Sang CEO Tersakiti

Sang CEO Tersakiti
Part 36 Raka Dan Launa Tunangan


Tiga hari kemudian, Raka telah sampai di rumah kontrakan Launa. Hatinya merasa tidak tenang karena selama tiga hari ini tidurnya tidak nyenyak dan banyak pikiran menghantui dirinya.


Sebelum Raka melangkah keluar dari mobilnya, ia menatap wajah tampannya di dalam layar ponselnya.


"Tampan dan menawan. Aku pria sempurna dan aku percaya Launa tidak akan menolak cintaku." kata Raka dalam hati yang berusaha menyemangati dirinya.


Setelah itu Raka melangkah keluar dari mobilnya dan ia melangkahkan kakinya dengan tegas menuju pintu utama rumah kontrakan.


"Eh, ada nak Raka," ucap Mama Siska yang baru membuka pintu dan ditangannya memegang beberapa barang jualan makanan di depan rumahnya.


Raka menghentikan langkah kakinya di hadapan Mama Siska.


"Assalamualaikum Ma, apa kabar Ma?" ucap Raka sembari mencium punggung tangan Mama Siska.


"Alhamdulillah baik, nak. Nak Raka mau mencari Launa ya. Kebetulan hari ini tanggal merah dan Launa masih beres-beres rumah. Ayo masuk ke dalam rumah dulu biar mama panggil Launa." sahut Mama Siska yang mempersilahkan Raka, Zack dan dua bodyguardnya masuk ke dalam rumah kontrakannya.


Mama Siska langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Raka, Zack dan dua bodyguardnya di ruang tamu.


Tidak berapa lama kemudian,datangnya Mama Siska bersama Launa dengan pakaian tidurnya dan wajah natural apa adanya.


"Launa, kamu ini udah jam 8 pagi belum mandi. Lihat ada nak Raka dan asistennya! Malu kan anak gadis belum mandi." omel Mama Siska pada Launa yang telah duduk di kursi sofa yang berhadapan langsung dengan Raka.


"Mama, jangan berbicara seperti itu. Launa belum mandi karena membersihkan rumah kalau udah mandi Launa mau kerjakan tugas lain." sahut Launa cepat.


"Tidak apa-apa Ma, walaupun Launa belum mandi pun dia tetap cantik bagiku." celetuk Raka dengan senyuman tulusnya membuat Launa merasa salah tingkah atas perkataannya.


"Dengar tuh Launa, untung Nak Raka mau menerimamu apa adanya sekalipun kamu masih dekil." Mama Siska memberikan minuman air putih siap saji pada Raka dan tiga asistennya.


"Ini diminum dulu nak Raka, nak Zico dan dua pria tampan. Pasti kedatangan nak Raka untuk menagih janji Launa dalam menjawab pertanyaan tiga hari yang lalu," ucap Mama Siska masih ingat dengan perkataan Launa dulu.


Seketika Launa membulatkan kedua bola matanya saat Mamanya menyinggung topik pembicaraan itu.


"Aku pikir Tuan Raka melupakan kataku itu karena selama tiga hari ini dia tidak menemuiku." kata Launa dalam hati. Memang benar, setelah kejadian hari itu Raka tidak datang ke rumah Launa lagi dan tidak menanyakan kabar apapun pada Launa. Hal itu membuat Launa merasa ragu atas cinta Raka.


Raka tersenyum tulus saat menanggapi perkataan Mama Siska.


"Iya Ma, maafkan aku baru datang kesini lagi. Aku sengaja memberikan waktu untuk Launa berpikir dalam mengambil keputusan. Aku sudah berlapang dada atas keputusan Launa nanti." jelas Raka terdengar tulus di indera pendengaran Launa.


"Baiklah, kalau begitu. Mama serahkan semua keputusan itu pada Launa dan Mama tidak ikut campur atas permasalahan kalian. Mama akan memberi waktu untuk kalian agar berbicara empat mata, agar tidak ada merasa terbebani dan tidak enak hati." Mama Siska berdiri dari posisi duduknya dan ia pamit undur diri di hadapan Mereka.


"Ibu, tunggu dulu! Aku ikut membantu Ibu." ucap Zack yang sedari diam berdiri di samping Raka dan ia berniat untuk membantu Mama Siska saja daripada menjadi nyamuk dua sepasang kekasih yang dimabuk cinta.


