
Siang yang cerah. Matahari baru saja mencapai puncaknya siang ini. Langit yang biru, menjadi teman sang surya, yang tiada lelah bersinar dengan teriknya.
Bertepatan dengan hal itu, suara kumandang adzan dari pengeras suara masjid dan surau pun telah menggema. Menjadi pertanda, bahwa waktu sholat dzuhur telah tiba. Dan juga berarti, jam istirahat makan siang pun segera tiba.
Nisa sudah bersiap untuk makan di luar kantor bersama salah satu teman kantornya dari divisi keuangan. Mereka sudah janjian sejak kemarin.
"Jadi kan, Wen?" Tanya Nisa saat panggilan teleponnya tersambung.
"Maaf Nis, kayaknya dipending lagi deh. Laporan pak Ihsan mendadak harus direvisi. Dan nanti jam dua harus sudah siap di meja pak Reyhan." Sahut seorang wanita di seberang telepon.
"Yaaahh,," Sedih Nisa.
"Besok deh, ya? Ini mendadak juga. Tadi pak Rudi yang nganter ke ruangan pak Ihsan dan minta segera direvisi."
Nisa mendengus pasrah. "Yaudah deh."
"Sorry ya, Nis!"
"Iya, Wen. Nggak papa. Tapi, besok jadi, ya?"
"Iya, iya."
"Yaudah, aku makan dulu, ya?"
"Eh, Nis. Kamu mau makan apa? Aku nitip donk!"
"Eemm,, kayaknya, gado-gado depan kantor, enak deh?"
"Oke. Aku tolong bungkusin satu ya! Jangan pedes-pedes!"
"Oke. Nanti aku anter ke ruanganmu."
"Oke, Nis. Makasih, ya."
"Iya, sama-sama. Daaa,,"
"Daa, Nisa."
Panggilan pun diakhiri oleh Nisa. Nisa lalu segera mengambil dompetnya dan berjalan meninggalkan meja kerjanya. Yang kebetulan, bersamaan dengan Reyhan dan Rudi yang juga akan pergi makan siang. Tapi, berbeda tujuan pastinya.
"Mau makan dimana, Nis?" Tanya Rudi ramah.
"Di depan aja, Pak. Tadinya mau makan sama Weni di penyetan deket lampu merah sana, eh, Weni-nya harus bantu pak Ihsan ngerevisi laporan." Jujur Nisa.
"Aku ikut, ya? Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Nisa menatap Rudi dengan terkejut. Ia bahkan mendadak menghentikan langkahnya, yang juga diikuti oleh Rudi.
"Kenapa? Kamu ada janjian sama yang lain, ya?" Tanya Rudi bingung.
Nisa hanya menggeleng polos.
"Lalu?"
"Nggak papa, Pak. Yaudah, yuk, Pak! Dari pada sendirian juga di sana." Santai Nisa.
Rudi pun tersenyum lega mendengar jawaban Nisa. Ia dan Nisa berjalan santai keluar kantor untuk makan siang. Dan setelah menyeberang jalan, mereka tiba di warung makan yang mereka tuju, dan segera memesan menu selera masing-masing.
"Aku denger dari pak Reyhan, kamu kemarin dianter pulang sama beliau?" Pancing Rudi perlahan.
"Iya, Pak. Motorku bannya kempes. Dan malah ada orang yang tak diharapkan dateng." Keluh Nisa santai.
"Pacar kamu maksudnya?"
"Mantan pacar." Tegas Nisa.
"Kamu ada masalah sama pak Revan?"
Ingatan Nisa melayang jauh ke malam dimana, ia memergoki Revan sedang berselingkuh dengan istri dari atasannya itu. Hatinya mendadak geram.
"Dia yang bikin masalah, Pak." Jujur Nisa.
"Masalah apa? Pak Revan selingkuh dari kamu?" Terka Rudi tanpa ragu.
Nisa yang sedang melihat-lihat suasana warung makan yang ia sambangi, segera menoleh pada Rudi dan menatapnya serius.
"Ya, gitu deh, Pak."
Nisa memang bisa sangat santai mengobrol dengan Rudi. Rudi yang sifat dan pembawannya memang cukup dewasa, membuat Nisa bisa nyaman mengobrol dan bahkan terkadang berbagi cerita padanya.
