
Keheningan malam semakin menyapa. Jarum jam yang terus saja berputar, mengantarkan setiap raga pada waktu bagi mereka untuk beristirahat. Waktu untuk mempersiapkan hari esok yang tidak pernah kita tahu, apa yang akan terjadi.
Jeni sudah berada di atas kasur Nisa saat ini. Mereka bersiap untuk tidur bersama malam ini.
"Kamu yakin, nggak mau balikan sama Revan?" Tanya Jeni, saat ia dan Nisa sudah siap berkelana ke alam mimpi.
"Nggak. Aku nggak mau balikan lagi sama Revan." Tegas Nisa.
"Kamu udah bilang sama dia?"
"Udah. Kemarin waktu aku mergokin dia."
"Tapi kayaknya, dia nggak mau."
"Kayaknya gitu. Tadi bu Vio juga bilang, kalau aku suruh balikan sama Revan."
"Bu Vio bilang gitu?" Tanya Jeni tak percaya.
"Hee'em. Dia bilang, Revan masih sayang sama aku."
"Sayang apanya? Sayang karena belum nyicipin kamu aja. Coba kalo udah, pasti dibiarin gitu aja." Sahut Jeni kesal.
"Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, aneh juga, sih." Gumam Nisa ragu.
"Aneh gimana?"
"Ya secara, bu Vio itu udah punya pak Reyhan yang jelas-jelas lebih ganteng, tajir, baik lagi. Kurang apa coba? Kenapa dia bisa selingkuh sama Revan?"
"Mereka ada masalah mungkin."
"Dari yang bu Vio bilang dan yang aku lihat, pak Reyhan itu emang sayang banget sama bu Vio. Jadi, aku yakin, kalaupun bu Vio ada masalah apapun atau mungkin melakukan kesalahan, kayaknya pak Reyhan bakalan maafin bu Vio, deh."
"Atau, bu Vio ada masalah sama keluarga pak Reyhan mungkin?"
"Kayaknya enggak, deh. Soalnya, bu Soraya dan pak Galih itu juga kelihatan welcome gitu sama bu Vio."
Jeni dan Nisa mulai memikirkan segala kemungkinan yang ada.
"Dan juga, tadi pas aku di mobil pak Reyhan, dia nginterogasi aku gitu. Kelihatan sedikit curiga gitu." Imbuh Nisa sambil mengingat percakapannya dengan Reyhan.
"Curiga gimana?"
"Curiga, kalau-kalau aku mbocorin rahasia perusahaan."
"Ya wajar dong kalau itu."
"Iya, sih. Tapi kan aku jadi sedikit tersinggung, Jen."
"Ya bilang aja yang sejujurnya."
"Jelas dong. Aku kan nggak pernah bocorin rahasia perusahaan sama Revan. Jangankan sama Revan, sama kamu aja nggak pernah. Ya, kan?"
"He'em." Sahut Jeni sambil mengangguk.
Iya. Meski Jeni dan Nisa sangat dekat dalam menjalin persahabatan, tapi mereka tak pernah saling membicarakan tentang apa yang sedang dikerjakan di kantor. Mereka sering kali hanya saling mencurahkan perasaan satu sama lain, yang terkadang bahagia, sedih, lelah, keki, atau apapun itu.
"Udah yuk, tidur!" Ajak Nisa.
"Yuk!"
"Eh, Jen! Besok anterin aku ke kantor dulu, ya! Motorku kan masih di parkiran." Rengek Nisa manja.
"Iya, Nisa sayang." Jawab Nisa sambil mencubit gemas kedua pipi Nisa.
Nisa segera memeluk erat Jeni bagaikan sebuah guling. Dan Jeni pun akhirnya juga membalas ulah Nisa. Mereka lalu tidur bersama setelah kesulitan bergerak karena saling berpelukan dengan sangat erat.
Di tempat lain,,
"Yang! Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih sama Nisa?" Tanya Viona, saat ia dan Reyhan sedang duduk bersantai di kamar.
"Nisa? Sekretarisku?" Sahut Reyhan bingung.
"Iya."
"Aneh kenapa?"
"Ya aneh aja, dia itu kan masih muda, gajinya juga besar, tapi, kok cupu banget penampilannya. Belum lagi, wajahnya itu lhoo, masak iya dia nggak pernah perawatan atau apa gitu biar lebih bersih wajahnya."
"Aku denger dari pak Rudi, Nisa itu harus bantu orang tuanya biayain sekolah adiknya. Ayahnya udah nggak bisa cari nafkah karena sakit ginjal."
"Ibunya?"
"Aku denger, buka warung kecil di deket rumah."
Viona terdiam.
"Emang kenapa?" Imbuh Reyhan.
"Kamu nggak jenuh, risih atau gimana gitu lihat penampilannya? Kan banyak tuh, sekretaris-sekretaris di luar sana yang jauh lebih cantik dan modis penampilannya."
"Di kantor, aku nggak menilai orang hanya dari penampilannya aja, Yang. Tapi juga kinerjanya. Aku milih Nisa, karena kemampuannya juga."
"Tapi kan, kalau penampilannya diperbaiki, kan lebih enak dipandang."
"Terus?"
"Aku nggak bisa ngekang karyawanku harus berpakaian seperti apa. Yang penting, mereka berpenampilan sopan."
"Tapi kan,,,"
"Emangnya kalau Nisa jadi modis dan cantik, kamu nggak takut, kalau aku jatuh cinta sama dia?"
"Apa? Kok kamu bilang gitu sih, Yang?" Kesal Viona.
"Ya harusnya kamu bersyukur, dong. Berarti, saingan kamu itu berkurang."
"Ya kamu ganti sekretaris aja! Cari yang laki-laki."
