Perjalanan Mencapai Surga

Perjalanan Mencapai Surga
Janji


Surga menciptakan 10 cara untuk mencapainya, lalu surga menamainya Dao. 10 Dao disampaikan ke dunia oleh surga untuk para makhluk hidup.


1 Dao terlalu agung sehingga hanya 9 Dao yang diterima. Makluk hidup menerima dan menjalani 9 Dao untuk mencapai surga. Surga, Dao, Makhluk hidup menciptakan harmoni.


Makhluk hidup memiliki 9 cara mencapai surga. Saat mereka menjalankan 9 cara itu, mereka berpikir ini adalah cara berperang melawan surga.


Berperang dengan dunia, menentang takdir, dan melawan surga itulah yang dipikirkan makhluk hidup. Padahal surgalah yang membuka pintunya sendiri.


Karena kebodohan dan kesombongan makhluk hidup, lalu hilanglah harmony antara surga dan mahkluk hidup.


...


Saat semua makhluk saling berperang, hingga mengubah dunia menjadi berwarna merah. Sebuah keluarga mengunakan cara yang berbeda.


Melewati jalan yang sepi dan dipenuhi halangan, namun mereka percaya surga selalu menemani mereka.


Menciptakan sejarah dalam waktu singkat, sebagai keluarga yang berdiri di atas makhluk hidup tak terhitung jumlahnya. Sebelum sebuah tragedi yang mengejutkan terjadi, dimana keluarga itu menghilang dalam waktu singkat seperti tidak pernah ada.


Alasannya, tidak ada yang tahu. Selain pada malam sebelum tragedi itu terjadi, terdengar raungan yang keras dibarengi munculnya gambar Qilin di langit yang berwarna hitam dan putih.


***


Batasan, batasan bukanlah penghalang melainkan pengendalian. Saat sesorang mengerti serta memahami sebuah batasan, maka dia tidak akan hidup dalam ilusi.


Pengalaman, hal ini merupakan sesuatu yang penting untuk dimiliki. Saat manusia menjalani kehidupan, maka pengalaman akan menentukan hasil yang akan dicapai bahkan takdir yang akan digapai.


Refleksi, saat sesorang sudah membatasi dirinya serta mendapatkan pengalaman yang mendalam, hal yang harus dilakukan adalah merefleksikan diri. Jika sesorang bahkan tidak mengerti kebenaran tentang dirinya, maka jangan harap untuk melihat kebenaran dalam hidup.


Batasan, Pengalaman, dan Refleksi. Ketiga itu adalah cara mencapai kebijaksanan dalam hidup.


"Nak... ada kebijaksanaan dalam namamu, maka berusahalah agar tidak menodai namamu."


"Jika kau berhasil mencapai tiga hal itu, maka kau akan mendapatkan apa yang kau impikan selama ini."


"Cara pertama adalah yang termudah, cara kedua membutuhkan waktu tidak sedikit, dan cara ketiga merupakan cara tertinggi sehingga tidak semua orang dapat melakukannya."


Terlihat di sebuah ruangan sederhana, terdapat lelaki tua dan anak kecil duduk bersebrangan. Mereka berdua mengenakan pakaian berwarna abu-abu yang jika orang lain memakainya akan terlihat lusuh. Tetapi saat dipakai oleh mereka khususnya anak laki-laki itu, pakaian itu memancarkan aura misterius seperti menyatu dengan alam.


Mereka berdua saat ini dalam sesi belajar, dan sang kakek sedang menjelaskan tentang cara mencapai kebijaksanaan.


Sang kakek yang melihat cucunya mengerti tentang apa yang telah dia jelaskan, melanjutkan topik pembelajaran berikutnya.


"Jika kamu telah memahami apa yang aku jelaskan tadi, maka aku akan memberimu teknik untuk mencapai 3 hal itu."


Anak kecil yang mendengarkan kakeknya berbicara dengan tenang, akhirnya menunjukan sedikit reaksi diwajahnya.


Melihat reaksi diwajah cucunya, lelaki tua itu hanya tersenyum karena dia tahu apa yang menyebabkan hal itu terjadi.


"Tenang... aku tahu apa yang kau pikirkan nak, teknik yang akan aku berikan padamu tidak akan mempengaruhi janjimu."


Mendengar penjelasan yang diberikan kakeknya, ekspresi di wajah anak itu akhirnya menghilang dan digantikan oleh tatapan penuh ketenangan.


Sedangkan lelaki tua itu mulai menjelaskan teknik yang akan diberikannya.


"Teknik pertama disebut Eight Directions Attack Technique, teknik ini akan melatihmu dalam memahami batasan."


"Sebenarnya tidak ada teknik untuk meningkatkan pengalaman, karena pengalaman adalah hal yang akan kau temui dalam hidup, dan memahaminya secara bertahap hingga tersimpan ke dalam jiwa dan tubuhmu."


"Tetapi teknik ini tidak merujuk pada hal itu, melainkan bertujuan untuk memudahkanmu memahami apa saja yang akan kau hadapi serta yang kau lakukan, teknik ini bernama Eight Trigrams Stance."


Memperhatikan semua yang dijelaskan kakeknya, anak itu mengerti bahwa dua teknik tadi memiliki dua unsur, yaitu pernapasan dan gerakan.


