Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 30 Mencari Keberadaan Launa


"Kenapa mereka bisa pindah rumah semalam Pak? Apa bapak tahu alasan mereka pindah?" tanya Raka mencoba mendapatkan informasi pada Pak Tohir.


"Saya kurang tahu kalau alasan yang jelasnya. Tetapi, Pak Rayhan -- papanya Launa yang telah pulang dari rumah sakit memutuskan pindah rumah karena rumah ini sudah ada yang beli. Untuk mereka pindah rumah kemana juga saya tidak tahu." jawab Pak Tohir jujur.


Raka memijat keningnya merasa pusing setelah mendengar penjelasan Pak Tohir. Ia harus mencari dimana lagi keberadaan Launa. Ke kampus? Benar, ia perlu pergi ke kampus Launa saja. Siapa tahu ada Launa disana.


"Baik Pak, tidak apa-apa. Terima kasih sudah memberikan informasi. Ini sedekah sedikit dari saya untuk bapak." Raka mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah di dalam dompetnya dan ia menyerahkan uang pada Pak Tohir.


"Tidak usah, nak. Bapak ikhlas memberi informasi pada nak Raka." tolak Pak Tohir secara halus karena ia tidak enak hati menerima uang begitu saja pada Raka.


Raka melipatkan uang yang pegangnya dan ia langsung memasukan uang ke dalam saku baju Pak Tohir.


"Tidak apa-apa pak, anggap saja ini rezeki dari Tuhan melalui saya. Tolong diterima pak," ucap Raka dengan tersenyum tulus.


"Terima kasih nak Raka, semoga kebaikan nak Raka dilipat gandakan oleh Tuhan." Pak Raka menatap haru pada Raka dan menerima uang itu dengan tangan gemetar. Ia berprofesi sebagai kuli bangunan dan belum mendapatkan orderan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tuhan begitu adil pada dirinya, ia diberikan uang dari nak Raka yang berbaik hati pada dirinya.


"Sama-sama Pak. Kalau begitu saya permisi pulang. Assalamualaikum," pamit Raka undur diri di hadapan Pak Tohir.


"Wa'alaikumsalam."


Raka melanjutkan perjalanan mobilnya menuju ke tempat kampus Launa. Di dalam kampus, Raka menanyakan kepada dosen yang memiliki jabatan sebagai ketua kampus. Ternyata Launa mengambil permohonan pindah kampus dan tidak tahu informasi pindah kampus mana yang diajukan Launa untuk menyambung semester 7 mendekati menyusun skripsi.


Raka berjalan gontai keluar dari gedung kampus, ia memilih masuk ke dalam mobil untuk duduk menenangkan hatinya yang kacaw. Raka menatap sendu ke arah ponsel yang berbunyi. Dilihatnya layar ponsel yang menunjukkan nama Zack -- Tangan kanannya.


"Ada apa Zack?" tanya Raka yang telah menerima sambungan telepon di ponselnya.


"Maaf Tuan, saya sudah mengirimkan informasi pada Tuan tapi tertunda. Apa pesan yang saya kirim sudah masuk, Tuan?" sahut Zack bertanya balik pada Zack melalui sambungan telepon di ponselnya.


"Iya baru saja masuk pesan kamu, ponsel saya hilang jaringan. Terima kasih sudah beri informasi dan tolong carikan informasi terbaru tentang Launa dan kedua orang tuanya yang pindah rumah dan pindah kampus." sahut Raka dengan suara datarnya dan penuh penekanan di akhir kalimat.


"Baik Tuan." setelah Raka menerima jawaban dari tangan kanannya, ia mematikan sambungan panggilan ponselnya.


"Lebih baik, aku pulang saja. Tubuh dan pikiranku lelah dan butuh beristirahat." Raka melajukan kecepatan mobilnya menuju ke kediaman rumah mewahnya.


Kedatangan Raka membuat Nenek Melati yang sedang duduk di ruang keluarga tampak heran menatap wajah kusut Raka yang berjalan gontai menuju ruang lift.


"Raka!" panggil Nenek Melati membuat langkah kaki Raka berhenti.


"Bagaimana rencana kamu hari ini? Apa sudah berhasil?" tanya Nenek Melati dijawab gelengan cepat oleh Raka.


