
Sepulang Yuri dari rumah Bisma dia duduk termenung menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan risau tak kala mengetahui tentang perjodohan Bisma dan Shiren. Dada Yuri teramat sangat sesak ketika mengingat kembali wajah putus asa Bisma saat meminta untuk menikah dengannya agar bisa terlepas dari perjodohan yang hanya berjarak dua minggu lagi.
Pikiran Yuri ingin sekali berkata "iya" jika tidak memikirkan perasaan Ayah Bisma, namun hati semua itu tidak sesuai dengan hati Yuri yang menginginkan sebuah penyelesaian agar hubungan yang terjalin dengan Bisma bisa berjalan dengan baik tanpa menyakiti perasaan orang sekitarnya.
"Aku harus bertemu dengan Ayah Pak Bisma untuk menjelaskan semuanya...Iya harus jangan sampai tidak!" Ucap Yuri yang kemudian bangkit dari tidurnya.
***
Keesokan paginya seperti biasa Yuri pergi ke kampus menggunakan motor kesayangannya dengan kecepatan sedang untuk menikmati sinar mentari pagi yang kebetulan sedang sangat cerah. Akan tetapi begitu Yuri hampir sampai di gerbang kampus, entah kenapa suasana kampus pagi itu sangat terasa ramai seperti tengah ada seorang selebritis yang masuk ke dalam kampus.
Tumben masih sepagi ini ada rame-rame di kampus? Ada acara apa ya?! Gumam Yuri dalam hati.
Di karenakan rasa penasarannya Yuri yang begitu tinggi, dia turun dari motornya kemudian menghampiri kerumunan orang yang ada di sekitar halaman kampus.
"Maaf permisi, kalau boleh tahu di sini ada apa ya? Kok semua murid berkerumun?" Tanya Yuri pada salah seorang murid.
"Ah itu di depan ada rombongan keluarga Pak Bisma datang ke kampus untuk memenuhi undangan dari rektor kampus, karena kebetulan katanya keluarga Pak Bisma adalah salah satu donatur yang menyumbang paling banyak di setiap tahunnya jadi pihak kampus memberikan sambutan yang meriah pada mereka" Jelas salah satu murid.
"Oh begitu ya..." Sahut Yuri sambil berusaha melihat keluarga Bisma dari jarak yang lebih dekat.
Keluarga Pak Bisma ternyata bukanlah kelurga yang sembarangan. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati kalau ingin bertemu dengan Ayah Pak Bisma! Gumam Yuri.
Sesaat setelah Yuri mulai bisa melihat keluarga Bisma yang sedari tadi di sebutkan oleh beberapa murid barusan, mata Yuri mendadak terkunci tak kala melihat sosok Bisma dari kejauhan sedang berdiri berdampingan dengan Shiren di sebelahnya.
"Wah lihat deh cewek cantik itu, dia katanya calon istrinya Pak Bisma loh!" Sahut beberapa murid yang berdiri tak jauh dari Yuri.
"Wah benarkah? Pasti cewek itu dari golongan orang kaya juga ya?!".
"Iya sepertinya begitu, secara keluarga Pak Bisma juga kan kaya sekali".
"Benar juga ya, mereka akan bisa serasi kalau dari golongan yang sama-sama orang kaya, ah kalau sekelas kita pasti bakalan di depak deh sama mereka".
"Iya...Yang kaya di cocokan sama yang kaya juga!"
Mendengar sekilas obrolan mereka tentang keluarga Bisma dan juga Shiren, membuat perasaan Yuri tiba-tiba tak karuan dan juga menjadi sangat tidak percaya diri ketika sosoknya di sandingkan dengan Shiren untuk menjadi pasangan Bisma. Tak dapat di pungkiri juga olehnya bahwasannya dirinya memanglah bukan orang kaya dan bukan juga terlahir dari seorang bangsawan. Namun perasaan cintanya pada Bisma benarlah tulus tanpa memandang Bisma orang kaya atau orang miskin.
Karena merasa dirinya tak ingin menganggu cara yang tengah berlangsung di hadapannya, perlahan Yuri berjalan mundur berniat meninggalkan tempat itu kemudian kembali pulang ke rumahnya untuk menenangkan dirinya kembali. Tetapi baru saja dia mulai melangkah beberapa langkah saja, dari belakang tiba-tiba saja ada tangan yang menariknya dengan cukup erat lalu membawa Yuri keluar dari halaman kampus tersebut dengan sedikit terburu-buru lalu mulai memasukan Yuri ke dalam mobilnya.
