Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 95


Malam ini Liam mengajak Loveta makan malam. Menikmati makan malam di pinggir pantai.


Saat melihat meja makan yang disiapkan Liam, Loveta langsung terpukau. Meja makan dihiasi lilin-lilin di sekitarnya. Lilin itu berbentuk love. Sama persis waktu Liam melamarnya. Hanya saja suasananya kali ini lebih romantis. Karena berada di pinggir pantai. Deburan ombak yang terdengar mengiringi suasana romantis ini.


“Kamu menyiapkannya?” tanya Loveta menatap Liam.


“Iya, minta pihak hotel.” Liam tentu saja tidak menyiapkan sendiri.


Sekali pun pihak hotel, tetap saja bagi Loveta ini sangat berkesan.


“Ayo.”  Liam mengajak Loveta. Menggenggam tangannya.


Loveta mengikuti Liam. Rona bahagia terlihat jelas dari wajahnya. Tentu saja itu membuat Liam merasa senang. Liam menarik kursi dan mempersilakan Loveta duduk.


Makan malam romantis itu semakin romantis ketika alunan musik terdengar.


“Kak Liam belajar dari mana bersikap romantis padahal Kak Liam bilang tidak pernah berpacaran.” Loveta merasa Liam terlalu romantis. Jadi dia merasa kadang aneh.


“Aku sering melihat orang melamar dengan romantis di Italia. Dari mulai restoran, taman, pinggir pantai, atau bahkan tempat umum lainnya. Jadi aku belajar dari sana.” Liam menceritakan dari mana keahliannya itu berasal.


“Benarkah?” Loveta tidak percaya.


“Iya.” Liam mengangguk.


“Aku lebih beruntung mendapatkanmu?” Liam tersenyum. Baginya Loveta adalah hadiah terindah dari Tuhan. Penantian panjangnya akhirnya berbuat manis juga.


Loveta tersipu malu. Dihujani cinta yang luar biasa membuat Loveta bahagia. Ternyata di balik gagalnya kisah cintanya sebelumnya, mengantarkan kisah cinta yang baru lagi. Loveta berpikir, jika gagalnya kisah cinta sebelumnya adalah gerbang pembuka untuk Liam masuk.


Mereka menikmati makan malam. Angin yang berembus begitu kencangnya hingga membuat rambut Loveta beterbangan. Namun, tidak mengurangi kenikmatan ketika makan.


“Kamu mau punya berapa anak?” Saat makan, Liam melemparkan pertanyaan pada sang istri.


“Em ... mungkin dua atau tiga.” Melihat mami dan papinya, Loveta ingin seperti itu. Memiliki anak lebih dari satu. “Kak Liam mau punya anak berapa?” Loveta balik bertanya pada Liam.


“Berapa pun asal lebih dari satu. Aku tidak mau anakku kesepian nanti.” Liam mengulas senyumnya. Liam yang sendiri kadang merasa kesepian. Tak ada saudara yang diajak bicara, sekadar membagi kebahagiaan.


“Apa seberat itu sendiri?” Loveta meraih tangan Liam. Menggenggamnya erat.


Liam memaksakan senyumnya. “Dulu aku punya banyak saudara saat di panti asuhan. Tidak pernah merasa kesepian. Namun, tiba-tiba semua sirna ketika aku tinggal di Italia. Hingga akhirnya aku sibuk belajar untuk menemani sepiku. Saat pertama kali tahu jika papaku punya anak, rasanya ada kebahagiaan di hatiku. Aku datang ke sana untuk meminta hakku. Aku tidak minta banyak sebenarnya. Andai papa mau membaginya dengan adil, mungkin aku tidak akan berubah memaksa meminta semua. Aku juga ingin berbagi dengan saudaraku.” Secuil perasaan yang dirasakan Liam itu tak pernah diungkapkan. Memilih menyimpannya.


Loveta mengeratkan genggaman tangannya. “Jangan menyalahkan diri, Kak. Takdir memang sudah berkata seperti itu. Jadi biarkanlah semua berlalu. Jika Kak Liam tidak punya saudara, ada Nessia dan Danish yang kini jadi saudara Kak Liam. Kak Liam juga punya keluargaku yang akan selalu ada untuk Kak Liam.” Loveta meyakinkan Liam. Agar Liam tidak sedih lagi.


“Terima kasih.” Liam menarik tangan Loveta dan mendaratkan kecupan di punggung tangan Loveta.  Selain beruntung dapatkan Loveta, ternyata dia beruntung mendapatkan keluarga Loveta.