Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 32 Penawaran Launa Sebagai Pindah Perusahaan


Hari libur ini terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Launa yang mendapatkan kabar jadwal rapat dadakan dari Tuan Ceqi, membuat ia mengelus dada saja. Apalagi Papa Launa yang belum pulih dari sakitnya. Launa ikut membantu ibunya untuk merawat papanya.


Di pagi hari ini Launa telah berpakaian rapi dan ia bersiap-siap pamit pada kedua orang tuanya. Tetapi, papanya meminta disuapi oleh Melodi. Dengan senang hati Melodi melakukannya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.


Sebelumnya, Launa mengirimkan pesan pada Tuan Ceqi karena dirinya datang terlambat. Setelah menaruh ponsel di dalam tasnya. Launa menyuapi Papanya dengan terlatih hingga makanan habis tanpa sisa. Ia memberikan obat agar diminum secara teratur dan cepat sembuh.


Launa melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan. Ia pun bergegas pergi ke tempat hotel bintang lima di Rusia untuk pertemuan dengan rekan bisnis perusahaan di Indonesia.


Untunglah cuaca panas dan mendukung Launa untuk membawa motor matic menuju lokasi yang dikunjunginya. Hampir satu jam dalam perjalanan yang macet karena adanya kecelakaan tunggal. Membuat Launa harus mengendarai kecepatan motornya dengan lambat, asalkan selamat.


Akhirnya, motor yang dikendarai Launa telah sampai di depan bangunan mewah hotel bintang lima yang selalu menjadi tempat perkumpulan CEO untuk menginap dan melakukan pertemuan bisnis. Launa membuka helm di kepalanya dan ia meminta tukang parkir untuk menjaga motornya karena di hari libur banyaknya kendaraan mobil dan motor yang parkiran di depan pekarangan hotel mewah itu.


Launa menarik nafasnya dengan kasar, ia memejamkan kedua bola matanya sejenak untuk menghilangkan rasa groginya. Bagaimana ia tidak merasa grogi? Sedangkan ia yang mendengar cerita dari Pak Ceqi bahwa rekan bisnis di Indonesia satu ini pemiliknya seorang pria tampan dingin dan kejam. Tidak suka menunda-nunda pekerjaan apalagi datang terlambat. Namanya yang tidak mudah dikenali oleh sembarang orang dan Launa tidak mau tahu itu. Apa boleh buat Launa sudah berusaha datang pagi, tapi banyaknya drama pagi tadi membuat ia datang terlambat.


"Semangat Launa! Kamu pasti bisa!" ucap Launa menyemangati dirinya sendiri.


Launa melangkahkan kakinya dengan tegas menuju masuk ke dalam pintu utama hotel mewah itu. Ia fokus berjalan ke arah depan hingga menghentikan langkah kakinya di depan pintu lift untuk masuk ke dalam ruang lift. Launa menekan tombol pada lift sesuai tempat pertemuan kafe hotel.


Ting!


Pintu ruang lift terbuka dan Launa langsung berjalan keluar ruang lift hingga ia menemukan tempat satu ruangan kafe VVIP yang dipesan khusus pertemuan bisnis hari ini.


Tok! Tok! Tok!


Setelah mengetuk pintu beberapa kali Launa langsung membukakan pintu karena tidak enak mengganggu pembicaraan orang-orang di dalam ruangan.


Cekrek!


Baru saja Launa ingin melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia dikejutkan oleh suara berat milik seseorang yang sangat dirindukannya.


"Launa," ucap Raka membuat Launa menoleh ke arah sumber suara.


"Tuan Raka," ucap Launa dengan wajah terkejutnya bukan main.


Tuan Ceqi yang melihat kedatangan sekretarisnya telah datang itu. Ia mengajak Launa agar bergabung ikut rapat.


"Launa, kamu kenal dengan Tuan Raka?" tanya Ceqi to the point.


Launa yang menerima pertanyaan itu ia hanya tersenyum saja.


"Maafkan saja datang terlambat dan tidak menempati janji agar datang tepat waktu karena ada urusan mendadak." jawab Launa mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau ambil pusing mengenai Raka itu ia sudah memantapkan hati agar tidak mau masuk ke dalam kehidupan Raka lagi.


"Oh iya, aku mengerti. Kamu langsung duduk dan catat poin penting rapat sekarang!" titah Ceqi.


Sementara keberadaan Raka yang dianggap angin berlalu, ia memilih melanjutkan tugasnya dalam menjalani hubungan kerjasama antar perusahaan.


