Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 150


“Kalian ini masih lelah, kenapa memaksakan ke sini?” Mami Neta melemparkan protesenya


“Kemarin kami sudah istirahat. Tadi pagi kami sudah bangun siang. Jadi sudah cukup.” Loveta tersenyum.


Hari ini memang Liam dan Loveta belum mulai bekerja. Jadi wajar saja jika mereka menggunakan waktu untuk datang ke rumah orang tuanya. Memberikan oleh-oleh untuk mereka semua.


Mami Neta tidak bisa berkata apa-apa jika sudah begini. Apalagi anaknya sudah datang.


“Sudahlah, mereka juga sehat-sehat saja. Artinya mereka baik-baik saja. Tidak kelelahan.” Papi Dathan memberikan komentar.


Papi Dathan sengaja tidak ke kantor saat anaknya mengabari jika mereka mau datang.


“Iya.” Mami Neta mengangguk. “Ayo kalau begitu makan.” Mami Neta sudah membuatkan makanan untuk anak dan menantunya.


“Itu yang aku tunggu. Jauh-jauh aku ke sini hanya untuk menumpang makan.” Loveta tertawa. Sengaja dia memang datang di saat jam makan siang. Karena ingin menikmati makan makanan buatan sang mami.


Mami Neta tersenyum saja melihat aksi anaknya.


Mereka berempat menikmati makan bersama. Loveta benar-benar rindu sekali masakan sang mami.


“Aku benar-benar merindukan masakan Mami.” Loveta makan dengan lahapnya. “Aku bosan makan pasta dan roti terus. Makan nasi memang sangat membuat aku rindu.” Dua minggu tepatnya saat bulan madu, Loveta memang tidak makan nasi sama sekali. Di hotel, restoran, dan tempat-tempat yang dia datangi tidak ada nasi sama sekali.


“Sekarang sudah pulang. Jadi makanlah nasi sepuasnya.” Mami Neta tersenyum. Dia membayangkan akan serindu apa Loveta jika menetap di sana.


Di tengah-tengah makan, Loveta menceritakan indahnya kota-kota yang mereka kunjungi.


“Kalian harus pergi bersama kami nanti. Pasti akan sangat menyenangkan.” Liam menatap mertuanya.


“Kita bisa buat rencana untuk ke sana di saat anak-anak libur kuliah.” Papi Dathan setuju. Tidak ada salahnya ikut Liam dan Loveta pergi ke Italia kelak.


Loveta semakin bersemangat sekali. Tak sabar untuk menunggu keluarganya ikut ke Italia.


Seusai makan, mereka kembali ke ruang keluarga. Loveta bersemangat membuka oleh-olehnya.


“Ini untuk Mami dan ini untuk Papi, dan adik-adik ” Loveta memberikan paper bag berisi hadiah pada mami dan papinya.


Mami Neta langsung melihat tas yang diberikan anaknya. Ternyata tas keluaran dari brand ternama.


“Sayang, ini mahal. Kenapa beli semahal ini?” tanya Mami Neta.


“Tidak apa-apa, Mi. Aku belum pernah membelikan untuk Mami.” Loveta begitu senang ketika bisa membagikan kebahagiaan.


“Terima kasih.” Mami Neta senang ketika mendapati hadiah dari anaknya.


Papi Dathan juga ikut melihat oleh-olehnya. Sebuah dompet brand terkenal yang dibelikan anaknya. Walaupun tidak berharapkan hadiah, Papi Dathan senang.


“Lolo belikan dompet mahal untuk Papi. Agar nanti isinya lebih banyak dari harga dompetnya.” Loveta menggoda sang papi.


“Sepertinya Papi harus kerja keras agar melebihi harga dompet ini.” Papi Dathan tertawa.


Semua ikut tertawa. Merasa lucu dengan ucapan Loveta.


 


...****************...


 


Hari ini Liam dan Loveta sudah kembali bekerja lagi. Loveta berangkat dengan membawa oleh-oleh ke kantor untuk mamanya.


“Apa kamu sudah tidak lelah?” Liam menatap sang istri saat menyetir.


“Tidak.” Loveta menggeleng.


