Pak Dosen I Love You

Pak Dosen I Love You
episode 88


Pagi-pagi sekali Yuri terbangun dari tidurnya dan segera bergegas untuk ke dapur membantu Bi Asih menyiapkan sarapan pagi selepas dia selesai melaksanakan sholat subuh.


Bi Asih yang nampak kebingungan hanya melihat Yuri sekilas tanpa berani sedikit pun bertanya tentang apa yang terjadi pada gadis muda di depannya ini.


Tak lama saat Yuri dan Bi Asih sedang fokus membuat sarapan, dari belakang datanglah Nilam yang juga nampak kaget ketika melihat Yuri bangun lebih awal dari biasanya.


"Ri tumben sekali kamu jam segini udah bangun?" Tanya Nilam sambil menatap Yuri.


"Oh itu...Aku pagi ini ada perlu Kak jadi pagi-pagi sekali aku terbangun" Jawab Yuri yang sedang sibuk memanggang roti.


Nilam mengerutkan alisnya "Ada perlu apa Ri? Mau sekalian Kakak Bantu?".


"Tidak usah Kak...Aku ingin menyelesaikannya sendiri!" Tegas Yuri


"Apa ini menyangkut tentang Bisma?" Nilam mencoba menebak pemikiran Yuri.


Dalam beberapa saat Yuri menghentikan sejenak kegiatannya lalu berbalik menatap Nilam "Iya Kak...Aku ingin menjelaskan sesuatu padanya".


Nilam menatap Yuri dengan dalam seraya mengerti dan juga memahami dengan apa yang Yuri katakan saat ini, hingga beberapa saat kemudian sebuah senyuman terlihat dari sudut bibirnya.


"Semoga lancar yah, Kakak akan selalu mendukungmu" Ucap Nilam sambil mengusap kepala Kinan.


"terimakasih Kak!" Balas Yuri sambil tersenyum.


Selesai sarapan Yuri segera berangkat ke alamat yang semalam Shiren berikan padanya dengan sedikit terburu-buru hingga dirinya lupa meminta izin pada Fredi terlebih dahulu, namun karena Nilam sangat mengerti dengan posisi Yuri saat ini, dia membiarkan saja Yuri pergi terlebih dahulu dan akan menjelaskannya alasannya oleh Nilam sendiri pada Fredi saat nanti akan datang untuk sarapan.


Melihat Kakak ipar yang sangat begitu pengertian padanya, sesaat sebelum berangkat Yuri memeluknya terlebih dahulu sambil mengucapkan terimakasih atas semua kebaikan dan dukungannya selama ini untuk dirinya.


\=\=> Flashback


Shiren menghela nafas panjang dan kembali menatap Yuri "Kalau kau tidak percaya besok pagi-pagi sekali datang saja ke rumahnya, dan jangan lupa katakan sejujurnya tentang perasaanmu padanya atau....".


"Atau apa?" Sambung Yuri.


Shiren mendekat ke arah Yuri lalu berbisik ke telinganya "Atau aku akan mengambil Bisma, dan akan ku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkan kesempatan kedua untuk mendekatinya".


Mendengar perkataannya barusan Yuri sedikit memundurkan langkahnya karena tidak menyangka Shiren akan berkata sampai sejauh itu padanya, sesaat pikirannya sedikit melayang membayangkan betapa seriusnya perasaan Shiren pada Bisma hingga dia berani mengatakan hal mengejutkan seperti barusan padanya yang sontak membuat Yuri kalang kabut dan menjadi bingung harus melakukan apa saat ini.


"Tak usah kaget seperti itu, ini hanya sebuah peringatan kecil untukmu sebelum kamu bisa memutuskan apa yang akan kamu lakukan dengan perasaanmu pada Bisma" Sambung Shiren.


Yuri tak lekas menjawab dan hanya terpaku menatap Shiren yang sedari tadi juga menatap dirinya.


"Ah sudahlah sampai kapan kamu akan menatapku seperti itu? Sekarang masih ada waktu hingga besok pagi untuk kau bisa memikirkan apa yang sudah aku katakan barusan, aku harap kau memikirkannya dengan serius...Mengerti?!" Ungkap Shiren sambil berjalan meninggalkan Yuri.


Namun belum sempat dia membuka pintu untuk keluar dengan posisi sedikit menundukkan kepalanya, Shiren kembali mengehentikan langkahnya kemudian mengangkat kepalanya dengan tegap,


"Oh iya satu lagi yang hampir aku lupa, untuk alamat rumah Bisma nanti aku akan kirimkan lewat pesan". Sambung Shiren sambil berjalan keluar dari kediaman Kakak Yuri.


***


Dalam perjalanan Yuri mencoba untuk menghubungi Bisma beberapa kali, namun tak juga mendapat jawaban darinya hingga membuat perasaan Yuri tidak tenang dan selalu saja melihat jam di tangannya takutnya dirinya terlambat untuk mendatangi Bisma.


"Pak bisakah sedikit lebih cepat? saya takut terlambat" Sahut Yuri pada supir grab di hadapannya.


