
Dua minggu sudah Liam bekerja. Dia berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Tak mau sampai jadwal bulan madu tertunda.
Hari ini Liam membawa Loveta ke Venesia. Mereka menaiki gondola, menyusuri sungai. Bangunan kanan dan kiri yang berwarna-warni menjadi daya tarik tersendiri bagi Loveta. Pertama kali melihatnya.
Liam mengabadikan momen itu dalam sebuah foto. Sengaja mengajak seorang fotografer untuk mengabadikan semuanya. Hanya khusus beberapa jam saja.
Bangunan abad pertengahan yang cantik membuat mata tak jemu memandang. Loveta tak henti-hentinya mengaguminya.
Puas berjalan-jalan, mereka mampir ke restoran yang ada di sana. Menikmati pemandangan indah kota Venesia.
“Setelah ini kita ke mana?” Loveta begitu bersemangat sekali. Karena rasanya, sayang untuk dilewatkan.
“Kita akan menonton teater.” Liam memberitahu sang istri.
“Baiklah.” Loveta begitu bersemangat sekali. Setelah dua minggu di rumah terus, tentu saja ini yang ditunggu-tunggu.
Perjalanan jalan-jalan hari ini berlanjut dengan menonton teater. Ini adalah kali pertama untuk Loveta. Tentu saja akan menjadi memori indah untuknya.
Rasanya menjelajah satu kota tak akan habis begitu saja. Namun, mereka tetap harus memikirkan tubuh mereka untuk beristirahat.
“Kenapa kita buru-buru kembali? Kenapa tidak jalan-jalan dulu.” Loveta seperti anak kecil yang tidak mau diajak pulang.
Liam mendekat ke arah sang istri. Mendekatkan bibirnya tepat di telinga sang istri.
“Kita harus bawa cucu made in Italia. Jadi kita harus kembali ke hotel.” Liam berbisik tepat di telinga sang istri.
Liam sengaja memesan hotel. Kali ini dia ingin menghabiskan waktu bersama Loveta. Jika di rumah, dia merasa tidak nyaman masih ada banyak orang.
Pipi Loveta merona. Dia malu sekali mendengar hal itu.
“Lagi pula, kita tidak boleh terlalu lelah.” Liam kembali berbisik.
Loveta ingat pesan Mami Neta. Untuk tetap sehat dan jangan terlalu lelah. Karena itu akan membuat kualitas benih kurang bagus.
“Baiklah.” Loveta menjawab malu-malu.
Akhirnya mereka pergi ke sebuah hotel. Saat baru sampai, Loveta dibuat kagum dengan bagunan modern, tetapi tetap elegan.
Liam sudah memesan kamar. Jadi dengan segera mereka bisa masuk.
Saat masuk ke kamar, Loveta dapat melihat kamar begitu mewah. Ditambah dari dalam kamar, dia bisa melihat kota Venice yang begitu indah.
“Pasti akan menyenangkan menginap di sini.” Baru melihat pemandangan saja, Loveta sudah dibuat terpesona. Bayangan indah pun muncul begitu saja.
“Tentu saja pasti akan menyenangkan.” Liam memeluk sang istri dari belakang. Pastinya tinggal di kamar hotel membuatnya senang. Apalagi bisa menghabiskan malam dengan sang istri.
Liam mendaratkan kecupan di pipi sang istri, kemudian turun ke leher.
“Aku sepertinya mau mandi dulu.” Loveta merasa malu ketika suaminya mencium tubuhnya. Seharian beraktivitas di luar rumah membuatnya berkeringat.
“Kalau begitu ayo mandi.” Liam langsung mengangkat tubuh sang istri.
Liam hanya tertawa. Mengabaikan Loveta yang terkejut dan berteriak. Kemudian mengayunkan langkahnya ke kamar mandi.
“Kamu mau apa? Aku yang mau mandi, kenapa kamu ikut?” Loveta menatap sang suami lekat.
“Mandi sendiri tidak akan bersih, aku akan membantu.” Liam menyeringai.
Loveta menatap sang suami. Dia merasa yang dikatakan sang suami itu alasan tidak masuk akal. Selama ini, dia mandi sendiri, bersih.
Loveta tahu pasti ke mana arah tujuan sang suami. Dia pun tidak akan menolak. Lagi pula harus usaha untuk mendapatkan anak.
...****************...
Liam mengajak Loveta ke rooftop hotel. Menikmati makan malam.
Loveta begitu terpesona dengan pemandangan malam. Lampu-lampu yang begitu indah dipadukan dengan sungai yang cantik.
Liam membawanya Loveta ke salah satu meja. Makan malam romantis khusus untuk pasangan yang sedang berbulan madu.
“Kamu memesan ini?” tanya Loveta.
“Untuk bulan madu indah kita.” Liam menarik kursi dan mempersilakan Loveta duduk.
Loveta langsung duduk. Menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi.
“Ini akan jadi cerita indah yang diceritakan pada anak-anak kita kelak.” Loveta tersenyum.
“Kita harus buat banyak cerita. Agar kelak anak-anak kita punya cerita.” Liam memberikan saran pada sang istri.
“Aku ingin setelah kita punya anak, bisa jalan-jalan juga. Membuat kenangan manis untuk mereka.” Loveta kembali memberikan idenya.
“Iya, kita akan ajak anak-anak keliling dunia agar punya kenangan indah.” Liam setuju dengan ide sang istri.
Makan malam romantis mereka diiringi dengan alunan musik yang begitu merdu. Keduanya larut dalam kebahagiaan ini.
“Besok kita mau jalan-jalan ke mana?” Di tengah-tengah makan, Loveta bertanya. Dia begitu penasaran sekali. Tak sabat menikmati indahnya Italia.
“Tidak ke mana-mana.” Liam menjawab dengan percaya dirinya.
Senyum Loveta seketika surut. Dia merasa aneh. Karena Liam tidak berniat ke mana-mana.
“Kenapa?” tanya Loveta penasaran.
“Karena aku ingin menghabiskan waktu denganmu.” Liam tersenyum manis.
Loveta hanya bisa pasrah saja. Ternyata bulan madunya hanya akan berakhir di kamar saja. Namun, saat pemandangan kamar begitu indah, tidak ada salahnya. Yang terpenting, dia bisa menikmati waktu berdua dengan Liam.