
Hans kembali memikirkan apa yang Tiara katakan, memang sepertinya ucapan Tiara itu benar. Awalnya dirinya hampir sama memperlakukan Tiara dengan mereka berdua, tetapi saat Tiara masuk ke rumah ini Tiara langsung memberikan perhatian lebih, menyiapkan kebutuhannya dan mengisi sesuatu yang kosong di dirinya. Berbeda dengan mereka yang tidak tulus bersama dengannya, hanya ingin kekayaan dan tubuhnya saja.
"Kenapa kamu diam lagi sih mas, kalau ada yang ingin kamu ceritakan ceritakan saja padaku. Aku manggil kamu sayang ya, asik deh mempunyai suami yang tampak seperti kamu," ucap Tiara.
"Semakin menggatal saja wanita saat ini, Awas nanti malam akan ku habisi dirimu," kata Hans.
"Wah takutnya." Tiara mengatakannya dengan ada ejekan.
Dirinya sudah tahu bagaimana menghadapi Hans, lagi sekarang Hans sudah lebih mudah diajak bercanda. Mengapa yang malas sangat nyaman berada di dekat pria galak ini, satu minggu lebih menikah dengan membuat Tiara sudah mengerti apa yang Hans perlukan.
"Mulai ya." Hans menarik Tiara ke atas pangkuannya.
"Mas punya kamu kok bisa sebesar apa itu ya, sekarang saja merasa mengganjal," ucap Tiara.
"Hahaha tapi kamu suka kan," tanya Hans.
"Sakit kok," jawab Tiara.
**
Keesokan harinya, hari ini Tiara dan Hans akan bertemu dengan Herman. Mereka berdua akan membahas rencana yang sudah Herman buat, sebenarnya Tiara tidak mau mengikuti rencana ini tetapi kedua orang ini memaksanya untuk mengikuti rencana aneh ini. Hans dan Herman sama-sama kekeh agar Tiara dapat mengikuti rencana ini dengan baik, kalau tidak Hans sudah mengancamnya dengan sesuatu yang mengerikan.
"Jika kamu membandingkan dia dengan aku ya sudah pasti dia tidak ada apa-apanya, tetapi kalau kamu membandingkan dia dengan orang awam itu sudah lebih baik," ujar Hans.
"Kamu sombong sekali, dan kamu sangat percaya diri sekali, emang setampan apa sih kamu," ucap Tiara.
"Tiara rencana akan kita laksanakan nanti malam, kamu jangan macam-macam ya. Semuanya harus sesuai dengan apa yang sudah kita kesepakati, Tuan Hans sudah banyak berkorban untuk kita," ujar Herman.
"Sepertinya kata untuk kita itu tidak cocok, sebenarnya itu tuh ayah saja, dia benar-benar sangat egois sekali," ucap Tiara dalam hati, dirinya tidak mengerti apa yang sedang dua orang yang dipikirkan. Ayahnya gila dengan harta, sedangkan suaminya entah mengapa tidak mau bertemu dengan Abang sendiri, padahal sebenarnya tinggal mengaku saja dan tidak perlu menjalankan rencana seperti ini.
Setelah berbicara dengan Herman Tiara dan Hans pergi meninggalkan tempat itu, mereka berdua langsung ke perusahaan tempat Hans bekerja, tidak seperti sebelumnya yang Hans meminta diharap untuk berjalan di belakangnya, kali ini Hans menggandeng tangan Tiara tanpa rasa malu dan ragu, hal itu sebenarnya cukup membuat cara terkejut, tapi setelah mengingat kedekatan yang baru saja terjalin Tiara tidak jadi terkejut, hal ini malah menjadi hal yang biasa. Karena kemarin Hans menggendongnya dengan jarak yang sangat jauh, walaupun Hans waktu itu juga sedang kelelahan.
"Kamu mau aku buatkan kopi tidak?"
"Tumben tidak aku suruh kamu bergerak sendiri, sebenarnya apa yang kamu inginkan," tanya Hans.
"Tidak ada ah, aku tidak sedang menginginkan apa-apa, aku hanya menjalankan kewajibanku dengan baik," jawab Tiara.
"Hahaha dengan baik konon. Ya sudah sana buatkan, seperti biasanya ya Awas saja tidak enak," ucap Hans sambil tersenyum.