Pelabuhan Hati Sekretaris Cupu

Pelabuhan Hati Sekretaris Cupu
Rencana Menemui


Matahari mulai kembali ke peraduannya. Menjadi awal bagi sang rembulan untuk menampilkan eksistensinya. Menjadi penerang bagi gelapnya malam.


Di sebuah rumah yang cukup besar dan mewah, sebuah keluarga kecil sedang menanti salah satu penghuni rumah pulang dari bekerja. Seorang putra yang menjadi kebanggaan kedua orang tuanya pastinya.


"Assalamu'alaikum."


Suara sang putra, mulai menggema ke seluruh penjuru rumah. Sang ibu pun segera menyambutnya.


"Akhirnya, kamu pulang juga. Mama kira kamu lembur." Sapa sang ibu yang meski usianya hampir kepala lima, tapi masih terlihat seperti usia tiga puluhan. Kristina.


"Tadi nyelesaiin laporan dulu, Ma. Besok pagi mau buat rapat sama Reyhan." Jujur si anak, yang tak lain adalah Ihsan.


"Ya udah. Mandi dulu sana! Mama sama Nura siapin makan malam."


"Iya, Ma."


Ihsan pun segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sedang sang ibu dan adiknya, menyiapkan makan malam untuk seluruh anggota keluarga.


Selesai mandi, ponsel Ihsan berbunyi. Tanda sebuah pesan telah masuk. Ia pun segera membukanya, karena memang, ia sedang menunggu pesan balasan dari seseorang. Ihsan tersenyum kecil membaca nama si pengirim pesan.


"Bisa, Pak."


Pesan singkat itu, berhasil membuat Ihsan semakin tersenyum lebar. Pesan itu dari Nisa.


"Baiklah. Besok aku akan menjemputmu. Dimana alamat rumahmu?"


Hati Ihsan sedikit berbunga-bunga saat ini. Ada harapan kecil dalam hatinya. Karena esok, rasa penasarannya akan terobati. Itu yang ada dalam benaknya kini


Iya. Ihsan mengajak Nisa untuk makan malam berdua besok. Ihsan berniat menanyakan alasan Nisa menutupi wajah aslinya yang sebenarnya sangat cantik.


Ihsan membawa turun ponselnya. Meletakkannya di meja ruang keluarga. Ia sedikit mengobrol dengan ayahnya, sembari menunggu ibu dan adiknya selesai memasak makan malam.


Setelah makan malam, seperti biasanya, mereka berkumpul sembari menikmati waktu. Ihsan sejenak mengecek ponselnya. Barangkali, Nisa sudah membalas pesan terakhirnya tadi. Tapi ternyata belum.


"Ra! Wajahmu kan cantik, tuh,," Ucap Ihsan tiba-tiba.


"Makasih, Bang." Jawab Nura bahagia sambil tersenyum lebar.


"Belum selesai Abang bicaranya." Kesal Ihsan.


"Kirain, mau muji adeknya gitu."


"Kamu mau nggak, nyembunyiin wajah cantikmu itu dari dunia?"


"Ih, Abang gimana, sih? Ini kan aset, Bang. Orang tuh, pasti yang dilihat pertama itu wajahnya. Kalau wajahnya cantik, pasti orang itu enak dilihat." Santai Nura.


"Oh, gitu. Jadi, kalau cewek itu yang penting wajahnya, ya?"


"Ya, nggak gitu juga, Bang. Tapi, kalau wajah kita cantik atau ganteng, orang lain yang lihat kita juga pasti enak kan, Bang?"


"Oh, jadi, wajah cantik atau ganteng itu penting enggak buat cewek, Ra?"


"Ya, lumayan penting, Bang. Eh, tapi, Abang kenapa sih, kok mendadak tanya kayak gitu? Abang udah punya pacar, ya?"


"Bukan itu. Temen kantor. Kemarin nggak sengaja ketemu waktu beliin kamu nasi goreng. Dan ternyata, wajahnya itu beda banget sama yang tiap hari aku lihat di kantor." Jujur Ihsan.


"Maksud Abang gimana?"


"Di kantor, tiap hari, wajahnya itu selalu aja jerawatan, atau ruam merah-merah gitu. Nggak mulus banget pokoknya. Tapi semalam, mendadak wajahnya itu mulus, cantik banget. Dan itu ternyata wajah aslinya."


"Temen Abang baru pake make up kalik?"


"Enggak, Ra. Soalnya, abis Abang mergokin wajah aslinya, dia sama temennya itu minta sama Abang, buat jaga rahasianya. Jadi, temen kantor Abang itu, memang sengaja nutupin wajah aslinya yang jelas lebih cantik dari kamu."


"Abang! Enak aja! Nura itu cewek paling cantik di kantor." Sanggah Nura tidak terima.