"Kamu kenal ya sama selingkuhannya?" Terka Rudi lagi.
"Bapak kok pinter banget sih? Masa iya, Bapak bisa baca pikiranku?" Santai Nisa.
"Aku kira, Bapak bisa baca pikiran orang lain."
"Masih belum bisa. Baru cari ilmu yang buat bisa kayak gitu. Tapi belum nemu." Canda Rudi.
Nisa menatap Rudi dengan seksama.
"Emang ada Pak, yang kayak gitu?" Tanya Nisa serius.
"Aku juga nggak tahu. Makanya aku masih nyari." Sahut Rudi sambil menahan tawa.
Nisa menatap Rudi aneh. "Bapak bercanda, ya?"
"Serius."
Nisa makin menatap Rudi dengan seksama. Ia mencoba membaca raut wajah Rudi yang terlihat sedikit meyakinkan, tapi juga meragukan.
"Nggak usah dipikirin!" Paham Rudi sedikit tertawa.
"Pak Rudi ada-ada aja." Rungut Nisa paham.
Rudi tersenyum kecil. "Aku boleh tanya sesuatu lagi, Nis?"
"Boleh. Asal jangan tanya kapan aku nikah aja." Santai Nisa lagi.
Rudi tersenyum kecil. "Kamu ada masalah sama bu Viona?"
Nisa yang tadi begitu santai dan ceria, mendadak ekspresi wajahnya berubah datar. Ia menatap Rudi dengan wajah yang mendadak tak berekspresi.
"Mereka sepertinya memang ada masalah." Batin Rudi setelah melihat reaksi Nisa.
"Kenapa Pak Rudi nanyain itu?" Datar Nisa.
"Tanya aja. Sikapmu kemarin, sedikit berbeda dengan beliau sebelum-sebelumnya." Jujur Rudi.
Nisa diam. Ia kebingungan menjawab Rudi.
"Aku sudah tahu jawabannya." Imbuh Rudi paham.
"Iya, Pak. Aku ada masalah sama bu Viona." Aku Nisa.
"Masalah apa? Kalian sepertinya jarang berkomunikasi."
"Udah ah, Pak! Jangan bahas itu! Nanti aku nggak jadi makan siang." Keluh Nisa.
"Oke, oke."
Di saat bersamaan dengan itu, pesanan minuman mereka telah tiba lebih dulu. Nisa segera menyeruput minumannya untuk sedikit meredam kekesalan hatinya karena tanpa sengaja diingatkan oleh Rudi pada kejadian yang tidak ia harapkan kemarin.
"Masalah mereka, sepertinya tidak sederhana. Apa aku harus bilang pada pak Reyhan?" Batin Rudi sambil menatap Nisa yang sedikit kesal.
Rudi dan Nisa akhirnya makan siang bersama dengan lebih santai. Rudi segera mengalihkan topik pembicaraannya dengan Nisa. Nisa pun menanggapi itu dengan baik.
Dan selepas makan siang, Rudi menemui orang kepercayannya, Gani. Ia menemui Gani di rooftop kantor.
"Selidiki Nisa dan bu Viona!" Pinta Rudi tegas.
"Bu Viona?" Ulang Gani tak percaya.
"Iya. Nisa dan bu Viona sedang ada masalah. Dan sepertinya bukan masalah yang sederhana."
"Tapi Pak,,"
"Nisa bukan tipikal wanita yang akan memancing atau bermasalah dengan orang lain tanpa alasan yang kuat. Tapi tidak bu Viona. Jadi, cari tahu, ada masalah apa diantara mereka!"
"Baik, Pak."
"Dan cari tahu juga, apa yang terjadi dengan Nisa dan pak Revan!"
"Baik, Pak."
"Kembalilah! Aku hubungi lagi nanti."
"Ya, Pak. Saya permisi."
"Iya."
Orang berperawakan tegap yang berpakaian serba hitam itu, segera pergi meninggalkan Rudi. Sedang Rudi, masih menikmati semilir angin di rooftop kantor.
"Apa ini ada hubungannya dengan pak Revan? Tapi, apa hubungannya?" Gumam Rudi, sambil menatap barisan bangunan yang berjajar dengan tinggi tak beraturan di depannya.
"Oh, iya. Ataukah mungkin, masa lalu itu,,"