
"Fira," panggil Adit, yang kini sudah berdiri di dekatnya.
Fira segera menghapus air matanya, dan mendongakkan kepalanya melihat ke arah suara yang memanggilnya.
"Kak Adit," ucapnya sambil membuang muka.
"Kau menangis?" tanya Adit. Fira menggelengkan kepalanya, sambil menunduk.
"Aku kemari bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin meminta maaf, atas kejadian waktu di Amsterdam itu," ucap Adit, yang masih berdiri di dekat Fira.
"Tidak perlu meminta maaf," jawab Fira.
"Baiklah, ... sekarang kau sendiri yang sudah mengetahui semuanya. Aku hanya tak ingin kau salah paham kepadaku. Aku tidak berniat sama sekali untuk menjelekkan suamimu. Aku hanya tak ingin kau kecewa karenanya," ucap Adit.
Fira terdiam sejenak, mencerna akhir kata yang di ucapkan oleh Adit. "Sudahlah, lagi pula aku tidak apa-apa."
Adit menatap Fira dengan rasa kasihan, tak tega membiarkan wanita yang sampai saat ini, masih mengisi hatinya, itu bersedih di hadapannya. Rasanya ia ingin memeluk Fira dan menenangkannya.
"Baiklah, kau tenangkanlah dirimu. Dan ... ini, ambillah, semoga ini bisa sedikit menenangkan suasana hatimu," ucap Adit, menyodorkan tiga permen coklat, yang dia ambil dari saku hoodienya.
Fira sejenak menatap ke arah permen yang ada di tangan Adit. Sedari dulu Adit sering memberikan permen coklat itu padanya, jika dia sedang bersedih. Dan kini, tepat di saat suasana hati Fira sedang tidak baik, Adit kembali memberikan permen itu padanya.
Melihat Fira yang tak mengambil permen itu, Adit berinisiatif untuk menyimpannya di atas kursi di samping Fira.
"Aku akan menyimpannya di sini, nanti kau boleh mengambilnya." ucap Adit, sambil menaruh tiga permen itu di atas kursi.
"Baiklah, aku akan kembali ke dalam," pamit Adit, berlalu meninggalkan Fira sendirian. Meskipun ia tak tega, tapi Adit tahu betul, kalau di saat seperti ini, Fira tak ingin diganggu oleh siapa pun.
Mata Fira kini melirik ke arah permen yang ada di sampingnya itu, ia mengambil salah satu dari tiga permen yang tergeletak itu.
Menatapnya dengan tatapan begitu sedih. Dan tiba-tiba Fira ingat akan Bundanya. Karena dulu, ketika ia sedih karena mengingat Bundanya, Adit akan memberikan begitu banyak permen coklat ini kepada Fira.
"Bunda..." lirih Fira.
Perlahan Fira membuka bungkus permen itu, dan memasukkan permen coklat itu ke dalam mulutnya.
Tak lama Dion kembali, membawa dua botol minum untuknya dan untuk Fira.
"Fira, ... ini, minumlah" ucap Dion, sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Fira. Dan Fira menyahutnya, sambil mengucapkan terima kasih kepada Dion.
Dion kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Fira, namun masih menjaga jarak cukup jauh.
"Fira, kau tenanglah. Jangan terlalu memikirkan kejadian tadi. Yang perlu kau ingat sekarang adalah, Bara sudah memilihmu. Dan tentunya kau pun harus mendukungnya. Jangan biarkan di saat seperti ini Raina mengambil kesempatan untuk kembali mendekati Bara," tutur Dion.
Fira terdiam, mendengar ucapan Dion. Mencoba mencerna dari setiap perkataan itu.
"Mas Bara sudah memilihku?" batin Fira.
"Fira, aku tahu betul Bara orangnya seperti apa. Dalam mengambil sebuah keputusan, dia tidak akan pernah ragu dengan pilihannya itu. Dan setelah mengambil keputusan itu, Bara akan memperjuangkan pilihannya, meskipun sesulit apa pun."
"Dan tentunya, kini, ketika dia memutuskan hubungan dengan Raina dan lebih memilihmu, itu pertanda bahwa kau sudah menjadi orang yang akan dia perjuangkan, sesulit apa pun itu. Dia akan teguh dengan pendiriannya," sambung Dion.
"Benarkah? tapi Mas Bara pernah mencintai Nona Raina, dan kini di saat seperti ini, Mas Bara pasti akan mengalihkan perhatiannya untuk Nona Raina," ucap Fira dengan wajah sendunya.
