak penghulu untuk menikahkan dirinya dengan Launa hari ini. Ia terlihat gugup dan tangannya terasa dingin saat menjabat tangan Pak penghulu.
"Nak Raka, bisa kita mulai ijab kabulnya?" tanya Pak Sino -- Penghulu akad nikahnya.
Raka mengangguk cepat atas perkataan Pak penghulu, ia menoleh sekilas ke arah Launa yang duduk di sebelahnya yang tersenyum tulus ke arah dirinya. Raka menoleh ke arah Nenek Melati yang memberi semangat dan tenang saat mengucapkan ijab kabulnya. Begitupula, Mama Siska dan Papa Rayhan yang ikut bahagia melihat anak semata wayangnya menikah dengan pria pilihannya.
"Baik, sebelumnya, dibawa biasa saja nak Raka. Jangan grogi dan gemetar seperti ini," ucap Pak Sino sedikit bercanda membuat Raka tersenyum canggung.
"Pria tampan dan mapan harus tenang. Dengan begitu, tidak salah menyebut ijab kaburnya." lanjut Pak Sino.
"Baik Pak." jawab Raka tersenyum.
"Baiklah, ikuti kata saya ya."
"Iya Pak." Raka pun mengikuti perkataan Pak Sino yang mengajarinya untuk mengucapkan ijab kabulnya.
"Saya nikahkan Launa binti Reyhan dengan mas kawin emas dan berlian serta seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap Raka dengan satu tarikan dan lantangnya membuat para saksi mengatakan sah.
Semua orang berdoa Alhamdulillah atas suksesnya acara ucap janji ijab kabulnya. Raka pun memasangkan dua cincin emas dan berlian dan jari manis kanan Launa. Begitupula Launa melakukan yang sama.
Launa mencium punggung tangan suaminya setelah ijab kabulnya selesai, status lajang Launa tergantikan menjadi istri sah Raka.
"Alhamdulillah, sekarang aku sudah menjadi istri Kak Raka. Semoga rumah tanggaku dan Raka menjadi Keluarga sakinah, mawadah dan warohmah." kata Launa dalam hati.
Raka mencium kening Launa dan ia membaca doa agar istrinya menjadi baik dan penurut. Ia tersenyum bahagia melihat wajah cantik Launa di hadapannya. Kini Ia dan Launa telah menjadi suami istri sah dimata hukum dan negara.
Setelah prosesi akad nikah selesai, Raka dan Launa berjalan menuju pelaminan rumah yang terletak di taman belakang rumah mewahnya yang luas dan asri.
Banyak tamu undang dari kalangan pengusaha sukses dan teman baik Launa dan teman kedua orang tuanya datang menghadap acara pernikahannya.
Acara pernikahan Raka dan Launa dilaksanakan di rumah mewah Raka saja. Rumah Launa sudah lama dijual dan Raka berjanji akan membuat rumah minimalis untuk kedua orang tua Launa di taman belakang rumahnya yang sangat luas dan mampu menampung 10 rumah sekaligus.
Setelah acara foto bersama setelah akad nikah, barulah Raka dan Launa untuk berganti pakaian pengantin dengan warna hijau sage. Di dalam kamar pengantin banyak fotografer mengambil foto pose pengantin berdua.
Tidak terasa, acara penyambutan pengantin dengan datangnya tamu undangan sudah jam 12.00 siang. Launa tampak menahan lapar sedari tadi. Ia ingin sekali mencicipi semua makanan mewah di acara pernikahannya. Tetapi, banyaknya tamu undangan yang tiada henti membuat Launa mengurungkan niatnya.
Raka yang mendengar perkataan Launa, apalagi wajah pucat Launa menahan lapar. Ia pun mengikuti keinginan Launa.
"Baiklah, ayo kita makan di dalam rumah saja. Masih banyak stok makan khusus untuk kita." sahut Raka lalu mengandeng tangan Launa agar mengikuti langkah kakinya menuruni tangga pelaminan. Sebelum itu Raka memberitahu Mama Siska yang berada di sebelahnya bahwa mereka ingin makan siang dan meminta bantuan untuk melayani tamu undangan.
Setelah langkah kaki Raka dan Launa telah sampai di dalam rumah. Lebih tepatnya di ruang dapur. Ia menyuruh Bibi Lesti -- Pelayan baru di rumahnya untuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan Launa.
"Kita duduk di kursi makan saja. Biarkan saja, lipstikmu luntur. Aku telah menyewa MUA Artis selama seharian untuk acara nikahan kita selama pagi sampai malam." Raka mengalihkan pandangannya dari Launa menuju ke arah dua pelayan yang membawa makanan untuk disajikan di atas meja.
"Mari kita makan." ajak Raka dan Launa mengangguk mengiyakan perkataan Raka.
Raka dan Launa makan siang bersama dengan pakaian pengantinnya. Setelah mengisi perutnya, Raka dan Launa pergi ke dalam kamar pengantinnya untuk berganti pakaian pengantin berwarna putih.
Launa didandani oleh MUA pengantin lagi agar make up tidak luntur. Ia menatap dirinya di pantulan cermin. Wajahnya terlihat cantik dan mungil seperti barbie. Ia sangat sempurna dan tidak berapa lama ia keluar dari ruang kamarnya.
Launa berjalan pelan karena pakaian pengantinnya sangat mewah dan mayung. Raka yang melihat Launa berjalan dibantu oleh dua pelayan di rumahnya. Ia langsung menggendong tubuh mungil Launa menuju taman belakang.
"Eh, aku bisa berjalan sendiri," ucap Launa terkejut disaat Raka langsung menggendong dirinya.
"Tidak perlu, biarkan aku membantumu agar tidak susah berjalan." sahut Raka dengan tatapan mata fokus ke arah depan.
Sikap romantis Raka yang menggendong Launa menuju tempat pelaminan membuat semua tamu undangan merasa iri pada Launa. Launa dianggap beruntung dinikahi oleh Raka si pria tampan, baik dan mapan.
Raka mendudukkan Launa di kursi pengantin dan kembali menyambut kedatangan tamu undangan di acara pernikahannya.
Tidak terasa pagi telah berganti malam, acara pernikahan Raka dan Launa telah selesai. Raka dan Launa bergegas menuju ruang kamarnya. Sebelum itu Raka dan Launa dicegah oleh Mama Siska dan Papa Rayhan yang mengucapkan selamat atas pernikahannya dan memberikan obat kuat pada Raka.
Raka tersenyum nakal ke arah Launa yang tampak menelan salivanya dengan susah payah.
"Terima kasih Ma, Pa, atas obatnya. Aku akan mencobanya nanti, aku dan Launa mau beristirahat saja," ucap Raka dan Mama Siska memaksa Raka untuk menerima obatnya. Raka dengan terpaksa menerima obat itu dan ia mengajak Launa untuk membersihkan diri dan berganti pakaian di ruang kamarnya.
"Ini baju tidurmu, Launa," ucap Raka yang telah menyerahkan pakaian baru untuk Launa.
"Terima kasih, kak." sahut Launa dengan senyuman tulus di hadapan Raka.
Raka yang menyusun pakaian tidur di atas tempat tidur, ia membalas senyuman manis Launa.
"Tubuhku terasa lengket dan gatal. Tolong sikat tubuh bagian belakangku karena kita akan mandi bersama," ucap Raka membuat Launa menelan salivanya dengan susah payah.