
Pagi ini, Fira, Selly, Merry dan Farhan sedang menunggu kedatangan Pak Reza di perpustakaan. Karena ingin melakukan revisi skripsi mereka, sekaligus untuk mendaftar wisuda.
20 menit sudah mereka menunggu, dan akhirnya Pak Reza pun datang.
"Maaf, sudah pada lama menunggu ya?" tanya Reza, mendudukkan tubuhnya di atas kursi kosong, satu meja dengan mereka.
"Tidak apa-apa Pak," ucap Farhan. Mereka semua pun segera mengeluarkan laptop mereka, untuk merevisi kembali beberapa kesalahan yang ada di skripsi mereka.
^
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang, 4 jam sudah, mereka lalui untuk menyelesaikan revisi skripsi.
"Fira," panggil Reza. Fira yang tengah membereskan barang-barang milikknya, ia segera menoleh.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Fira. Selly dan Mery pun ikut menoleh ke arah Reza, sementara Farhan ia sudah pulang terlebih dahulu.
"Em... setelah ini kau ada acara atau ada urusan penting gitu?" tanya Reza, sedikit ragu.
"Em... tidak, memangnya kenapa Pak?"
"Ada yang ingin saya bicarakan denganmu, tapi kalau bisa, kita berbicara di tempat lain saja," ucap Reza.
Fira sejenak melirik ke arah Mery dan Selly, memberikan tatapan penuh arti kepada mereka berdua.
"Oh... iya, kau bisa mengajak teman-temanmu juga, tidak apa, kita bisa berbicara di kafe sebrang kampus."
Fira kembali mengalihkan pandangannya kepada Reza, kemudian kembali menatap dua sahabatnya.
"Em... baiklah," ucap Fira, pelan.
Reza tersenyum, mereka pun segera merapikan barang-barang mereka. Dan segera pergi menuju kafe yang ada di sebrang kampus.
Baru berjalan sampai lorong Aula saja, Fira sudah terlihat kecapean. Bahkan ia merasa dirinya begitu haus.
"Selly, Mery, aku haus," rengek Fira.
"Bukannya, sedari tadi lo minum terus? Botol minum gue aja setengahnya di abisin sama lo," ujar Merry.
"Tapi masih haus...."
"Ini, minum punya aku aja." Selly menyodorkan botol minum miliknya yang terlihat tinggal setengahnya lagi. Fira langsung mengambilnya dan meneguknya sampai habis.
Mereka kembali berjalan, menuju musola kampus terlebih dahulu untuk melaksanakan solat duhur, sementara Reza dan Merry mereka menunggu di luar musola, karena mereka berbeda agama dengan Selly dan Fira.
Setelah selesai solat, mereka semua kembali melanjutkan jalan kaki menuju kafe di sebrang kampus. Kini mereka sudah sampai di kafe.
"Oh ya, apa kita bisa duduk dengan meja terpisah, ada suatu hal pribadi yang harus saya bicarakan dengan Fira?" tanya Reza pada Selly dan Mery.
Selly dan Merry pun sejenak beradu pandang, "Em... baiklah, kita akan duduk di sebelah meja kalian," ucap Selly.
Kini Reza dan Fira pun mendudukkan tubuh mereka di atas kursi, tak jauh dari meja Sely dan Mery. Reza segera memanggil pelayan, dan memesan beberapa minuman untuknya dan untuk murid-muridnya.
***
Sementara itu di Cleon Company.
Bara sedari tadi di fokuskan dengan beberapa meeting dengan klien-klien barunya. Ternyata semenjak kejadian siaran langsung di TV kemarin, membuat dirinya trending di sosial media maupun di dunia perbisnisan. Bahkan beberapa investor sekarang banyak yang menghubungi perusahaannya, untuk menanamkan modal di perusahaan Bara.
Jam istirahat, sudah berlalu, ia seharusnya kembali menemui pertemuan penting dengan kliennya di sebuah kafe. Namun sedari tadi Bara merasa tidak enak hati.
Yang ada di pikirannya sekarang hanya lah Fira, Fira dan Fira.
"Kau kenapa terlihat cemas seperti itu?" tanya Dion, yang baru masuk ke ruang kerja Bara, membawa sebuah dokumen di tangannya.
"Entah lah, aku terus saja memikirkan Fira, hm... sekarang yang ada di pikiranku hanya ada dia seorang," ucap Bara, sambil menyandarkan kepalanya di bahu kursi, membayangkan wajah cantik istrinya.
"Baru beberapa jam tidak bertemu saja, kau sudah seperti ini," gerutu Dion, menyimpan dokumen itu di atas meja kerja Bara.
"Mungkin karena aku terlalu merindukannya," ucap Bara.
"Haih... cepat bersiaplah, sebentar lagi kita akan pergi menemui klien kita yang ke 3," ujar Dion. Namun Bara, masih menatap kosong langit-langit ruangan.