"Ternyata kamu telah melupakanku, Launa." kata Raka dalam hati.


"Ehem... Kenapa peraturan kerjasama seolah-olah pihak 1 perusahaanmu tidak ingin dirugikan? Sementara perusahaanku yang menanam saham sebanyak itu hanya mendapatkan bagi hasil 5%. Selicik itukah dirimu agar perusahaanmu tumbuh lebih pesat seperti perusahaanku? Ingat ya kalau mau sukses itu gak perlu merugikan orang lain. Cukup jalani saja sesuai kinerja diri sendiri." sanggah Raka merasa kesal karena Ceqi tidak ingin berkompromi mengenai keuntungan kerjasama.


Raut wajah Ceqi berubah menjadi masam dan pucat. Ia menyadari rekan bisnisnya yang satu ini bukan main-main cerdas dan pelatih dalam bisnis. Ia selalu memberikan penawaran seperti itu pada setiap rekan bisnis baru berkembang. Sedangkan ia melupakan tipikal Raka yang terkenal tuan muda terkaya nomor satu di dunia setelah mengalahkan berbagai perusahaan lain.


"Begini Tuan Raka, maksud saya tidak seperti itu saya ingin sesama perusahaan kita mengalami peningkatan efisien dan berkualitas tinggi." sahut Ceqi dan Raka langsung menggeleng cepat tidak setuju.


"Tidak, aku tidak mengerti dengan pola pikirmu. Hem... Bisa saja aku menyetujui permintaan kerjasama itu asalkan--" perkataan Raka sengaja terputus karena ia melihat reaksi wajah Ceqi, Launa, Zack, dua bodyguardnya yang meminta penjelasan lebih dari dirinya.


"Asalkan apa?" tanya Ceqi dengan penuh harapan pada Raka.


Raka tampak berpikir sejenak, ia memainkan dagunya yang mulai tumbuh kumis-kumis tipis. Ia melirik ke arah Launa sekilas yang tidak berani menatap ke arah dirinya.


"Asalkan sekretarismu, pindah bekerja di perusahaanku." jawab Raka dengan santainya.


Seketika Launa membulatkan kedua bola matanya saat mendengar perkataan Raka yang terdengar konyol tapi penuh makna.


"Maaf Tuan, apa maksud tuan menjadikan saya sebagai jaminan kerjasama ini? Saya tidak ada kaitan sama sekali dengan kerjasama ini?" tanya Launa spontan.


Raka tersenyum penuh arti ke arah Launa.


"Tentu saja, kamu ada kaitannya dengan perusahaan ini kamu kan sekretaris di perusahaan Tuan Ceqi. Otomatis bekerja di tempat perusahaanku dan kebetulan perusahaan Tuan Ceqi masih kecil dan anak cabang perusahaan tidak ada di luar negeri. Pastinya, kamu akan dipindahkan ke perusahaan saya, Launa." Raka menjelaskan panjang lebar pada Launa agar memahami keinginannya.


Ceqi hanya diam melongo saat melihat perdebatan sengit antara sekretarisnya dan rekan kerjanya yang menginginkan penawaran aneh tapi nyata itu.


"Sudahlah Launa, terima saja penawaran dari Tuan Raka. Aku percaya Tuan Raka ini pria baik dan pasti memberikan gaji besar untukmu," ucap Ceqi menjadi penengah mereka.


"Diam! Bukan urusanmu." sahut Raka dan Launa secara bersamaan.


Ceqi semakin kaget saat mendengar perkataan itu. Ia memilih diam dan memakan makanan yang telah disajikan. Nanti kalau mereka sudah capek berdebat pasti berhenti sendiri.


"Jadi, bagaimana dengan kerjasama antar perusahaan ini apa kalian setuju?" tanya Ceqi dan Raka langsung mengangguk cepat.


Akhirnya, Launa yang kalah berdebat dengan Raka. Ia lebih memilih diam, diam lebih baik. Ia hanya melirik ke arah Raka dan Ceqi yang sudah berjabat tangan sebagai hasil akhir setuju atas kerjasama ini. Ia memilih meneguk habis minuman jus jeruk tanpa sisa. Ia melirik jam di tangannya sudah menunjukkan jam setengah 12 itu berarti makan siang. Ia pun mengikuti makanan yang disajikan di atas meja agar otak dan tenaganya bisa tenang.


"Sebaiknya, aku ikut saja keinginan Raka. Biar dia tidak mengantuk tidak jelas." kata Launa dalam hati.