"Nggak mudah sayangku, cari sekretaris yang memang punya kemampuan."
"Sial!" Batin Viona.
Viona sedikit mendengus kesal. Ia tak mau rencananya merayu Reyhan gagal, hanya karena kekesalan kecil di awal.
Iya. Viona sedang berusaha merayu Reyhan untuk memecat Nisa dari kantornya. Itu juga hasil dari obrolannya dengan Revan tadi siang.
"Aku denger dari obrolan beberapa karyawan, Nisa itu pacaran sama sepupu kamu." Bujuk Viona halus.
"Revan maksud kamu?"
Viona mengangguk pasti. "Kamu udah tahu?"
"Aku udah denger agak lama sebenarnya. Tapi dari yang aku lihat selama ini, proyek yang sedang dikerjakan di kantor, nggak pernah ada yang bocor sampai ke Revan. Jadi, aku rasa, Nisa bersikap profesional. Dia bisa memisahkan, mana urusan pribadi, mana urusan pekerjaan."
Viona kembali menahan kekesalannya. Ia tidak menyangka, Reyhan memiliki penilaian yang bagus pada Nisa.
"Aku tahu, Revan memiliki ambisi yang besar merebut perusahaanku. Dia bisa melakukan apapun demi keinginannya itu." Imbuh Reyhan yakin.
Viona yang tadi menatap lurus kedepan demi meredam kekesalannya, dengan segera membulatkan kedua matanya. Ia tidak menyangka, Reyhan tahu niat hati Revan.
"A, apa maksudmu, Sayang?" Tanya Viona sedikit tergagap.
"Iya. Revan itu sangat ingin menguasai perusahaan induk. Jadi, aku yakin, dia akan melakukan banyak cara untuk hal itu. Dan aku curiga, kedekatannya dengan Nisa, juga karena hal itu. Karena Nisa, bukanlah tipe wanita pilihan Revan."
"Apa Reyhan tahu rencana Revan?" Batin Viona terkejut.
"Dan kalau dugaanku itu benar, pasti akan sangat menyakitkan bagi Nisa."
"Kamu kenapa jadi perhatian sama Nisa?"
"Aku kasihan aja, sama orang-orang yang hanya dimanfaatkan oleh orang lain, demi kepentingan pribadi. Apalagi jika itu menyangkut perasaan dan hati."
Reyhan adalah tipe laki-laki yang lembut. Meski saat di kantor ia terlihat tegas dan penuh wibawa, tapi hatinya sangat lembut pada orang lain. Apalagi, pada orang-orang di sekitarnya.
"Tapi, kamu juga harus waspada, Yang!" Mulai Viona lagi.
"Waspada kenapa?" Bingung Reyhan.
"Ya waspada sama sekretarismu. Siapa tahu, dia itu adalah bom waktu dari Revan, yang kamu bilang tadi, sangat berambisi merebut perusahaan induk."
"Tapi,,"
"Jangan cuma mandang dari penampilan luarnya yang nampak polos dan lugu. Siapa tahu, dibalik penampilan yang polos dan lugu itu, dia dan kekasihnya itu, siap untuk nyerang kamu dari belakang." Saran Viona.
Reyhan terdiam. Ia teringat pada obrolan singkatnya dengan Nisa tadi di mobil. Ia ingat betul, Nisa bisa dengan yakin menjawab, bahwa ia tidak pernah memberikan rahasia perusahaan pada Revan.
"Kita tidak pernah tahu isi hati orang lain, kan? Jadi, kamu harus lebih hati-hati sama sekretarismu itu, Yang! Kalau perlu, minta pak Rudi buat nyelidikin gerak-gerik Nisa." Usul Viona yakin.
Viona tetap tidak menyerah untuk merayu Reyhan agar memecat Nisa. Karena jika Reyhan memecat Nisa, hubungannya dengan Revan, akan sangat kecil untuk sampai ke telinga Reyhan. Ia juga akan lebih mudah membuat Nisa menyesal karena berani menantangnya tadi di kantor Reyhan.
Reyhan masih diam. Ia yang selama ini sangat percaya dengan istri tercintanya, mulai terpengaruh oleh ucapan Viona.
"Aku akan memperingatkan Nisa besok." Batin Reyhan ragu.
Reyhan sebenarnya cukup percaya pada Nisa. Karena menurut penuturan Rudi, Nisa memang sangat bisa diandalkan dalam pekerjaannya. Ia juga selalu profesional selama ini.
"Yang! Kok ngelamun?" Sapa Viona, karena melihat Reyhan diam saja.
"Apa? Ah, iya, sedikit." Jawab Reyhan terkejut.
"Kenapa? Mikirin keprofesionalan Nisa, ya?" Tantang viona santai.
Reyhan mengangguk ragu.
"Biar aku minta ke pak Rudi buat nyelidikin Nisa besok." Yakin Viona dengan hati yang yakin.
"Nggak usah! Biar aku dan pak Rudi yang urus itu besok." Yakin Reyhan.
"Oke."
Hati Viona bahagia. Rayuannya pada Reyhan berhasil perlahan. Meski harus sedikit kesal tadi, tapi ternyata berhasil.
"Aku tinggal merayu sedikit lagi suami polosku ini, dan Revan juga akan menyelesaikan urusannya dengan Nisa. Dan semua, akan berakhir dengan baik. Viona ditantang." Batin Viona yakin.
Kita memang tidak pernah tahu isi hati orang lain, apakah itu baik atau buruk. Tapi, kita bisa melatih dan membiasakan hati kita sendiri, untuk berpikir dan berbaik sangka pada orang lain. Agar semua hal yang kita hadapi, juga berakhir baik.