
Siang ini seperti biasa Fira sedang sibuk mencatat laporan penjualan dan pemesanan kue di tokonya. Dan untuk minggu ini ia cukup mendapat banyak orderan, bahkan hal ini membuat Fira harus turun tangan ikut membantu pegawai di dapur.
Fira fokus, mencatat sambil sesekali ia melirik ke sebelah tangannya yang sedang memegang kertas-kertas nota.
Ia memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya itu. Fira tersenyum mengingat hal yang di lakukan oleh Bara, semalam.
"Eh... kenapa aku malah memikirkan Mas Bara," sadarnya.
"Cincin ini dia berikan hanya sebagai tanda hadiah, bukan apa-apa. Sadar Fira sadar... tidak mungkin Mas Bara memberi ini dengan niat lain, selain hanya memberiku kejutan," gumamnya.
"Kakak." Tiba-tiba Fira di kejutkan dengan suara yang tak asing di telinganya, terlebih ia di kejutkan dengan kehadiran Bima, yang sudah ada di sampingnya.
"Bima. Kau ada di sini? Kapan kau pulang? Kenapa tidak memberi tahu Kakak? Kakak sangat merindukanmu." Rentetan pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Fira, ia begitu terkejut, senang dan antusias, akan kedatangan adiknya itu.
"Kakak ini, selalu saja bertanya seperti itu. Aku sekarang sudah libur ujian Kak, jadi aku memilih pulang. Aku juga merindukan Kakak dan Ayah," tutur Bima, sambil menyalami dan mencium punggung tangan Fira, kemudian memeluknya sebentar.
"Ayo duduk," ajak Fira, menggiring Bima untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangannya itu.
Mereka berdua duduk mengobrol, sambil melepas rindu. Dan tak sedikit Bima melontarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai Fira dan Bara. Bahkan Bima menagih oleh-oleh dari Kakaknya.
"Tenang saja, Kakak sudah menyiapkan oleh-oleh untuk kamu dan Ayah, nanti Kakak dan Mas Bara, akan pergi ke rumah, untuk mengunjungi ayah," tutur Fira, Bima pun mengangguk.
Mata Bima, kini di fokuskan dengan cincin berlian biru, yang melingkar di jari manis Kakaknya itu.
"Kak Fira, apa ini cincin dari Kak Bara?" tanya Bima, sambil meraih lengan Fira, menatap cincin itu dengan teliti.
"Iya, tadi malam, Mas Bara memberikannya kepada Kakak,"
"Wah... bagus sekali, pasti harganya sangat mahal. Kak Fira beruntung sekali, di sayang Kak Bara," ucap Bima.
"Di sayang? apa memberi cincin bisa di sebut sebagai tanda kasih sayang?" batin Fira.
Fira pun menyudahi obrolannya dengan Bima, dan mengajak Bima untuk pergi makan ke restoran. Bima pun dengan semangat mengiyakan.
***
Japanes Resto.
Fira dan Bima segera mendudukkan tubuh mereka di atas kursi, meja bundar. Mereka berada di sebuah restoran jepang. Fira segera memesan beberapa makanan jepang untuknya dan untuk Bima.
Sambil menunggu makanan mereka datang, Fira dan Bima memainkan sebuah permainan yang sering mereka lakukan, yaitu permainan jujur atau lakukan.
Fira memulai permainannya dengan memberikan pilihan kepada Bima, jujur atau lakukan. Dan di permainan pertama ini Bima lebih memilih untuk jujur.
Fira melontarkan sebuah pertanyaan pertamanya kepada Bima. "Bima! jawab jujur! Apa kau sudah mempunyai pacar?" tanya Fira, menatap Bima.
"Tidak!" jawab Bima.
Kini giliran Bima yang bertanya kepada Fira.
"Kak Fira, apa sekarang Kakak sudah jatuh cinta kepada Kak Bara?" ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Bima.
"Kau ini, kenapa bertanya seperti itu!" protes Fira.
"Dilarang protes... ayo pilih jujur atau lakukan?"
"Baiklah, jujur, ... Kakak tidak tahu," jawab Fira.
"Eh... tidak boleh seperti itu, Kakak hanya harus menjawab iya atau tidak!" protes Bima, yang tidak terima dengan jawaban Fira.
"Ya Kakak tidak tahu!"
Bima mendengus kecil, "Ya sudah, karena kakak tidak menjawab dengan benar, Kakak harus melakukan sesuatu," ucap Bima, memberi kompensasi kepada Fira.
"Ya sudah apa?"
"Em...." mata Bima melihat ke sekitar, mencari bahan untuk mengerjai Kakaknya itu.
"Katakan hai, kepada lelaki yang memakai kacamata itu," ucap Bima sambil menunjuk ke arah orang yang di maksud. Fira menoleh, ke arah yang di tunjukkan oleh Bima.
"Tidak! Tidak Mau, nanti aku di sangka ganjen lagi!" tolak Fira.
"Kakak ini bagaimana sih, disuruh jujur, bilang tidak tahu, disuruh melakukan, malah tidak mau! Ya sudah sini biar aku coret saja wajah Kakak dengan ini." Bima seketika, mengoleskan sesuatu dari tanganya, ke hidung Fira.
"Bima! kau mengoleskan apa ini, kenapa bau nya seperti ini?" ucap Fira, sambil mengusap kembali hidungnya.
"Itu, minyak roll on, buat masuk angin," ucap Bima, sambil terkekeh.