Seperti mengerti dengan permintaan Yuri, sang supir mulai mempercepat lajunya bahkan sampai menyalib beberapa kendaraan yang berada di depannya.


Sesampainya di alamat yang Yuri tuju, dia akhirnya tiba di sebuah rumah yang cukup besar bergaya minimalis modern namun dengan kondisi yang terlihat sepi dari luar.


"Apakah benar ini rumahnya?!" Bisik Yuri sambil melihat kembali alamat yang semalam Shiren berikan padanya.


Dengan perasaan sedikit gugup Yuri mencoba berjalan untuk memasuki halaman rumah yang sedari tadi ada di depan matanya, karena tidak ingin lagi menyia-nyiakan waktu yang ada.


Perlahan namun pasti Yuri mendekat ke arah pintu rumah kemudian memencet bel beberapa kali, tetapi hingga tiga kali bel rumah itu di bunyikan tak terlihat seorangpun yang membuka pintunya atau bahkan terdengar suara keramaian di dalam rumah itu.


Apakah aku sudah terlambat? Apakah tidak ada lagi kesempatan untukku menjelaskan padanya kalau aku...Kalau aku...Gumam Yuri dalam hatinya.


Karena tidak ingin menyerah Yuri mencoba kembali untuk terus memencet bel bahkan sampai menggedor kaca jendela demi mengetahui dan memastikan apakah Bisma masih berada di dalam atau tidak.


"Pak...Pak Bisma, buka pintunya Pak!" Ucap Yuri dengan mata yang dan hidung yang mulai memerah.


"Pak aku mohon kalau kau masih berada di dalam keluarlah dan buka pintunya, ada yang ingin aku katakan padamu" Sambung Yuri sambil sedikit berteriak.


Melihat tak ada siapa pun yang merespon jawabannya Yuri langsung duduk tersungkur karena merasa kakinya lemas saat mengetahui kalau ternyata Bisma sudah pergi jauh darinya tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang Yuri rasakan padanya.


Air mata perlahan mulai jatuh dari matanya hingga mulai membasahi pipinya dengan rasa sesak yang perlahan terasa di dadanya.


"Hiks..Hiks...Aku tahu ini semua adalah salahku, aku begitu egois karena selalu saja mengabaikan perasaanmu padaku. Aku juga begitu bodoh karena selama ini terlambat mengetahui kalau aku...Aku mencintaimu Pak Bisma!" Tegas Yuri sambil menangis sesenggukan.


Sesaat kemudian setelah lumayan lama dia terduduk dan masih tidak ada respon dari dalam rumah yang masih saja tertutup rapat di hadapannya, Yuri kemudian mencoba menguatkan dirinya untuk berdiri kemudian berbalik dan mencoba melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana dengan air mata yang masih membasahi pipinya itu.


Tetapi belum sampai tiga langkah Yuri meninggalkan pintu rumah yang masih tertutup rapat itu, dari arah belakang tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kemudian memanggil namanya dengan suara khas yang Yuri yang kenal siapa itu "Tunggu Yuri!".


Yuri membelalakkan matanya kemudian dengan cepat berbalik ke belakang "Pak Bisma?".


Melihat Bisma yang tengah berada di hadapannya, seketika membuat tangis Yuri pecah dan tanpa basa basi lagi Yuri berlari menghampiri Bisma kemudian langsung memeluknya dengan erat.


"Dasar Dosen killer, apa kau tak tahu dari tadi aku memanggilmu hah?!" Gerutu Yuri sambil terus saja menangis.


Bisma tersenyum dan membalas pelukan Yuri sambil mengusap lembut ujung kepalanya "Iya maafkan...Maafkan aku".


"Hiks...Hiks...Aku mohon jangan pergi jauh dariku, tetaplah berada di sisiku apapun yang terjadi" Ucap Yuri sambil mengangkat kepalanya melihat Bisma.


"Pergi jauh? Apa maksud perkataan mu?" Balas Bisma yang sedikit kebingungan.


Perlahan Yuri melepas pelukannya dari Bisma lalu menatapnya dengan serius "Kau hari ini akan pergi dan sudah mengemasi barang-barang mu kan?!".


"Tuh benar kan kau memang akan tetap pergi jauh dan tidak akan berniat kembali ke Indonesia meskipun kau sudah tau bagaimana perasaanku kepadamu..." Lanjut Yuri.


Karena merasa pusing dengan perkataan Yuri, Bisma langsung mencium kening Yuri agar bisa menghentikan pembicaraan dan tingkahnya yang terlihat heboh sedari tadi.


Dan benar saja sesaat setelah Bisma mencium kening Yuri, tak sampai empat detik Yuri langsung diam terpaku menatap ke arah Bisma tanpa bergerak sedikitpun.


"Dengarkan aku dulu sebentar" Ucap Bisma dengan lembut.


Yuri menurut dan masih melihat ke arah Bisma.


"Aku hari ini memang akan pergi, tapi bukan pergi ke luar negeri apalagi sampai tidak kembali ke Indonesia" Sambung Bisma.