"Fira... seharusnya, di saat seperti inilah, kau menunjukkan kepada Raina, siapa kau dimata Bara. Kau istri sah nya Bara. Bara sudah memilihmu, tentunya perhatian Bara, tetaplah milikmu."
"Aku tahu, di saat seperti ini, Raina akan mencari kesempatan untuk kembali menarik perhatian Bara. Tapi kau tenang saja, aku akan memberikanmu ide cemerlang," ucap Dion, tersenyum miring.
"Ide? Ide apa?" tanya Fira, yang penasaran.
***
Sementara itu, Bara yang berada di ruangan Raina. Sedari tadi, Raina tidak ingin melepaskan pelukannya dengan Bara. Bahkan darah dari tangannya sudah naik ke atas infusan. Karena tangan Raina yang tak sesuai dengan posisi seharusnya.
"Raina, lepaskan! lihatlah darahmu, sudah naik," ucap Bara. Namun tak membuat Raina goyah akan pelukannya.
"Biarkan saja, kalau aku melepaskanmu, kau nanti pasti akan pergi meninggalkanku," ucap Raina dengan manja.
Bara semakin kesal dibuatnya. "Raina! kau jangan seperti anak kecil. Cepat lepaskan tanganmu ini!" seru Bara, hendak menjauhkan tubuhnya dari pelukan Raina.
Nenek Raina, yang melihat tingkah cucu kesayangannya seperti itu, ia kemudian segera bertindak, karena ia juga merasa kasihan kepada Bara.
"Rain sayang... lepaskan sayang. Lihatlah darahmu sudah naik, ini harus segera di ganti," ucap Nenek dengan lembut.
"Aku tidak mau Nenek!" rengek Raina.
"Rain sayang... Bara tidak akan meninggalkanmu, dia akan tetap di sini. Kau lepaskanlah dulu tanganmu, jangan memeluknya seperti itu. Kasihan dia," tutur nenek begitu lembut, mencoba membujuk Raina agar mau melepaskan pelukannya dengan Bara.
Mata Nenek Raina tertuju kepada Bara, seakan memberinya kode. Dan Bara mengeri akan kode dari Neneknya itu.
"Baiklah, lepaskan pelukanmu dulu, dan aku tidak akan pergi meninggalkanmu," ucap Bara.
Adit dan Messy yang berada di sana pun ikut membujuk Raina, agar ia mau melepaskan pelukannya dengan Bara. Dan akhirnya Raina pun melepaskan pelukannya itu.
"Bara, kau tidak akan meninggalkanku kan?" tanya Raina. Sejenak Bara menatap ke arah Neneknya Raina. Kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Nona Raina ini sebenarnya sudah mengetahui semuanya, tapi kenapa dia masih terobsesi kepada suami orang," gumam Adit, yang seakan tak suka melihat tingkah manja Raina kepada Bara.
Adit melirik ke arah Messy, kemudian ia menatapnya dengan tatapan kosong.
"Bagaimana jika itu terjadi anatara aku dan Messy, jika aku memutuskan hubungan dengannya, apa dia juga akan melakukan hal menjijikkan seperti yang dilakukan Nona Raina kepada Pak Bara?" batin Adit, bertanya tanya.
"Kak Adit, ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Messy, yang sadar, sedang diperhatikan oleh Adit.
Adit mengerjapkan matanya, kemudian menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak, tidak apa-apa," ucap Adit.
Kemudian Messy, mengaitkan tangannya dengan lengan Adit, bergelayut manja kepada Adit.
"Kak Adit, aku lapar...." ucapnya dengan suara manja.
"Ya sudah, ayo kita keluar mencari makan," ajak Adit, Messy pun dengan semangat mengiyakan. Tak lupa Nenek, meminta Messy untuk memanggilkan dokter, karena infusan Raina harus segera diganti.
Messy, melirik sinis kepada Fira. Kemudian mengumpati Fira di dalam hatinya.
"Fira," panggil Bara saat mengetahui Fira yang baru masuk bersama Dion. Sedikit ada rasa tak suka Bara kepada Dion, karena ia harus melihat Fira yang jalan berdua bersama Dion.
"Mas," Fira menghampiri Bara, yang berdiri tak jauh dari Raina.
"Fira, apa kau baik-baik saja?" tanya Bara. Fira menganggukkan kepalannya.
"Mas, aku ingin berbicara padamu," ucap Fira, sedikit berbisik.
"Ya sudah ayo," ajak Bara, hendak keluar meninggalkan Raina.
"Bara! Kau jangan pergi...." pinta Raina, memanggil.
"Aku hanya ingin duduk! bukan pergi!" seru Bara, sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa bersama Fira.