"Ya kan di kantor papa. Bukan di kantor Abang."


"Iihh, Abang!" Kesal Nura, sembari menjatuhkan pukulan ke bahu dan lengan kakaknya.


Nura Salsabila, adik semata wayang Ihsan. Ia memang sangat manja jika dengan Ihsan. Ia akan sangat marah, jika kakak satu-satunya itu, memuji wanita lain, lebih baik darinya.


"Udah! Udah! Kalian ini! Udah besar, masih aja sering berantem!" Lerai Evi, ibu Ihsan.


"Abang, Ma!" Adu Nura.


"Kamu ini juga, San! Udah tahu sifatnya Nura gimana. Masih aja mancing-mancing." Tegur Evi.


"Ihsan kan cuma tanya pendapatnya Nura, Ma. Nura nya aja yang sensi." Bela Ihsan.


Evi akhirnya hanya menggelengkan kepalanya. Karena ia paham betul, sifat kedua anaknya itu.


"Tapi beneran deh, Ma. Ihsan tuh masih nggak habis pikir sama apa yang dilakuin temen Ihsan di kantor itu." Imbuh Ihsan antusias.


"Siapa sih, Bang?" Tanya Nura penasaran.


"Dia sekretarisnya Reyhan. Namanya Nisa."


"Nura pernah ketemu, Bang. Tapi, masa iya, itu jerawat palsu? Itu kelihatan nyata banget lho, Bang." Timpal Nura segera.


"Aku juga semalam nggak percaya, Ra. Tapi setelah Nisa sama temennya minta aku buat jaga rahasianya Nisa, aku jadi percaya." Jujur Ihsan.


"Kamu nggak tanya alasannya kenapa?" Tanya Evi menengahi.


"Kemarin belum mau bilang, Ma. Besok, Ihsan mau tanya lagi sama dia."


"Waahh, ada yang mau kencan, nih!" Goda Nura.


"Aku nggak ada hubungan ya sama Nisa." Kilah Ihsan.


"Ya kan sekarang nggak ada. Besok jadi ada." Imbuh Nura.


"Nggak papa dong, Ra. Siapa tahu, besok bisa jadi mantunya Mama." Timpal Evi.


Ihsan segera menoleh pada ibunya. "Mama kok kesana terus, sih?"


"Ya kan Mama udah pengen punya mantu, San." Jujur Evi.


Ihsan melengos begitu saja. Ia lalu berdiri dan kembali ke kamarnya. Karena tidak mau kembali mendengar rengekan ibunya yang ingin segera memiliki menantu.


Evi dan Nura tersenyum geli melihat sikap Ihsan. Mereka tahu, Ihsan juga berusaha memenuhi permintaan ibunya. Tapi karena memang belum ada yang bisa membuatnya jatuh hati, ia hanya bisa melarikan diri, jika ibunya membicarakan masalah itu.


Keesokan paginya,,


"Mama sama Nura mau kemana? Tumben udah rapi?" Tanya Ihsan, saat ia hendak berangkat bekerja.


"Mau ke rumah teh Aya. Kamu anterin mama sama Nura dulu, ya!" Pinta Evi.


"Mobil Nura dibawa papa, Bang. Mobil papa masih di bengkel."


"Papa kemana?"


"Ke rumah pak Hendrawan."


Ihsan pun akhirnya menuruti permintaan ibunya. Ia mengantar ibunya ke rumah kakaknya terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja. Tak lupa, ia berpesan pada ibu dan adiknya, untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang apa yang semalam ia ceritakan tentang Nisa. Dan mereka pun setuju.


Dan karena hari ini ada rapat pagi dengan Reyhan, Ihsan hanya mengantar ibu dan adiknya sampai depan rumah. Ia hanya mengirimkan salam karena tidak dapat mampir untuk menyapa.


Evi dan Nura segera masuk. Mereka disambut oleh pemilik rumah yang sedang memasak bersama seseorang yang terlihat asing.


"Dena?" Sapa Nura ragu.


"Nura?" Sahut seorang gadis, yang sedang membersihkan tangannya.


Nura segera menghampiri gadis itu. Gadis itu pun juga segera menyambutnya. Mereka langsung berpelukan untuk melepas rindu.


"Dena kapan pulang?" Tanya Evi antusias.


"Semalam, Tante." Jujur gadis itu, setelah selesai berpelukan dengan Nura.


"Kok nggak ngabari kalau pulang?" Tanya Nura bahagia.


"Kan kejutan. Papa sama mama aja nggak tahu kalau aku pulang. Cuma bang Reyhan yang tahu. Karena aku minta jemput di bandara." Jujur gadis itu.


