Reuni Berdarah

Reuni Berdarah
Bab 8


Ditengah malam yang gelap, di sebuah hutan belantara, terlihat ada seorang pria yang baru saja terbangun dari pingsannya.


"Ahhh...!" rintih pria itu sembari memegang kepalanya yang terasa sangat pening.


Pria itu terlonjak begitu menyadari bahwa dirinya kini telah berada ditengah hutan, suasana begitu gelap, hanya mengandalkan cahaya bulan temaram yang menyinari.


Pria itu pun segera berdiri, dia menyadarkan punggungnya ke sebuah batang pohon yang besar, mungkin karena pengaruh obat tidur yang masih merajainya, membuatnya kesulitan sekali untuk bisa berdiri dengan tegak.


"Dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri, matanya beredar memperhatikan suasana di lingkungan yang ada disekitarnya.


Badannya gemetaran, rupanya ini bukanlah halusinasi, dia benar-benar sedang berada di tengah hutan sekarang.


Ternyata pria itu adalah Kevin, salah satu anggota Black-Hole, yang sering melakukan pembullyan di sekolah.


Kevin memijat-mijat pelipisnya, dia berusaha keras untuk mengumpulkan seluruh nyawanya, kemudian dia berusaha untuk melangkahkan kakinya dengan sedikit sempoyongan, pengaruh obat tidur sangat kuat sekali.


"Anj*ng! Setan! Siapa yang berani ngerjain gue?" gerutu Kevin, pria itu sangat kelihatan marah sekali.


Kevin pikir mungkin teman-teman satu genk-nya sedang berbuat usil padanya. David, Arkan, Panji, dan Bayu kalau lagi bercanda memang selalu kelewatan. Tapi Kevin pikir malam ini adalah bentuk candaan yang paling parah, sampai memasukkan obat tidur ke dalam makanannya dan memindahkannya ke tengah hutan.


Kevin terus berjalan menyusuri hutan, melewati pepohonan yang menjulang tinggi beserta semak belukar. Kini dia sudah bisa berjalan dengan normal setelah kesadarannya mulai membaik.


Namun, pria itu masih dipenuhi dengan amarah. Dia sama sekali tidak terima telah diperlakukan seperti ini. Menurutnya candaan mereka sama sekali tidak lucu. Bagaimana kalau ada bintang buas menerkam dirinya?


Kevin mendengar suara langkah seseorang seakan sedang mengikuti dirinya, dia segera menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.


Tapi rupanya tidak ada siapa-siapa dibelakangnya.


Kevin pun mempercepat langkahnya, walaupun dia harus berhati-hati karena banyak sekali bebatuan yang berukuran lumayan besar, jangan sampai kakinya kesandung.


Suasana disana begitu sepi dan gelap gulita, hanya terdengar suara dedaunan yang bergoyang terkena hembusan angin malam.


Kevin mendengar kembali suara seseorang sedang mengikutinya, membuat dia segera menghentikan langkahnya, dengan cepat dia membalikkan badannya, kini dia benar-benar merasa yakin ada seseorang yang sedang mengawasinya.


Kevin pun berteriak dengan penuh amarah, "Woi anj*ng! Keluar lu!"


Teriakan Kevin menggema di dalam hutan tersebut, pandangannya beredar untuk mencari tahu siapa orang yang sedari tadi mengikutinya.


"Keluar lu, babi!"


"Siapa yang berani ngerjain gue heuh? Brengsek!"


Namun, suasana begitu hening, orang yang mengikuti dirinya sedari tadi sama sekali tidak menampakkan diri. Hal tersebut membuat amarah Kevin semakin menjadi-jadi.


"David! Arkan! Bayu! Panji! Atau siapapun itu, keluar lu, banci?"


"Cara bercanda kalian sama sekali gak lucu!"


Nafas pria itu tersengal-sengal, dia sangat terlihat murka, pandangan matanya masih beredar mencari orang yang mengikutinya sedari tadi.


Kevin mendengar suara langkah seseorang yang sedang berjalan di belakangnya, dia pun segera membalikkan badan.


Mata Kevin melotot, dia tersentak kaget saat melihat sesosok orang yang penampilannya sangat menyeramkan. Orang tersebut memakai pakaian serba hitam, wajahnya ditutupi oleh topeng badut, dan tangannya sedang memegang sebilah pisau besar yang tajam. Sebut saja dia psikopat.