Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 52


Mendapati ucapan Loveta membuat Liam begitu terkejut. Ini adalah kekalahannya yang sesungguhnya. Dibanding restoran, Loveta jauh lebih berharga. Tentu saja itu membuat begitu terluka.


“Apa kamu yakin jika akan menikah dengan Leo?” tanya Liam memastikan.


“Aku sudah menjalin hubungan cukup lama dengan Leo. Jadi apa yang aku ragukan. Jadi aku tentu saja akan menikah dengannya dengan penuh keyakinan.” Loveta seolah membohongi dirinya sendiri. Padahal ada terselip rasa untuk Liam.


Liam hanya memilih diam. Memikirkan sesuatu.


“Apa Leo melakukan ini agar kamu tidak dekat denganku?” Pertanyaan itu yang langsung terlontar dari mulut Liam.


Loveta tidak berpikir sejauh itu.  Namun, dia merasa mungkin yang dikatakan Liam memang benar. Bisa jadi Leo memang ingin segera mengajaknya menikah agar bisa menjauh dari Liam.  Sayangnya, Loveta tidak mau memperkeruh keadaan.


“Papi sudah meminta Leo melamar jauh sebelum masalah ini ada, Kak. Jadi aku rasa alasannya bukaan itu.” Loveta memberikan alasan lain pada Liam.


Liam tak dapat menyimpulkan apa-apa. Apalagi mungkin sebelum ada dirinya sudah ada permintaan Dathan Fabrizio.


“Kalau begitu aku pamit dulu, Kak.” Loveta segera berdiri. Dia tidak bisa berlama-lama di tempat ini.


Saat tidak mendapati jawaban dari Liam, Loveta memilih segera mengayunkan langkahnya.


Liam yang melihat Loveta pergi, segera mengajarnya. Liam menarik tangan Loveta dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Loveta jelas bingung dengan apa yang dilakukan oleh Liam. Tiba-tiba sekali Liam memeluknya.


“Kak.” Loveta memanggil Liam. Namun, tampaknya Liam sibuk dengan memeluk dirinya.


Hingga akhirnya sesaat kemudian Liam melepaskan pelukannya. Dia sadar jika Loveta tidak memilihnya. Tak ada perasaan padanya.


“Semoga pilihanmu tepat. Jika kamu akan ada untuk Leo. Maka aku akan ada untukmu jika kamu terluka karenanya.” Liam menatap Loveta yang berada di depannya itu.


“Terima kasih, Kak.” Loveta mengangguk.


Segera Loveta pergi dari apartemen Liam. Tak mau sampai hatinya goyah.


Liam hanya menghembuskan  napasnya. Ada rasa sesak yang menyelimuti hatinya.


“Kenapa aku tidak mengatakan jika aku mencintainya?” Liam merutuki kebodohannya itu. Dia merasa harusnya tadi bisa memanfaatkan keadaan yang ada dengan mengatakan jika dia mencintai Loveta.


 


...****************...


Leo melihat dirinya dari pantulan cermin. Penampilannya sudah sempurna untuk malam ini. Tentu saja tak sabar untuk segera pergi ke rumah Loveta.


“Setelah ini, aku akan memiliki Lolo seutuhnya. Tidak akan aku biarkan dia mengambilnya dariku.” Ada perasaan takut yang menghantui Leo. Apalagi Liam begitu dekatnya dengan Loveta.


Suara ketukan pintu terdengar. Leo segera mengalihkan pandangan ke pintu. Tampak sang mama menyembul dari balik pintu.


“Apa kamu sudah siap?” Bella melebarkan pintu dan menghampiri sang anak.


“Sudah, Ma.” Leo mengangguk.


Bella merapikan kemeja yang dipakai sang anak. Malam ini sang anak tampak gagah sekali. Senyuman di wajahnya tampak indah.


“Kamu sepertinya bahagia sekali.” Bella membelai lembut wajah sang anak.


“Aku akan menikahi wanita yang aku cintai. Jadi tentu saja aku bahagia.” Leo melebarkan senyuman di wajahnya. “Aku adalah pemenang sebenarnya.”


“Maksudmu?” Bella masih tidak mengerti dengan yang dikatakan anaknya.


“Ternyata pria itu mengenal keluarga Fabrizio. Ternyata dia mengenal Lolo saat di panti asuhan. Mereka sempat dekat.” Leo menceritakan sedikit kedekatan Liam dengan Loveta.


Bella terkejut. Baru tahu ternyata Liam kenal dengan calon besannya.


“Keputusanmu sudah benar. Kamu menikahi Lolo, dan jika bisa jauhkan dari anak itu.” Bella tidak mau anak istri pertama suaminya itu mendapat dukungan dari calon besannya.


“Tentu saja. Aku akan segera menikahi Lolo dan menjauhkan Lolo dari pria itu, Ma. Aku tidak mau dia merebut Lolo dariku.” Leo sadar jika Liam bisa saja mengambil Loveta darinya.


Bella terdiam. Dia seolah berkaca padanya. Dulu dia merebut suaminya dari mama Liam, dan saat sekarang terjadi pada anaknya. Ada perasaan takut karma akan berlaku padanya.


“Mama tidak akan biarkan dia merebut Lolo darimu.” Bella setuju dengan ucapan anaknya. Dia pun akan mendukung terus.