Gadis itu adalah Rania Dena Anggara. Ia adik Reyhan. Ia baru saja pulang dari London, setelah menyelesaikan studi S1 dan S2, sembari mengembangkan perusahaan ayahnya di luar negeri.


Dena dan Nura memang seumuran. Mereka adalah teman sejak kecil. Mereka berpisah karena Dena melanjutkan studi di luar negeri.


"Ada Tante Evi sama Nura." Sapa Reyhan, yang baru saja turun bersama Viona.


"Iya, Rey." Ramah Evi.


"Om Andre nggak ikut, Tante?" Ramah Reyhan, setelah celingukan mencari suami dari salah satu tamu di rumahnya.


"Enggak. Dia ada janji sama temennya. Tadi dianterin Ihsan sekalian berangkat. Dia sampai nggak mampir, karena katanya ada rapat pagi sama kamu." Jujur Evi.


"Iya, Tante. Mau ngajuin proposal tender baru."


Evi hanya ber oh ria menanggapi Reyhan.


"Aku harus dapet proposal mereka. Mereka harus kalah kali ini." Batin Viona di sela senyum ramahnya menyalami Evi dan Nura.


Ini adalah rumah Reyhan. Atau lebih tepatnya rumah orang tua Reyhan. Dan Evi, adalah adik kandung dari ibunya Reyhan, Soraya Fatma. Atau biasa di panggil Aya.


Reyhan pun lantas berpamitan pada semua. Ia berangkat bersama Viona yang juga akan berangkat ke butik.


Keempat wanita itu akhirnya duduk bersantai di ruang makan sambil mengobrol.


"Kamu ada acara nggak Ra, hari ini?" Tanya Dena antusias.


"Nemenin mama aja." Jujur Nura.


"Nanti temenin aku, ya!" Pinta Dena tanpa basa-basi.


"Kemana?"


"Ke kantor bang Rey."


"Mama juga ngajak aku kesana nanti."


"Bagus dong."


"Kamu langsung kerja?"


"Enggak. Aku mau kenalan sama seseorang."


"Waahh, baru juga pulang dari London. Udah langsung dapet cowok, nih."


"Enak aja! Yang mau aku ajak kenalan itu perempuan."


"Lhah? Kok cewek?"


"Aku mau kenalan sama sekretarisnya bang Reyhan. Mbak Nisa." jujur Dena santai.


"Mama juga mau kenalan sama itu sekretarisnya bang Reyhan."


Dena segera menoleh pada Evi yang sedang mengobrol dengan Aya.


"Tante Evi mau kenalan sama mbak Nisa?" Tanya Dena tanpa basa-basi.


"Apa, Den? Oh, iya. Semalam mendadak Ihsan cerita tentang Nisa. Aku jadi penasaran sama orangnya."


"Waah! Kayaknya, hilal calon mantu udah kelihatan ini, Vi." Timpal Aya tiba-tiba.


"Belum tahu itu, Teh. Ihsannya masih diem. Tapi, semoga aja, iya." Jawab Evi bahagia.


Diam-diam, Dena sedikit kecewa dan kurang suka dengan obrolan ibu dan tantenya itu. Hatinya sedikit tidak suka dengan celetukan ibunya sendiri.


"Apa iya, mbak Nisa dideketin sama bang Ihsan?" Batin Dena.


"Den! Dena!" Panggil Nura, karena Dena melamun.


"Eh. Apa?" Gagap Dena terkejut.


"Kamu ngelamunin apa?"


"Ah, enggak."


"Kamu, kenapa pengen kenalan sama sekretarisnya bang Rey?"


"Oh, itu. Aku beberapa kali lihat dia di foto yang pak Rudi dan bang Reyhan kirim. Aku jadi penasaran aja." Jujur Dena.


"Gitu doang?"


"Iya."


"Orangnya tuh nggak cantik-cantik amat, lho. Aku pernah ketemu sekali sama dia. Dan seingetku waktu itu, dia nggak modis banget. Aku aja sampai bingung, kok bisa sekretarisnya orang sehebat bang Reyhan, penampilannya biasa banget."


"Bang Reyhan itu, nggak pernah menilai orang hanya dari penampilannya. Dia jelas menilai kinerjanya jika urusan pekerjaan. Dan setahuku, pekerjaan mbak Nisa selama ini, oke-oke aja." Bela Dena.


Nura pun terdiam. Ia cukup paham dengan apa yang dibicarakan Dena. Dan memang itu ada benarnya. Karena memang seperti itulah sifat Reyhan.


Kita memang tidak bisa menilai buku hanya dari sampulnya. Begitu juga menilai seseorang. Kita tidak bisa menilainya hanya dari penampilan luarnya saja. Karena itu mungkin hanyalah topeng atau sampul untuk menutupi sesuatu.