
Selamat pagi dunia. Hari baru telah kembali tiba. Harapan-harapan baru pun kembali memenuhi hati yang siap untuk menggapai cita-cita. Ditemani cerahnya sinar mentari pagi, semua terasa lebih hangat dan menenangkan.
Pagi ini, Nisa dan Jeni berangkat lebih pagi. Jika biasanya Jeni dijemput oleh Elvin, hari ini dia ke kantor dengan motornya. Mengantar Nisa lebih dulu pastinya.
"Thank's ya, Jen. Kayaknya, aku sering-sering aja nebeng kamu. Kan jadi irit bensin." Canda Nisa.
"Idih! Maunya." Cibir Jeni paham.
"Iya, dong."
"Kalau mau irit bensin, naik bis aja. Atau jalan kaki, lebih irit lagi. Hhaha,," Balas Jeni semangat.
"Enak aja!" Sahut Nisa tidak terima.
"Lha katanya mau irit bensin?" Sindir Jeni.
"Kan kamu sahabat terbaikku." Rayu Nisa sambil cengengesan.
Nisa pun memeluk Jeni dengan gemas.
"Udah ah, malu! Nanti dikirain kita lesbi lagi." Elak Jeni sambil sedikit meronta.
"Biarin! Kan kamu udah punya Elvin. Jangan-jangan, kamu mau nglirik cowok lain, yaa?" Tuduh Nisa santai.
"Dikit." Jujur Jeni cekikikan.
"Aku bilangin Elvin, ya?" Goda Nisa.
"Bilangin aja!" Yakin Jeni.
"Yakin?"
"Aku mau nglirik itu lhooo,,"
Netra Jeni langsung mengikuti ke arah sebuah mobil sedan hitam yang baru saja lewat di dekat mereka. Mobil yang melaju dengan santai menuju area parkir kantor. Nisa pun segera menoleh ke arah dimana Jeni melihat.
"Itu kan mobil pak Reyhan?" Terka Nisa santai, sambil melirik ke arah Jeni.
"Hafal bener?"
"Kan kemarin pak Reyhan juga pake itu pas nganter aku pulang. Lagian, beliau juga sering pake itu mobil. Kadang-kadang aja pake yang SUV hitam. Tapi seringnya pake yang itu pak Reyhan." Jelas Nisa.
"Hafal banget sih? Jangan-jangan, kamu diem-diem perhatian ya sama pak Reyhan?" Goda Jeni.
"Masa iya, sama bos sendiri nggak perhatian? Bisa dicekek aku kalau nggak perhatian sama bos."
"Iya, iya, hhihi. Perhatian selain sebagai bos juga boleh kok."
"Maaf ya Nona Jenifer Arsinta! Saya bukan tipe wanita yang suka merebut laki orang. Oke?"
"Terus, yang semalem?"
"Harus dipikirin dulu kalau itu."
"Oke deh, terserah kamu aja. Aku berangkat ya? Nanti telat lagi."
"Iya. Thank's ya."
"Iya."
"Bye."
"Bye."
Jeni akhirnya kembali melajukan motornya setelah saling melambaikan tangan dengan Nisa. Nisa pun lalu berbalik badan untuk masuk kantor.
Dan tanpa Nisa sadari, ternyata, ia dan Jeni menjadi pusat perhatian sejak tadi. Pusat perhatian dari para karyawan kantor Reyhan.
Nisa berjalan santai menghampiri satpam yang sedang bertugas pagi ini. Ia tak menghiraukan tatapan aneh para karyawan lain yang tadi sempat melihatnya dengan Jeni bercanda tawa.
"Pagi Pak Asep!" Sapa Nisa ramah.
"Pagi juga, Neng Nisa. Tumben tadi dianter temennya?" Jawab salah seorang laki-laki yang berseragam satpam pagi ini, yang terlihat berusia kepala lima.
"Iya, Pak. Motorku kempes bannya kemarin. Jadi, tadi minta anter temen buat berangkat kerja." Jujur Nisa.
"Oh, begitu rupanya." Sahut Asep dengan logat sundanya.
"Pak Asep. Nisa boleh minta tolong, nggak?"
"Minta tolong apa, Neng? Kalau Pak Asep bisa bantu, pasti Pak Asep, bantu."
"Tolong bawa motor Nisa ke bengkel dong, Pak! Buat ganti ban. Udah dua kali ini bannya kempes. Mungkin minta ganti ban dalamnya."
"Oh, itu. Siap, Neng. Eneng kerja aja yang tenang! Biar motornya, Bapak yang urus. Ya?"
"Siap, Pak." Jawab Nisa bahagia, sambil mengangkat tangannya, memberi hormat pada Asep.
"Si Eneng, mah, bisa aja."
Nisa tersenyum manis pada Asep. Ia lalu mengambil kunci motor di tasnya, lalu menyerahkannya pada Asep. Asep pun menerimanya dengan ikhlas.
"Makasih ya, Pak." Tulus Nisa.
"Iya, Neng."
"Nisa masuk dulu ya, Pak." Pamit Nisa.
"Iya, Neng. Nanti kalau udah beres, Bapak anter ke atas kuncinya."
"Oke, Pak. Makasih, Pak."
"Sip." Jawab Asep, sembari menunjukkan ibu jari tangan kanannya dengan mantap.
Nisa lalu melangkahkan kakinya memasuki lobi kantornya. Ia yang awalnya begitu santai, mendadak tidak nyaman karena tatapan beberapa rekan kerjanya.
"Kenapa mereka ngelihatin aku kayak gitu, sih?" Batin Nisa bingung.