Eight Directions Attack dan Eight Trigram Stance, keduanya masing-masing digunakan untuk melatih batasan dan pengalaman.


Setelah menjelaskan kedua teknik tersebut, sang kakek mulai mempraktekkan teknik pernapasan keduanya.


"Mulailah berlatih dengan kedua teknik pernapasan yang aku tunjukkan tadi, sedangkan teknik gerakannya akan aku tunjukkan setelah saudaramu mempelajari kedua hal tersebut."


Anak kecil itu memperlihatkan bahwa dia mengerti apa yang kakeknya katakan. Melihat bahwa kakeknya berhenti bicara, dia mengajukan pertanyaan.


Seperti mengharapkan cucunya akan menanyainya hal itu, dia menjawab bahwa anak itu sudah memiliki teknik untuk melatih cara ketiga yaitu refleksi.


Mendengar jawaban seperti itu dari kakeknya, dia memiliki wajah kebingungan sebelum akhirnya menyadari apa yang di maksud kakeknya.


Melihat cucunya sudah mengerti, lelaki tua itu mulai berdiri.


"Baiklah... pelajaran pada hari ini cukup sampai di sini, kau dapat pergi dan bermain dengan saudaramu."


" Terima kasih atas pelajaran hari ini kakek."


Orang yang dipanggil kakek hanya tersenyum, saat melihat cucu kesayangannya membungkuk padanya lalu pergi. Jika diperthatikan, maka ada sinar kerinduan serta harapan yang bersinar di dalam kedua matanya.


...


Di taman yang luas terlihat sosok anak kecil tadi, dari penampilanya usia anak itu hanya sekitar 7 tahun. Saat ini dia sedang berdiri dengan tangan di punggung, sambil memandang langit.


Berbeda dengan wajahnya yang lugu dan manis, tatapan mata serta sikap tubuhnya mencerminkan kedewasaan yang tidak akan terlihat pada anak seusianya.


"Kakak! Lihat apa yang aku bawa," terdengar suara lugu dari belakang.


Anak yang dipanggil kakak itupun menengok ke belakang, dan melihat anak seumurannya berlari sambil membawa hewan buruan di kedua tangannya, yang terlihat seperti dua ekor burung.


Berbeda dengan anak pertama yang memiliki kedewasaan dalam dirinya, anak yang membawa buruan ini memiliki sifat anak-anak dalam dirinya, tetapi yang aneh dari anak ini adalah tubuhnya terlalu besar untuk wajah lugunya.


Saat kedua anak itu berdiri bersamaan, ada pesona unik di sekitar mereka. Anak kecil dengan kedewasaan dan anak bertubuh besar dengan wajah lugu, hal ini menciptakan harmoni yang aneh antara keduanya.


"Huozhan, sudah kubilang untuk tidak membolos lagi, tapi disini kau malah pergi berburu."


"Hehehe... kakak kamu kan tahu bahwa isi kepala kita berdua berbeda, kamu terlalu pintar sedangkan yang bisa kulakukan hanyalah bertarung."


Mendengar jawaban lugu Huozhan sang kakak hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Hei kakak! dari pada kita berdua berdiri disini lebih baik kita menyantap hasil buruanku ini".


Mendengar ajakan Huozhan sang kakak menyetujuinya, keduanya mulai menyiapkan alat serta bahan yang diperlukan untuk membakar 2 ekor burung.


Ketika keduanya sedang memasak, sang kakak mulai menjelaskan tentang apa yang baru dia pelajari dari kakeknya.


Huozhan yang mendengarkan kakaknya dengan seksama hingga akhir, sebelum mulai menanyakan hal yang sama.


"Untuk saat ini kau latih saja dua teknik itu, sedangkan teknik ketiga akan aku jelaskan ketika waktunya tiba."


Selama mereka berinteraksi, daging yang sedang dimasak tadi sudah mulai matang, dan siap untuk di sajikan.


Huozhan yang telah selesai menyantap makan siangnya, melihat ke arah kakaknya yang sedang minum dengan mata seperti melihat ke kejauhan.


"Kakak, apa yang kamu pikirkan dari tadi?"


Mendengar adiknya bertanya, dia meletakan cangkir ditangannya dan mulai berdiri dengan tatapan mata melihat ke langit.


"Aku tidak sedang berpikir, yang sedang kulakukan adalah menatap surga".


Mendengar jawaban kakaknya, huozhan hanya menunjukan wajah bingung.


Melihat adiknya bingung sang kakak hanya bisa menjelaskan.


"Huozhan, apa kamu ingat hari apa ini?"


"Hari ini adalah hari di mana aku mengucapkan janji kepada surga."


"Aku menatap surga walaupun aku tidak dapat melihat surga, tapi aku sadar bahwa surga sedang menatap serta mengamati dunia di atas sana."


"Aku ingin menunjukan kepada surga bahwa aku Zhang Wu Chang akan menepati janjiku, serta memenuhi keinginan orang tuaku."


Zhang Wu Chang mengucapkan kata-kata itu dengan jelas, dan yang terlihat di matanya hanyalah ketenangan tanpa fluktuasi emosi apapun.