Matanya kini terfokus ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 13.30 siang. Bara segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya, tanpa menghiraukan perkataan Dion.
Kini ibu jarinya, sibuk menscroll layar ponsel yang di pegangnya, mencari satu kontak yang bernama 'Istri Cantikku'. Bara segera menelepon Fira, hingga panggilannya terhubung.
"Wa’alaikumussalam sayang, kau sedang apa? Apa revisi skripsinya sudah selesai?" tanya Bara, dengan memasang wajah yang ceria berseri, saat mendengar suara sang istri.
"Iya Mas, sudah selesai, tapi a-aku, sekarang sedang di kafe bersama Pak Reza dan–"
"Reza?"
"Reza dosenmu?" potong Bara, seketika wajahnya berubah ekspresi.
"Iya Mas, ta-tadi, Pak,"
"Di kafe mana?" tanya Bara, menghentikan ucapan Fira.
"Di kafe sebrang kampus," terdengar suara Fira seperti orang gugup.
"Cepat, alihkan ke video call," perintah Bara. Kini Ia dan Fira, bisa langsung bertatap muka via ponselnya masing-masing.
Dan benar saja, di belakang Fira terlihat suasana kafe yang cukup ramai.
"Kau berdua dengan dosenmu itu?" tanya Bara, memasang wajah marahnya.
"Tidak Mas, di-di sini ada Merry dan Selly juga," ucap Fira seakan takut.
"Mana?" tanya Bara, ingin melihat. Kini terlihat kamera ponsel Fira, di arahkan ke satu meja yang dimana di sana terdapat Selly dan Merry yang sedang duduk berbincang.
"Fira! Kau duduk terpisah bersama mereka!" seru Bara, semakin tak suka.
"Iya, ta-tapi aku dan mereka deketan ko mejanya, karena tadi, pak re–" Bara seketika mematikan ponselnya.
Rasanya ia tidak terima, mengetahui kalau istrinya sedang duduk berbincang dengan lelaki lain. Sekalipun itu hanya dosen pembimbingnya, tapi kini bayangan-bayangan tak di inginkan sudah merasuki pikirannya.
Bara, beranjak pergi dari ruang kerjanya, dengan muka yang tak ramah, bahkan terdengar suara pintu yang ruangan yang di tutup secara keras, membuat Dion, yang sedang duduk di balkon, fokus mengurus pertemuan meeting nanti, menoleh segera ke arah pintu ruangan.
Dilihatnya sudah tak ada Bara di ruangan ini. Dion segera berlari keluar dari ruangan untuk mengejar Bara.
"Ke mana Dia?" gumam Dion, seakan kesal. Ia segera berlalu menuju lift pribadi. Dilihatnya angka yang berada di atas pintu lift, sudah menunjukkan angka 1.
"Sial! Mau ke mana dia ini," gumam Dion, kesal karena sebentar lagi akan segera masuk ke jadwal meeting dengan klien.
Pintu lift terbuka, dan Dion segera masuk. Dan segera menekan tombol angka 1. Beberapa menit kemudian Dion sudah sampai di lantai 1, atau di lobby kantor.
Ia segera berlari keluar berharap bertemu dengan Bara. Dan benar saja, ia menemukan Bara, namun sayangnya ia hanya melihat Bara, yang sedang menjalankan mobilnya dengan begitu kencang.
"Mau ke mana dia ini? Selalu saja merepotkan!" gerutu Dion, yang sudah tahu, kalau terjadi hal seperti ini, ia harus bersiap-siap di maki olwh kliennya karena tak bisa menepati janji pertemuannya.
Sementara itu, Bara yang tengah menjalankan mobilnya dengan setengah kerasukan, ia menjalankannya dengan begitu kencang, matanya terlihat begitu menatap tajam, ke jalanan. Bahkan urat urat di bagian pelipisnya, terlihat mengencang.
Sepertinya pria ini sedang dalam tempramen yang tidak teratur. Emosinya seakan sudah bergemuruh di dadanya.
"Awas saja, kalau kau macam-macam, kau tahu sendiri apa hukumannya!" gumam Bara, yang fokus menyetir jalanan.
"Argh! Kenapa dia masih berani ke kafe dengan pria lain, selain aku hah!"
"Fira... kau benar-benar sudah memancingku!" Bara terlihat mengeratkan giginya, seakan merasa kesal dengan apa yang ia ketahui sekarang.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya telat upload.
Sedikit cerita untuk mengobati rasa rindu kalian kepada Fira dan Bara.
Jangan lupa like, komen dan vote yanv banyak ya. Biar Dela makin semangat bikin ceritanya.
Follow juga ig Dela : @dela_delia25
Aku sering bikin story tentang nulis di ig juga ya. 😁