Meski Nisa sudah biasa mendapat tatapan aneh dari teman-temannya, karena penampilannya sangat berbeda dengan karyawan lain, tapi hari ini, tatapan itu terasa berbeda. Nisa berusaha bersikap sangat biasa. Ia pun segera berjalan menuju lantai sebelas gedung ini, dimana meja kerjanya berada.
Saat sampai di mejanya, Nisa disambut oleh Rudi, yang sudah lebih dulu sampai.
"Pagi, Nis." Sapa Rudi.
"Kamu ditunggu pak Reyhan di ruangannya, Nis."
"Sekarang, Pak?" Tanya Nisa tak percaya.
Karena biasanya, Reyhan tidak pernah mengusik jam pagi para karyawannya. Sebelum jam kerja yang seharusnya dimulai. Kecuali, memang ada hal yang harus dibicarakan.
"Iya." Yakin Rudi.
Nisa segera meletakkan tasnya dan sedikit merapikan penampilannya. Ia berusaha mengingat pekerjaannya kemarin. Mungkin saja, ada yang salah atau terlewat.
Perlahan, Nisa mengetuk pintu ruang kerja Reyhan.
"Masuk!" Sahut Reyhan dari dalam.
Nisa pun membuka pintu itu dengan hati-hati. Ia bisa melihat, Reyhan sedang duduk di kursinya sembari menyiapkan beberapa berkas.
"Bapak memanggil saya?" Tanya Nisa sebelum masuk.
"Iya. Masuklah! Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Datar Reyhan.
Nisa pun masuk dengan perasaan yang sedikit gugup. Entah mengapa, ia merasa bagaikan seorang tersangka yang sedang berhadapan dengan hakim dalam sebuah persidangan. Padahal, ia tidak melakukan hal yang salah.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Nisa saat sampai di depan meja kerja Reyhan.
"Duduklah!" Pinta Reyhan, seraya menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursinya.
"Baik, Pak."
Nisa pun duduk dengan hati-hati. Perasaannya mendadak makin gugup. Karena tidak biasanya, Reyhan terlihat begitu serius seperti saat ini. Suasana pun tiba-tiba terasa begitu hening.
"Siapa yang mengobrol denganmu di depan tadi?" Tanya Reyhan tanpa basa-basi.
"Itu sahabat saya, Pak. Dia mengantar saya berangkat kerja hari ini." Jujur Nisa.
"Siapa dia?"
"Diaa,,"
"Kamu tahu siapa dia?"
"Jelas saya tahu siapa dia. Kami tinggal bersama selama di ibukota."
Reyhan menatap Nisa dengan tatapan tajam.
"Jadi, teman yang kamu katakan tinggal satu apartemen dengamu semalam, dia? Jenifer Arsinta? Manajer keuangan perusahaannya Revan?" Cecar Reyhan.
Nisa menelan salivanya dengan takut. "I, iya, Pak."
Reyhan mendengus tak percaya.
"Bapak mengenal Jeni?" Tanya Nisa ragu.
"Saya tahu beberapa karyawan Revan." Datar Reyhan.
"Apa juga karena Jeni, tadi di bawah beberapa orang melihatku berbeda?" Batin Nisa.
"Astaga! Kenapa aku bisa tidak tahu selama ini?" Batin Reyhan bingung.
"Aku tidak melarang karyawanku berteman atau menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi aku harap, kalian tetap profesional dan bisa menjaga rahasia perusahaan." Tegas Reyhan.
"Tentu, Pak. Saya berani menjamin itu." Yakin Nisa.
"Aku pegang kata-katamu."
"Iya, Pak."
"Yang seharusnya dicurigai itu, istri Anda, Pak." Batin Nisa mulai kesal.
"Sepertinya, usulan Viona semalam, harus aku lakukan. Aku harus menyelidiki Nisa." Batin Reyhan mulai ragu.
"Apa masih ada yang lain, Pak?" Tanya Nisa perlahan.
"Tidak. Kembalilah!"
"Baik, Pak. Saya permisi."
"Iya. Minta pak Rudi ke ruanganku!"
"Baik, Pak."
Nisa lalu berdiri dan keluar dari ruangan Reyhan. Ia pun menyampaikan permintaan Reyham tadi pada Rudi.
Sebelum tadi Nisa sampai ke meja kerjanya, Reyhan sudah sempat berunding dengan Rudi tentang kecurigaan Viona. Terlebih, Reyhan sempat melihat Jeni dan Nisa di depan kantor tadi.
Rudi meragukan kecurigaan itu. Karena selama ini, Nisa terlihat sangat profesional. Semua berjalan baik. Revan tidak pernah tahu menahu tentang proyek yang sedang dikerjakan oleh Reyhan. Meski sempat ada proyek yang meleset karena ulah Revan, satu tahun silam.
"Selidiki Nisa!" Tegas Reyhan.
"Apa Bapak yakin?" Tegas Rudi juga.
"Orang dekat Nisa, adalah orang-orang Revan. Aku tidak mau lengah dengan orang itu."
"Baik, Pak." Jawab Rudi ragu.
"Berikan hasilnya secepatnya!"
"Baik, Pak. Saya mengerti."
"Ya sudah, kembalilah bekerja!"
"Saya permisi, Pak."
"Iya."
Rudi lalu kembali keluar dari ruangan Reyhan. Ia menghela nafas pendek. Ia sedikit kecewa dengan sikap Reyhan, yang mendadak mencurigai Nisa, karena orang-orang di sekitarnya. Meski, itu hal yang wajar.
Rudi segera menghubungi orang-orangnya, untuk melaksanakan tugas dari Reyhan. Tapi, dalam hatinya sangat yakin, Nisa sangat profesional sampai saat ini.
"Kenapa aku tidak yakin?" Gumam Reyhan, seraya bersandar santai di kursinya.