"Launa dan kedua orang tuanya pindah rumah. Lauma juga pindah kuliah nek. Sepertinya Launa sakit hati dan kecewa atas tuduhan kita kemarin nek. Jadi dia pergi dari kehidupan kita." jawab Raka panjang lebar di hadapan Nenek Melati.


"Baiklah, Nenek mengerti perasaan Launa. Kamu cukup beristirahat saja dulu. Untuk masalah mencari kebenaran Launa suruh Zack atau gunakan ilmu pelacak keberadaan orang melalui ilmu gaib." saran Nenek Melati tapi Raka tidak setuju.


"Tidak usah nek, Raka bisa mencari melalui jalur dunia nyata saja. Raka tidak ingin menggunakan ilmu gaib dari sihir ini musuh kita bisa melacak apa yang Raka cari. Raka masuk ke dalam kamar dulu nek. Mau beristirahat." setelah pamit undur diri, Raka melanjutkan langkah kakinya menuju ruang lift rumahnya.


Setelah Raka berada di dalam kamarnya, ia menjatuhkan diri di atas kasur empuk dan menatap langit-langit atap rumahnya.


"Ku serahkan pada Allah SWT yang terbaik untukku. Jika kita berjodoh, suatu hari nanti kita akan dipertemukan dalam keadaan yang baik dan hati yang saling menerima satu sama lain." tiba-tiba rasa kantuk mulai menyelimuti diri Raka hingga ia memejamkan kedua bola matanya dan tertidur nyenyak.


Setelah kejadian itu Raka terus mencari keberadaan Launa. Dari informasi yang diterimanya dari Zack tidak ditemukan. Berulang kali, Raka mencari cara yang tepat untuk mengelilingi seluruh kota hingga daerah Indonesia tapi hasilnya nihil.


Lalu, Raka harus mencari dimana lagi keberadaan Launa agar bisa ia bawa pulang? Ada cara pintas dan mudah dilakukan oleh Raka dalam sekejap mata yaitu menghandalkan ilmu gaib dalam sihir yang diajarkan oleh neneknya. Tapi, resikonya terlalu besar bagi Launa yang akan diincar oleh musuh bebuyutan dari keluarga Raka. Khususnya keluarga Mita yang tidak ikhlas kehilangan Raka untuk menyiksanya lagi.


Raka yang tengah duduk di ruang kerjanya sebagai CEO perusahaan, ia hanya menatap wajah Launa di dalam bingkai foto mini yang diletakkan di atas meja kerjanya. Entah darimana Zack mendapatkan foto Launa yang sedang tersenyum di depan kamera tapi ia sangat senang karena Zack dapat diandalkan dalam menjalankan tugasnya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," ucap Raka tanpa mengalihkan pandangannya menuju ke arah foto Launa.


"Maaf Tuan, saya belum bisa menemukan keberadaan Launa." lapor Zack menundukkan kepalanya di hadapan Raka.


Raka hanya mengelus dada saja, sudah berulang kali ia mendapatkan hasil yang tak memuaskan dari Zack dalam hal menemukan keberadaan Launa.


"Tidak apa-apa, aku mengerti dan menghargai perjuanganmu, Zack. Sudah jam pulang dan kamu bisa pulang," ucap Raka dengan tatapan sendunya.


Zack yang melihat penampakan Tuan Raka yang acak-acakan sudah tiga hari ini ia menatap miris pada Tuan Muda Raka yang tampan dan baik pada dirinya.


"Maafkan saya, Tuan. Kali ini, saya tidak bisa memberikan hasil yang maksimal. Saya akan mencoba kembali barangkali akan menemukan keberadaan nona Launa. Tuan juga harus pulang dan tidak boleh mengabaikan kesehatan Tuan. Maaf Tuan terdengar lancang dan mengatur tapi saya tidak ingin Tuan jatuh sakit. Saya sangat menyayangi Tuan seperti kakak saya sendiri dan saya harap bisa menemukan keberadaan nona Launa secepatnya." jelas Zack terdengar tulus di hadapan Raka.


"Terima kasih Zack sudah memberikan perhatian padaku. Aku harap Launa tidak marah padaku." sahut Raka dengan senyuman tulusnya di hadapan Zack.