"Kenapa hidungku jadi panas," ucap Fira, sambil mengusap-usap hidungnya.
"Ah... ya ampun! Maaf Kakak, aku lupa, minyak roll on ini kan memang sedikit panas."
Fira menggerutu protes kepada Bima, sedangkan Bima ia hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah Fira, bahkan Fira tak segan memukuli bahu Bima, dan meminta pertanggung jawaban kepada Bima.
Dari jauh, terlihat seorang wanita yang baru masuk ke dalam restoran ini, memandangi Fira dan Bima. Wanita ini tak lain ialah Raina.
"Itu kan Nona Fira? bersama siapa dia? apa lelaki itu pacarnya Nona Fira ya?" gumam Raina.
Raina datang ke restoran ini, ditemani dengan seorang perempuan yang lebih muda darinya, perempuan itu ialah asisten pribadinya Raina.
Bima masih menertawakan Fira, ia kemudian pergi ke bagian kasir, untuk meminta es batu.
"Nona Fira," panggil Raina.
Fira menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. "Nona Raina," ucap Fira, berdiri dari duduknya.
"Kebetulan sekali ya kita bisa bertemu kembali di sini," ucap Raina. Fira tersenyum mengangguk.
Fira sejenak menatap ke arah syal yang di kenakan oleh Raina.
"Nona, kau memakainya," tanya Fira, tersenyum senang, saat tahu barang pemberiannya di pakai oleh Raina.
"Oh iya, tentu saja. Syal ini sangatlah cantik, jadi aku senang memakainya," ucap Raina tersenyum.
"Nona Fira, itu hidungmu, kenapa merah seperti itu," tanya Raina, sambil menunjuk ke arah hidung Fira.
Fira seketika menutupi hidung dan sebagian wajahnya, dengan kedua telapak tangannya.
"Tidak, Nona tidak apa-apa, hanya kecelakaan kecil saja," jawab Fira, dengan suaranya yang seperti orang terbekam.
Kini matanya ditujukan dengan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Fira. Kedua bola mata Raina, seketika membulat, saat ia melihat cincin itu.
"Nona Fira," panggil Raina.
"Iya," jawab Fira, yang masih menutup hidunya.
"Kau mendapatkan cincin ini dari mana?"
Fira seketika menjauhkan tangannya dari wajahnya, sehingga kini Raina dapat melihat kembali hidung Fira yang memerah.
"Oh... i-ini aku mendapatkannya dari hadiah."
"Hadiah? hadiah apa? atau dari siapa?"
"A-aku–" ucapan Fira terhenti, seketika saat melihat Bima yang sudah datang, sambil membawa satu mangkuk ice batu.
"Baiklah, baby hany sweety, kemari aku akan bertanggung jawab dan mengobati hidungmu itu," ucap Bima, sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi, tanpa memperdulikan Raina.
"Bima kau,"
"Eh... ayo duduk!" Bima menarik lengan Fira, agar segera duduk di kursinya.
"Dia terlihat seumuran dengan Fira, apa lelaki ini pacarnya nona Fira ya?" batin Raina, melirik sejenak ke arah Bima.
Fira bangkit kembali, dan berdiri menghadap Raina.
"Maaf, Nona Raina i-itu,"
"Tidak apa-apa, kami kemari juga ingin memesan makanan, kau lanjutkan saja waktumu dengan pacarmu ini. Kami pamit dulu ya," ucap Raina, berlalu pergi bersama asistennya mencari tempat duduk lain.
"Pacar? Nona Raina mengira Bima pacarku?" gumam Fira.
Kini Fira dan Bima pun kembali melanjutkan aktivitas mereka. Bima mengobati terlebih dahulu hidung Fira.
Dan dari tempat duduk yang cukup jauh, Raina masih bisa melihat Fira dan Bima, yang sedang sibuk dengan aktivitasnya.
"Romantis sekali mereka, ... sepertinya lelakinya sangat menyayangi Nona Fira," gumam Raina.
"Hem... seandainya saja, hubunganku dengan Bara, bisa terang-terangan seperti mereka," lamunnya.
"Nona Muda," panggil asistennya.
"Nona Muda," panggil asistennya dengan nada yang sedikit naik.
"Eh.. iya, kenapa?"
"Nona muda melamun?" tanya Asistennya, Raina hanya tersenyum malu.
Kemudian Raina segera memesan makanan, kepada waiters yang sedang berdiri di dekatnya sejak tadi. Setelah selesai memesan makanan. Kini Raina di fokuskan dengan ponselnya.
Ia mencari-cari, informasi produk perhiasan terbaru dari perusahaan Bara, di internet.
"Nona Fira beruntung sekali bisa mendapatkan cincin sebagus itu. Tapi aku heran, dari mana dia mendapatkannya? Sepertinya design seperti itu hanya di buat oleh perusahaan Bara. Apa mungkin pacarnya yang membelikannya? Tapi, perhiasan terbaru dari Cleon Compeny kan belum launcing." batin Raina, menduga-duga akan rasa penasarannya.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya.... Biar author makin semangat nih wkwkwk.
Follow ig aku ya, @dela_delia25
Sampai bertemu di episode selanjutnya.
Oh ya buat kalian yang mau baca ke karya chat story pertamaku bisa langsung klik profil aku, di bagian karya, aku mempunyai Novel Chat Story yang berjudul Gadis Nakal dan Tuan Tampan.
Kali aja suka, tapi baru upload sedikit sih, hehe.