
Matahari mulai terbit. Pasukan Mula kembali membentuk barisan untuk bersiaga. Disamping itu Puluhan ribu Pasukan Sada juga sudah mempersiapkan diri dibalik gerbang ketiga.
Jarak Istana Nusantara dan gerbang ke 3 sejauh 3 kilometer, rumah warga tepat berada di belakang Istana.
Tanah kosong di depan Istana sudah dipenuhi puluhan ribu prajurit yang memiliki 12 Barisan. Dibarisan terdepan terdapat 2 Panglima beserta prajurit pemegang tombak dan perisai. Barisan 2 terdapat 2 Panglima beserta prajurit pemanah. Barisan ke 3 terdapat 2 Panglima beserta prajurit pedang. Barisan ke 4 terdapat 1 Panglima beserta prajurit pelontar batu besar. Barisan ke 5 sampai ke 12 terdapat 1 Panglima beserta pasukan penyerang. Dan 1 Panglima berada di sisi Raja beserta prajurit kuda.
Barisan itu membentuk segitiga yang setiap barisan memiliki 5000 parajurit.
"Pasukaaaan! Kita adalah Nusantara. Hidup dan mati kita ditentukan oleh kekuatan kita. Berjuang untuk Nusantara!" Teriak Panglima barisan paling depan. Sehingga semua prajurit bersorak sorai.
Untuk Nusantara!, Untuk Nusantara!, Untuk Nusantara *Gemuruh suara prajurit.
"Aku merasakan ketakutan yang besar dibalik gerbang ini Tuanku" Ujar A1
"Apa perlu saya memanggil pasukan robot gelombang ke 2 Tuan?" Tanya A1
"Tidak perlu!" Jawab Mula
"Dobrak gerbang ini segera!" Ujar Mula sembari melepaskan tangannya dari gerbang ke 3 lalu pergi menuju pintu gerbang ke 2.
***
"Tuan Putri apa Tuan tidak mau mengurungkan rencana?" Tanya Pengawal
"Maksudmu aku tidak jadi memenggal kepalamu tetapi mencincang tubuhmu dan membiarkan kepalamu dimakan ikan!" Teriak Putri secara cepat dengan kesal
"Maafkan aku Tuan"
"Tunggu apa lagi" Ujar Putri
Merekapun bergegas menuju Nusantara dengan kuda yang mereka gunakan.
***
Raja terus memperhatikan pasukan Mula melalui teropong yang dia miliki.
"Tembakkan batu yang besar!" Teriak Sada
Panglima yang berada di dekat Raja kemudian mengibarkan bendera memberikan tanda kepada barisan ke 4 untuk melontarkan batu.
"Tembak!" Teriaknya lagi
Ribuan batu besar melayang diudara mengenai puluhan ribu pasukan robot yang berbaris. Sontak membuat Mula dan A1 terkejut. Ribuan batu itu dilontarkan sebanyak 2 kali. Pasukan Nusantara memiliki 5 kali kesempatan untuk menyerang menggunakan batu tersebut. 3 Kesempatan diambil untuk menyerang bagian di bagian dalam Istana.
Pasukan Mula tersisa 7000 pasukan yang masih menyala dan dapat berperang. Sisanya hancur berantakan, beserta Panglima B3.
Mula kemudian meminta untuk melanjutkan pendobrakan terhadap pintu gerbang ke 3.
"Tuan, apa kita tidak perlu meminta prajurit gelombang ke 2 untuk ikut berperang?" Tanya A1
"Tidak. Aku yang akan memimpin barisan. Siapkan bagi mereka yang masih dapat berperang!" Ujar Mula teriak dengan kesal
"Baik Tuan" Jawab A1
Kemudian A1 memerintahkan A2 hingga A12 untuk mempersiapkan pasukan yang layak berperang dan menyingkirkan tubuh robot yang hancur.
"Kuatkan Pondasi!" Teriak Panglima
Semua pasukan terdepan memasang perisai untuk melindungi pasukan. Diatas dan di depan tidak dapat ditembus dengan mudah. Tombak pasukan yang berada di tengah barisan pertama diarahkan keatas. Dan tombak pasukan barisan pertama yang berada di depan mengarahkan tombaknya kearah depan.
"Siapkan senjata kalian!" Teriak salah satu Panglima barisan kedua
Setelah beberapa jam kemudian gerbang ke tiga mulai retak.
"Tiupkan sangkakala peperangaaan!" Teriak Sada dari singgasana
Kemudian Panglima yang berada di dekatnya mengibarkan bendera memerintahkan untuk meniup sangkakala.
Teuuut... Teuuut... Teut Teut Teut Teuuut... *Bunyi snagkakala secara berulang ulang.
Dumb Dumb Dumb Dumb *Bunyi genderang peperangan dibunyikan bersamaan dengan bunyi sangkakala peperangan.
Pasukan semakin bersiaga dan memperkuat barisan.
Untuk Nusantara, Untuk Nusantara, Untuk Nusantara *Teriak Panglima barisan terdepan sehingga diikuti seluruh pasukan.