“Baiklah, kalau begitu. Nanti jangan lupa untuk makan siang. Aku tidak bisa bergabung karena pekerjaanku cukup banyak.” Liam menatap sang istri.


“Baikkah.” Loveta mengangguk.


Sesampainya di toko, Loveta segera turun. Sebelum turun dia mendaratkan kecupan di pipi sang suami.


“Sampai jumpa sore nanti.” Loveta segera turun.


Di toko, Loveta langsung membagikan oleh-oleh makanan pada karyawannya. Karyawan begitu senang sekali karena mendapatkan oleh-oleh.


Loveta mengerjakan pekerjaannya. Laporan tentang rencana kolaborasi dengan perusahaan Liam.


Saat mendengar jika sang mama sudah datang, Loveta segera ke ruangan sang mama. Membawa oleh-oleh untuk mamanya.


Sebelum masuk, Loveta mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Ma,” panggil Loveta ketika membuka pintu.


“Masuklah.” Mama Arriel mempersilakan Loveta untuk masuk ke ruangannya.


Loveta segera masuk. Mengayunkan langkahnya ke meja kerja sang mama. Tepat di depan kursi sang mama, Loveta duduk.


“Ini untuk Mama.” Loveta meletakkan paper bag di atas meja kerja sang mama.


“Apa ini?” tanya Mama Arriel.


“Oleh-oleh. Ada untuk papa dan Alca juga.” Loveta bersemangat sekali menjelaskan.


Mama Arriel penasaran. Dia segera membuka oleh-oleh yang diberikan anaknya. Alangkah terkejutnya ketika melihat jika oleh-oleh adalah tas keluaran brand terkenal.


“Sayang, Mama hanya kasih uang saku lima puluh juta, tapi kami belikan mama harga tas seharga itu.” Mama Arriel tidak habis pikir. Dia segera mengecek oleh-oleh lain. Ada baju keluaran brand ternama dan juga dompet. “Uang dari Mama kurang kalau begini ceritanya.” Mama Arriel merasa oleh-oleh yang diberikan melebihi uang saku yang diberikan.


“Uang dari Mama aku pakai sendiri. Kalau ini, Kak Liam yang belikan.” Loveta memberitahu.


“Tapi, ini cukup mahal.” Mama Arriel tidak enak sekali.


Loveta tersenyum. “Apa Mama lupa jika menantu Mama adalah pengusaha sukses,” ucapnya menggoda.


“Iya, Mama lupa.” Mama Arriel tersenyum. Dia sadar jika uang yang dikeluarkan Liam pasti tidak seberapa. “Sampaikan pada Liam terima kasih,” pinta Mama Arriel.


“Baik, Ma.” Loveta mengangguk.


“Aku sudah kirim laporan rencana kerja sama, Ma. Aku akan buatkan presentasinya nanti. Kapan kira-kira kita bisa rapat?” Loveta menatap sang mama.


“Jika kamu bisa melakukan sekarang, aku akan panggil team kita.” Mama Arriel tidak mau menunda. Lebih cepat dikerjakan akan lebih baik.  


“Baiklah, kalau begitu ayo kerjakan.” Loveta mengangguk.


Mama Arriel langsung memanggil teamnya untuk ke ruang rapat.


Loveta dan Mama Arriel ke ruang rapat bersama-sama. Di sana sudah ada team dari Malya Jawelry.


Loveta langsung melakukan prestasi. Menjelaskan bagaimana sepatu dari Marlene diproses. Kemarin ia sudah sempat membuat video. Jadi mereka semua bisa melihat hasilnya.


Loveta juga sudah membuat desain akan seperti apa sepatu dengan taburan permata.


Mama Arriel sangat suka dengan ide dari anaknya. Ini akan jadi gebrakan baru tentunya. Dia memberikan perintah untuk membuat team produksi. Karena belum dibuat dalam skala besar, tentu saja masih bisa dikerjakan. Mama Arriel meminta Loveta menyiapkan semuanya. Menyerahkan pada Loveta tanggung jawab ini.


Loveta dengan senang hati akan mengerjakannya. Karena dia ingin membuktikan pada mamanya.