"Kak Helena?" Ucap Yuri tak kala melihat sosok Helena yang ternyata menarik tangannya.
Helena melihat ke arah Yuri "Apa kau ingin bolos kuliah hari ini?".
Yuri terdiam sejenak tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang baru saja Helena katakan.
"Aku anggap diam mu itu adalah sebagai jawaban iya dari mu. So ayo kita pergi dari sini!" Tegas Helena yang kemudian tancap gas meninggalkan kampus.
"Kak tunggu, motorku gimana?" Tanya Yuri yang kemudian langsung tersadar dari lamunannya tak kala Helena menyetir mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat.
"Tenang saja, aku sudah menelepon Asisten ku agar membawa motormu ke rumah Bisma" Ujar Helena sambil tersenyum ke arah Yuri.
Yuri memandang sosok Helena yang menurutnya keren dan juga humbel, yang tak pernah melihat latar belakang siapa Yuri dan menganggap Yuri sebagai adiknya sendiri.
"Aku...Aku tidak tahu Kak" Sahut Yuri singkat.
"Kok tidak tahu? Padahal tadi aku lihat kau mau pergi dari kampus loh!" Tegas Helena pada Yuri.
"Itu...Tadinya aku cuman mau pulang ke rumah saja Kak" Ujar Yuri dengan wajah yang kembali lesu.
Helena menatap Yuri sekilas lalu mengusap lembut kepala Yuri dengan penuh kasih sayang "Kalau kau ingin menangis, menangislah aku akan berada di sini menemanimu Yuri!".
Mendengar perkataan Helena barusan, membuat Yuri langsung memalingkan pandangan ke arahnya dengan hidung yang perlahan mulai memerah dan juga sudut mata yang mulai berair.
"Aku...Aku tidak ingin menangis kok Kak" Yuri memalingkan pandangannya ke arah luar jendela mobil.
"Benarkah?" Tanya Helena melihat sekilas ke arah Yuri.
"Iya" Jawab Yuri singkat.
"Kau yakin?" Helena masih bertanya pada Yuri.
Yuri terdiam sejenak lalu mulai menjawab pertanyaan Helena dengan tubuh sedikit bergetar "Ti...Tidak Kak! Hiks...".
"Jangan di tahan, kalau memang menangis adalah salah satu cara agar bisa membuatmu lebih tenang it's oke!" Tegas Helena.
Dan tak lama setelah Yuri mendengar penjelasan yang baru saja Helena katakan padanya, seketika tangis Yuri langsung pecah hingga membuat Helena menghentikan mobilnya sejenak di bahu jalan agar bisa memberikan pelukan yang membuat Yuri bisa lebih tenang.
Sementara itu di dalam ruangannya Bisma hanya terduduk di kursi kerjanya dengan posisi menatap ke arah luar jendela sambil sesekali memijit pelipisnya karena merasa kepalanya sangat pusing setelah acara penyambutan Ayahnya yang baru saja selesai.
Saat Bisma masih memijit pelipisnya, dari luar terdengar suara ketukan pintu yang membuat Bisma sedikit terperanjat tak kala mengetahui ternyata Shiren lah yang hendak masuk ke ruangannya.
"Bolehkan aku masuk?!" Tanya Shiren dengan hati-hati.
"Masuklah" Jawab Bisma sambil menganggukkan kepalanya.
"Em..Kau baik-baik saja?!" Sahut Shiren yang kemudian duduk di kursi bersebrangan dengan Bisma.
"Kenapa kau menanyakan itu padaku?!" Balas Bisma ketus.
"Aku hanya ingin memastikan saja, soalnya selama acara tadi berlangsung kau tampak murung dan tak banyak bicara" Jelas Shiren dengan raut wajah khawatirnya.
Bisma menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya "Bagaimana aku bisa baik-baik saja saat hubunganku dengan Yuri seakan tidak di pedulikan oleh Ayah kandungku sendiri!".
"Bis, aku tahu apa yang kau dan Yuri rasakan saat ini. Tapi...Bisakah kau sedikit saja menuruti dan juga mengerti dengan apa yang Ayahmu inginkan kali ini Bis?" Ujar Shiren sambil memegang tangan Bisma.
"Apa maksud dari perkataan mu itu Shiren?" Bisma mengerutkan kedua alisnya.
Shiren terdiam sejenak lalu kembali memandang Bisma sambil memegang tangannya dengan erat.
"Cobalah untuk mencintaiku Bisma!".