Raina yang mendapat jawaban tak mengenakan, ia hanya bisa mengerucutkan bibirnya, karena merasa kesal.
"Nenek, sebaiknya kau pulanglah dulu, Raina biar aku dan Bara yang menjaganya," ucap Dion.
Nenek Raina, seakan tak tega meninggalkan cucu kesayangannya itu. Namun ia juga tak bisa kalau harus seharian menjaga cucunya, terlebih di usianya yang sudah tak muda lagi, ia tak boleh kelelahan apalagi kurang beristirahat.
"Baiklah kalau begitu,"
"Nak Bara," panggil Nenek dari jauh.
"Iya Nek," jawab Bara, yang duduk di sofa.
"Apa kau yakin akan menjaga cucu nenek?"
Bara terdiam, tak langsung menjawab. Kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Fira. Dan Fira tersenyum mengangguk pelan, memberikan kode kepada Bara, agar mengiyakan permintaan neneknya.
"Iya Nek, saya akan ikut menjaganya bersama Dion," jawab Bara.
Nenek pun tersenyum lega, ia mewanti-wanti kepada Raina, agar ia tidak menyusahkan orang-orang yang menjaganya. Kemudian Nenek pun pamit. Dan di antar oleh Dion, ke parkiran.
Raina, yang melihat kebersamaan antara dan Fira ia semakin merasa tak suka. Matanya seakan sakit melihat mereka berdua yang sedari tadi duduk mengobrol, namun dengan suara yang sangat pelan.
"Apa yang mereka bicarakan! sungguh menyebalkan!" gumam Raina.
Tak lama dokter pun datang bersama seorang suster. Dokter itu kembali mengecek keadaan Raina, dan segera mengganti infusan yang sudah terdapat darah di selangnya itu.
"Tuan Bara," panggil dokter.
Bara yang merasa dipanggil oleh dokter, ia hanya diam duduk di sofa bersama Fira. Rasanya ia enggan untuk menyahuti panggilan dokter itu.
"Tuan, untuk dua hari ini, sebaiknya kau yang menjaga pasien di sini, karena itu akan berefek bagus untuk pemulihannya."
"Tapi dok, saya–"
"Hanya dua hari saja Tuan, setelah itu kami akan mengecek kembali perkembangan pasien."
Bara berdecak kesal, seakan tak mau menuruti semua permintaan dokter itu.
"Sudahlah Mas, ingat apa yang aku bilang padamu tadi. Aku akan tetap di sini bersamamu," ucap Fira pelan, mencoba menenangkan Bara.
Dokter dan perawat yang sudah selesai mengganti infusan, mereka segera keluar meninggalkan ruangan.
Sedangkan Raina, ia terlihat sangat senang sekali, saat mendengar perkataan dari dokter tadi.
"Nona Fira, kau dengar sendirikan apa yang di katakan dokter tadi," ucap Raina, dengan sombong.
"Tentu saja, saya mendengarnya," jawab Fira dengan ketus.
"Kalau begitu, pergilah dari sini! biarkan Bara di sini bersamaku!" timpal Raina.
Fira mendengus kecil, sambil tersenyum kecut.
"Nona Raina, apa kau pura-pura lupa? Mas Bara ini suamiku, dan saya ini adalah istri sahnya Mas Bara. Tentu saja saya sebagai istri sah Mas Bara... saya akan selalu menemaninya di mana pun dan kapan pun," ucap Fira penuh penekanan, sambil bergelayut dan menyenderkan kepalanya di bahu Bara.
Bara yang mendengar ucapan tak terduga dari mulut Fira, ia begitu terkesiap. Sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu, namun hal itu membuat Bara semakin senang dan lega.
"Benar, Fira, akan tetap di sini bersamaku!" timpal Bara.
Raina semakin dibuat geram dengan perkataan yang Fira lontarkan. Di dalam hatinya ia mengutuki Fira, dan mengumpatinya. Rasanya ia ingin mencakar mulut Fira dengan kuku-kuku tangannya.
"Lihat saja kau Fira, apa yang akan aku lakukan padamu nanti! Dan aku akan merebut kembali perhatian Bara darimu!" batin Fira. Menatap tajam ke arah Fira dengan tatapan tak suka.
.
.
.
Bersambung....
Hari ini udah upload 3 episode.
Gak mau tau pengen di vote yang banyak 🤭😂 (hehe maksa ya)
Terimakasih buat kalian semua yang sudah dukung dela dengan cara like, komen dan vote yang ngaburudul begitu banyak. Dela seneng banget.
Jazakumullah khairan katshiro.
Love you semuanya. ❤️
Sampai bertemu di episode selanjutnya.