Reuni Berdarah

Reuni Berdarah
Bab 16


"Apaan sih? Masih lama juga!" David sangat merasa terganggu dengan ulah Hilda yang terus saja memukul pundaknya.


David segera menoleh ke belakang, dia pun terperanjat ketika melihat siapa yang sedang berdiri di belakangnya.


Mereka berdua melihat sosok seorang pria dengan wajahnya yang ditutupi oleh masker, sedang berdiri di belakang David dengan sorot matanya yang tajam mengartikan kebencian yang begitu dalam, dan pria itu menggenggam sebuah gunting yang berukuran lumayan besar.


"Aaaaa!" Hilda menjerit ketika melihat pria bermasker itu mencoba untuk menyerang David.


David dengan sigap menahan tangan pria bermasker tersebut yang hendak menusuk dirinya dengan gunting.


Sementara Hilda, dia segera turun dari pangkuan David. Wanita itu sangat ketakutan sekali, memilih untuk melarikan diri, berlari tak tentu arah dan tujuan, yang penting dia bisa menyelamatkan nyawanya sendiri, sampai dia lupa belum memakai kembali celana da-lamnya yang masih tergeletak di atas batu besar.


David sangat kesal karena Hilda malah meninggalkannya begitu saja, sementara dia sendirian sedang berjuang untuk mempertaruhkan nyawanya, David menggeram, dia menahan dengan sekuat tenaga tangan pria itu yang sedikit lagi gunting yang ada di dalam genggamannya akan mengenai dadanya David.


"Aaarrrggghhh!"


Tanpa sengaja David melihat ada sebuah batu yang berukuran cukup besar di dekat kepalanya, tangan kirinya dengan cepat segera membawa batu besar itu, lalu memukulkan batu tersebut ke kepala seorang pria yang memakai masker tersebut.


Bugh!


"Arrrgghh!" Pria bermasker itu menggeram kesakitan, kepalanya telah mengeluarkan darah, membuat dia merasakan pusing, dan gunting yang dia pegang terlepas dari genggamannya, gunting itupun terjatuh ke tanah.


Dengan sigap David segera berdiri, dia bergerak mendekati pria itu dengan hati-hati dan melepaskan masker yang menutupi wajah pria yang berusaha untuk menyerang dirinya.


Begitu masker terlepas dari wajah pria tersebut, David sangat terkejut melihat dengan jelas wajah orang yang berusaha untuk menyerangnya.


"He-Heru?"


Ya, rupanya Heru lah pria yang ingin menyerang David, dia sangat dendam kepada David karena David telah mencekiknya gara-gara melihat David dan Hilda keluar dari kamar mandi yang sama secara bersamaan. Dan dia tidak terima melihat Nicholas di hukum seperti itu tanpa ada bukti yang jelas, karena bagaimanapun diantara semua alumni, hanya Nicholas yang dekat dengannya, bahkan mereka tidur di kamar yang sama di vila.


Heru sangat merasa bersalah kepada Nicholas, gara-gara dia mengikuti perkataan seseorang yang menyarankan untuk mengajak Nicholas untuk ikut ke acara reunian, sehingga kini Nicholas harus menjadi korban kebengisan genk Black-Hole lagi.


Mungkin dengan melenyapkan David adalah satu-satunya cara untuk membuat semuanya menjadi aman, karena David adalah orang sok berkuasa, apalagi mengingat jika kapal akan datang menjemput ke vila enam hari lagi, pasti selama itu David akan berbuat semena-mena.


Bukannya Heru tak ingin membela Nicholas di depan semua orang, tapi orang yang mencurigai Nicholas jumlahnya cukup banyak, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Heru ingin mengambil kembali gunting yang terjatuh ke lantai. Namun, dia kalah cepat. Dengan gerakan yang cepat David membawa batu kembali, dia memukulkan batu tersebut ke kepala Heru.


Buukk!


Pukulan yang dilakukan oleh David ke kepala Heru sangat keras, membuat kepalanya ada yang retak, darah mengalir deras di kepalanya, membuat tubuh pria itu terhuyung ke belakang dan jatuh ke tanah.


Tak berhenti begitu saja, David segera duduk di perut Heru, dia terus memukulkan batu ke kepala Heru dengan emosi yang meledak-ledak.


"Anj*ng lu! Lu berani melawan gue heuh!"


Buukk!


Buukk!


Buukk!


Entah berapa kali David memukulkan batu ke kepala Heru, dia bagaikan kesetanan, sampai wajah Heru nampak rusak dan kepalanya pecah, serta tubuhnya sudah tidak bergerak sama sekali.


"Shittt!" David mengumpat begitu menyadari Heru sudah tidak bernyawa lagi. Dia pun melemparkan batu yang ada dalam genggamannya ke tanah dengan sembarangan.


David segera berdiri, nafasnya tak beraturan, pria itu nampak kebingungan, jangan sampai ada siapa pun melihat mayatnya Heru. Tamat sudah riwayatnya sebagai seorang aktor jika dia ketahuan telah menjadi seorang pembunuh.


David segera mencari sebuah tempat untuk bisa menyembunyikan mayatnya Heru, sehingga dia tiba di sebuah ujung tebing yang bawahnya adalah lautan lepas. Pria itu pun menyeringai, lalu kembali ke tempat mayat Heru berada.


David dengan nafas terengah-engah dan keringat yang bercucuran membasahi tubuhnya, dia membawa mayat Heru dengan menyeretnya, menarik baju yang Heru kenakan.


Kemudian setelah sampai di ujung tebing, David menendang tubuh Heru sehingga tubuh Heru yang sudah tidak bernyawa lagi itu melayang dari atas tebing dan jatuh ke lautan yang lepas.


Byuur!


Bahkan suara tubuhnya yang telah masuk ke dalam air terendam oleh suara ombak yang besar.


Kini David sangat bernafas lega, dia terduduk pasrah di atas tebing, sama sekali tidak ada yang tahu dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap Heru. Biarlah ini menjadi rahasia untuk dirinya sendiri.