
"Aaaaaa!" Hilda menjerit histeris ketika melihat sesosok orang yang penampilannya sangat menakutkan, dengan mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya ditutupi dengan topeng badut, dan juga dia menggenggam sebilah pisau besar yang sangat tajam.
Wajah Hilda nampak pucat pasi, pernafasannya tidak stabil, tubuhnya gemetaran, ketakutan itu semakin menjadi. Dengan keadaan masih terduduk di atas tanah, wanita itu segera menggeserkan tubuhnya untuk mundur menjauhi sang psikopat yang sedang menatap tajam ke arahnya.
"Si-siapa kamu? Jangan macam-macam padaku!" Hilda berkata dengan nada tinggi, penampilan orang dihadapannya itu sungguh mengerikan.
Kemudian Hilda berteriak sekencang-kencangnya. "Tolooong!"
"Tolooong!"
"Tolooong!"
Sang psikopat cekikikan, dia merasa puas melihat Hilda ketakutan seperti itu, dia pun berkata kepada Hilda. "Hilda Olivia, bagaimana kalau kita bermain?"
Hilda terperangah mendengarnya, apakah mungkin orang yang sedang berdiri dihadapannya itu adalah salah satu alumni yang ikut reunian, karena dia tahu nama lengkapnya.
Suara sang psikopat begitu terdengar berat, serak, dan menakutkan. Hilda tidak dapat mengenali suara siapa itu, dia pintar sekali menyamarkan suaranya.
Keringat dingin bercucuran membasahi wajah wanita itu, dia sangat terlihat ketakutan sekali, air bening jatuh dari sudut matanya begitu saja. Hilda sangat merasa ngeri melihat pisau yang begitu tajam dan berkilau yang berada di dalam genggaman sang psikopat.
"Aku mohon, tolong lepaskan aku. Jangan sakiti aku!" Hilda memohon kepada psikopat itu untuk melepaskannya.
Sang psikopat pun tertawa, "Dimana kepercayaan dirimu yang dulu? Ini tak seperti dirimu, Hilda."
"Apapun kesalahan yang ku lakukan padamu, aku minta maaf, tapi tolong lepaskan aku. Jangan sakiti aku!" Hilda berusaha keras membujuk sang psikopat untuk bisa melepaskannya.
Psikopat itu pun tertawa kembali, baginya permainan ini sangat menyenangkan, merasakan bahwa dia kini telah ditakuti oleh semua para alumni.
Hilda mencoba untuk mundur kembali, tapi sayangnya punggungnya telah mentok mengenai batang pohon yang besar. Sementara dia tak mampu untuk berdiri, karena telapak kakinya telah terluka tertusuk duri.
Sang psikopat berjalan mendekati Hilda, membuat Hilda menjerit ketakutan, dia melempar apa saja yang ada di dekatnya kepada psikopat itu, termasuk bebatuan kecil.
"Aaaaa!"
"Jangan mendekat!"
"Jangan mendekat!"
Hilda nampak mematung, dia menelan saliva dengan susah payah saat sang psikopat menyentuhkan pisau yang tajam itu ke lehernya.
"Bagaimana kalau kita bermain tebak-tebakan? Sebutkan kesalahan apa yang pernah kamu lakukan kepadaku? Aku hitung sampai ketiga, jika jawaban kamu benar, aku akan melepaskanmu." Sang psikopat mencoba memberikan sebuah penawaran kepada Hilda. Sama halnya yang telah dia lakukan terhadap Kevin.
Hilda sama sekali tidak tahu kesalahan apa saja yang sudah dia perbuat kepada seseorang yang dulu satu kelas dengannya. "A-aku tidak tahu."
"Satu." Sang psikopat mulai berhitung sambil mengacungkan satu jarinya.
Hilda mencoba asal menebak, dia sangat ngeri sekali merasakan pisau tajam yang sangat menempel mengenai lehernya. "Aku... aku sering menyontek padamu."
"Dua." Psikopat kembali berhitung sambil mengacungkan dua jarinya.
Hilda nampak frustasi sekali, dia tidak bisa berpikir apa pun, yang pasti saat ini dia sangat merasakan tegang dan ketakutan sekali. "Aku... aku pernah meminjam bukumu tanpa izin."
"Tiga." Sang psikopat mengacungkan ketiga jarinya.
Hilda sangat terlihat panik, dia memohon-mohon kepada sang psikopat untuk melepaskannya. "Aku mohon, tolong lepaskan aku! Aku punya banyak uang, aku akan memberikan berapa pun yang kamu mau."
Psikopat itu pun tertawa, "Ya, seperti itulah kamu. Kamu selalu memandang rendah orang lain, termasuk padaku."
Hilda memelototkan matanya, dia baru mengingat saat dia di berada di dalam kapal ketika menuju pulau K, Hilda bercanda kepada seseorang dengan memanggilnya 'Hei jelek!'
Padahal menurut Hilda itu adalah sebuah candaan, dari dulu dia selalu memanggil orang tersebut dengan panggilan itu, karena mungkin memang wajahnya sama sekali tidak menarik.
"A-apakah kamu..."
Sreett!
Hilda tidak diberikan kesempatan untuk bicara, karna sang psikopat langsung menebas lehernya.