Zack pamit undur diri pada Raka dan Launa. Begitupula, Dua bodyguard ikut membantu Mama Siska untuk berjualan saja. Mereka memantau dari luar rumah saja karena tidak mau menguping pembicaraan mereka.


Kini Launa tampak diam menatap ke arah Raka yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Sebelumnya, aku minta maaf karena meninggalkan Tuan tanpa kabar. Aku minta maaf telah berpikir negatif tentang Tuan dan dengan mudahnya mempercayai perkataan orang yang baru kenal. Maafkanlah aku atas sikapku yang membuat Tuan tidak nyaman. Tetapi, aku ingin bertanya satu kali lagi. Bagaimana perasaan Tuan yang sesungguhnya untukku? Apa sekedar cinta dan obsesi saja atau adanya cinta, kasih sayang dan saling memiliki?" tanya Launa memulai topik pembicaraan pada Raka.


Raka yang menerima pertanyaan Launa itu ia percaya Launa masih meragukan cintanya. Raka berdiri dari duduknya dan ia berjalan mendekati Launa. Ia berjongkok di hadapan Launa dan mengenggam tangan Launa untuk mengarahkan tangannya menuju mendekati jantungnya.


"Launa, kamu pasti merasakan detak jantungku yang berdetak lebih kencang saat berada di dekatmu. Apalagi aku yang berani melamarmu di hadapan kedua orang tuamu sebagai bukti cintaku. Memang terlihat biasa saja tapi setidaknya aku bisa membuktikan cintaku padamu setelah menikah," ucap Raka dengan tatapan sendunya.


Launa memalingkan wajahnya ke arah samping untuk menetralkan detak jantungnya ikut berdetak lebih cepat.


"Tuhan, aku percaya keputusanku ini jalan terbaik. Aku sudah meminta saranmu sewaktu aku sholat tahajud dan aku akan menyelesaikan masalah ini." kata Launa dalam hati.


"Iya Kak, aku percaya cinta kakak. Aku sudah memutuskan dan memantapkan hatiku untuk menerima lamaran kakak," ucap Launa mantap.


Seketika Raka tersenyum lebar di hadapan Launa, ia sangat bahagia mendengar perkataan Launa.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah doaku dikabulkan. Masya Allah, terima kasih Launa telah menerima lamaranku. Secepatnya kita menikah di Indonesia." Raka mengambil kotak cincin di dalam saku celananya. Lalu, ia membuka kotak cincin berisi cincin berlian tipe berlian The Cullinan Dream termahal di dunia ini tepat di hadapan Launa.


Launa mengangguk cepat sebagai tanda setuju dan Raka langsung mengambil cincin berlian untuk disematkan di jari manis kiri Launa.


"Sempurna dan kamu sangat cantik untuk mengenakan cincin itu." puji Raka dengan senyuman manisnya.


Raut wajah Launa menjadi merah merona saat mendengar kata gombal Raka itu. Ia melirik ke arah Raka yang menyuruhnya untuk mengambil satu cincin yang sama dengan dirinya untuk ia sematkan di jari manis kiri Raka.


Raka dan Launa telah mengenakan cincin berlian yang sama dan tidak berapa lama kemudian datanglah Papa Rayhan yang baru keluar dari dalam rumah menuju ke arah tamu.


"Cie... Cie... Baru diterima lamarannya. Selamat ya nak Raka telah berhasil mendapatkan hati anak saya. Saya harap kamu bisa menjadi calon imam yang baik dan menjaga Launa dengan baik," ucap Papa Rayhan yang menghentikan langkah kakinya di hadapan Raka.


Raka langsung mengangguk mengiyakan perkataan Papa Rayhan dan ia mencium punggung tangan Papa Rayhan.


"Iya Pak, terima kasih atas dukungannya. Izinkan aku membawa Launa, Bapak dan Mama pulang ke Indonesia untuk merayakan pesta pernikahan kami dan menetap tinggal di Indonesia lagi." sahut Raka dan dibalas anggukan cepat oleh Papa Rayhan.


Akhirnya, Raka mengajak Launa, Papa Rayhan dan Mama Siska untuk berfoto bersama sebagai hari tunangan mereka. Sebelum itu Raka menyuruh Launa untuk berganti pakaian yang telah ia beli dan memberikan enam alat pinangan untuk tunangan kepada Launa. Foto itu terlihat mereka menjadi keluarga yang bahagia dan sempurna yang jauh dari kata kekurangan apapun.