Reuni Berdarah

Reuni Berdarah
Bab 10


Kesembilan belas orang itu saling menatap dengan penuh rasa curiga, siapa orang yang sudah memasukkan obat tidur ke dalam makanan mereka semalam?


"Sepertinya ada orang yang memasukkan obat tidur pada makanan kita!" ucap Dicky, sang mantan ketua kelas.


Arya membenarkan ucapan Dicky. "Iya benar, seingat aku semalam kita lagi makan bersama, tiba-tiba kita sama-sama merasakan kepala kita pusing. Setelah itu kita tidak ingat apa-apa lagi."


Pingkan sangat terlihat ketakutan sekali. "Siapa yang melakukannya? Tidak mungkin kan pelakunya adalah salah satu diantara kita?"


Adam mencoba untuk menenangkan istrinya, dia merangkul istrinya dan mengusap-usap punggung sang istri. "Entah apa tujuannya, kita harus mencari tahu siapa orang itu."


Namun, tiba-tiba saja mereka mendengar suara jeritan Hilda yang baru saja masuk kembali ke dalam kamarnya. "Aaaaaa!"


Helena segera berlari, dia masuk ke dalam kamar sahabat baiknya itu, "Ada apa, Hilda?"


Helena melihat Hilda yang nampak kebingungan, terlihat Hilda yang sedang mengacak-ngacak semua barang yang ada di dalam kamarnya. "Ponsel dan laptop aku hilang, Hel!"


Helena terkejut mendengarnya, dia pun segera meronggoh saku celana yang dia kenakan, rupanya dia baru menyadari bahwa ponselnya pun tidak ada di dalam saku celananya itu. Padahal seingat Helena, semalam waktu dia sedang makan malam bersama para alumni, Helena yakin betul bahwa ponselnya ada di saku celana yang dia pakai saat ini.


Helena segera berlari ke kamarnya, dia pun sama dengan Hilda, mencari ponsel miliknya. Tapi sayangnya, dia tidak menemukan ponselnya disana. Apakah ada seseorang yang sengaja mencuri ponsel mereka?


Helena melihat Chika masuk ke dalam kamar, Chika pun terlihat sedang mencari sesuatu di dalam kamarnya, "Hel, ponsel aku hilang! Aduh, bagaimana ini?"


Ternyata bukan hanya Helena, Hilda, dan Chika saja, semua orang yang ada disana pun bernasib serupa, mereka telah kehilangan ponsel mereka, termasuk laptop, dan alat komunikasi lainnya. Bahkan telepon rumah yang ada di vila itu pun ternyata sudah rusak, entah ada yang sengaja merusaknya atau memang sudah rusak sebelum mereka tiba disana. Sehingga mereka tidak bisa meminta bantuan kepada siapapun yang ada di luar pulau itu.


...****************...


Sembilan belas orang berkumpul di tengah vila, mereka duduk dengan posisi melingkar beralaskan karpet, mereka nampak saling memandang dengan perasaan curiga satu sama lain. Di pulau yang kecil itu, selain vila, tidak ada bangunan apa pun lagi, hanya dikelilingi hutan dan pegunungan tak jauh dari vila tersebut. Dan Vila Indah Regency hanya di huni oleh mereka, sehingga mereka yakin pelakunya ada di salah satu diantara kesembilan belas orang itu.


"Siapa yang melakukannya? Aku yakin orang itu ada salah satu diantara kita? Untuk apa dia harus membuat kita pingsan dan mencuri ponsel milik kita?" tanya Dicky, sang mantan ketua kelas, dia mencoba untuk kembali menjadi seorang pemimpin di acara reunian ini. Dia pun memandangi satu persatu orang yang ada dihadapannya itu.


David yang seharusnya tidur satu kamar dengan Kevin, dia baru menyadari bahwa Kevin tidak ada di dalam kamarnya, dan tidak ada di dalam perkumpulan itu. "Tapi ngomong-ngomong dimana si Kevin? Kok aku gak lihat dia disini? Waktu aku bangun tidur pun aku gak melihat dia di kamar."


Mereka semua yang ada disana saling berpandangan, mereka baru menyadari bahwa jumlah mereka kini hanyalah sembilan belas orang. Itu artinya Kevin telah menghilang.


"Apa mungkin si Kevin di culik?" tanya Bayu, dia sangat mengkhawatirkan sahabat satu genk-nya itu.


Kemudian Roni menanggapi perkataan Bayu. "Bagaimana kalau sebaliknya? Kevin yang sudah mencuri ponsel dan laptop milik kita, setelah itu dia melarikan diri? Itu artinya dia juga yang sudah memasukkan obat tidur ke dalam makanan kita agar dia bisa melancarkan aksinya."


Perkataan Roni memang sedikit masuk akal, karena diantara para alumni memanglah banyak yang berasal dari kalangan orang berada, tentu saja mereka memiliki ponsel yang harganya sangat mahal, termasuk laptop yang mereka bawa.


"Iya, itu lebih masuk akal. Bukannya si Kevin waktu masih sekolah SMA sering mencuri?" seru Sisil, dia sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Roni.


David tidak terima temannya dituduh seperti itu, dia terlihat sangat emosi sekali pagi ini, dia yakin pasti terjadi sesuatu kepada Kevin. Sehingga dia malah menuduh Roni yang sudah melakukan sesuatu terhadap Kevin. Karena mungkin saja Roni masih dendam kepada para anggota Black-Hole atas perlakuan tidak mengenakan waktu di klub malam saat itu.


David segera berdiri, dia mencengkram kerah baju Roni, memaksa pria itu untuk berdiri. "Pasti lu kan? Lu yang sudah berbuat sesuatu kepada Kevin?"


Roni mencoba melepaskan cengkraman David pada kerah bajunya, tapi cengkeramannya sangat kuat sekali. "A-aku gak ngerti maksud kamu apa."


Nicholas yang posisinya duduk bersebelahan Roni, dia mencoba untuk membantu Roni, melepaskan cengkraman David pada kerah baju Roni. "Jangan main tuduh orang sembarangan! Apa ada buktinya Roni melakukan sesuatu terhadap Kevin?"


Tidak ada di dalam kamus David untuk mengalah, dia malah memberikan bogem mentah pada wajah Nicholas.


Bugh!


"Shhhttt!" Nicholas meringis memegang wajahnya, pukulan David pada wajahnya sangat keras sekali. Kemudian pria itu mendelik tajam ke arah David.


David menatap sangar kepada Nicholas. "Apa jangan-jangan lu pelakunya? Padahal lu sudah pindah sekolah waktu kelas dua SMA, kenapa lu ikut reunian heuh? Lu pasti ingin balas dendam sama gue dan anggota Black-Hole yang lainnya, iya kan?"