"Tapi kata....." Mendadak Yuri mengehentikan ucapannya sambil mengingat kembali perkataan Shiren semalam.


"Aku tidak meminta jawabanmu sekarang, jika memang kau benar-benar menyukai Bisma datanglah ke rumahnya besok sebelum dia pergi lebih jauh darimu!" Lanjut Shiren sambil bersiap untuk pergi dari rumah Yuri.


Mendengar kata "Pergi lebih jauh" Yuri yang melihat Shiren hendak berdiri akan pergi dari kediaman Kakaknya langsung mencegatnya dengan wajah yang terlihat gelisah sekaligus kaget "Tunggu dulu..Apa maksudmu dengan pergi jauh?".


Shiren tersenyum sinis menatap Yuri " Iya dia akan pergi ke tempat yang sangat jauh, bahkan mungkin dia tidak akan kembali lagi ke Indonesia".


Melihat Yuri melongo kebingungan Bisma pun kembali mendekat ke arah Yuri lalu memegang tangannya "Yuri kenapa kamu tidak melanjutkan perkataan mu?".


"Ah..Iya aku tidak apa-apa kok!" Tegas Yuri dengan raut wajah yang mendadak berubah kesal.


Dasar kau Shiren...Ternyata semalam kamu berbohong padaku ya? Awas saja kamu kalau ketemu nanti, gara-gara ulah mu aku jadi terlihat sangat memalukan di depan Pak Bisma. Gumam Yuri kesal.


"Kalau tidak ada apa-apa kenapa coba lanjutkan ucapan mu barusan" Sahut Bisma.


"Ucapan? Ucapan yang mana Pak?" Tanya Yuri yang mendadak kebingungan.


Mendengar Yuri berkata seperti itu, pikiran Bisma mendadak terbuka dan ingin sedikit mengerjai Yuri "Yang mana ya? Oh iya kalau tidak salah tadi sambil menangis kau sempat bilang mencintaiku kan? Kalau boleh tau sejak kapan kau mulai mencintaiku?!.


Jedar...


Wajah Yuri seketika langsung memerah karena malu karena ternyata Bisma mendengar jelas semua perkataannya tadi yang membuat Yuri seakan pergi jauh dari rumah Bisma saat ini juga.


"Kenapa kau malah terus diam? Apa kau tidak serius dengan semua ucapan mu tadi?!" Bisma terus menggoda Yuri.


"Ti..Tidak Pak bukan begitu, aku benar-benar serius Pak dengan semua ucapan ku tadi" Tegas Yuri.


"Benarkah?" Bisma memastikan.


"Benar Pak, aku sungguh-sungguh mencintaimu" Sambung Yuri.


Melihat dan mendengar kembali apa yang Yuri katakan tentang perasaannya, membuat perasaan Bisma lega karena ternyata perasaannya selama ini pada Yuri tidak bertepuk sebelah tangan dan dengan cepat Bisma kembali memeluk Yuri tanpa mendapat penolakan dari Yuri sendiri.


"Terimakasih karena sudah mau jujur padaku" Sahut Bisma.


"Iya sama-sama Pak, tapi apa aku boleh bertanya sesuatu?!" Ungkap Yuri sambil melihat ke arah Bisma.


"Tentu saja boleh...Apa yang ingin kau tanyakan?!" Balas Bisma sambil tersenyum.


Yuri merenggangkan pelukannya lalu menarik nafasnya sejenak "Apa perasaanmu padaku juga sama?".


Bisma terdiam sejenak sambil melihat ke arah Yuri, lalu memegang kedua tangan Yuri dengan erat "Iya...Aku juga mencintaimu Yuri Nadia Putri".


Senyum Yuri langsung tersungging dari bibirnya dengan wajah yang sudah sedikit memerah karena merasa malu dan juga ada perasaan bahagia tak kala mendengar perkataan Bisma barusan.


"Kalau begitu hari ini kita..." Yuri melihat ke arah Bisma.


"Kita apa nih?" Tanya Bisma yang masih saja menggoda Yuri.


"Ih...Ko malah balik tanya sih?! Kalau suka kan udah pasti kita..." Yuri kembali mengehentikan ucapannya.


"Ah tau ah...Kau ini kan sudah dewasa, masa iya harus aku terus sih yang menjelaskannya!" Yuri mulai emosi.


Bisma tertawa pelan melihat tingkah Yuri yang amat begitu lucu menurutnya hingga dia tidak bisa menahan tawanya sendiri.


"Dih malah ketawa lagi...Yasudah kalau begitu aku pulang saja!" Sambung Yuri sembari berjalan meninggalkan Bisma yang masih menertawainya.


"Hey tunggu dulu sebentar jangan terus marah-marah begitu dong?!" Seru Bisma sambil mengejar Yuri kemudian memegang tangannya.


"Apa lagi sih?!" Kata Yuri sambil menundukkan kepalanya.


Bisma tersenyum kemudian memegang dagu Yuri dan mengarahkan wajah Yuri padanya "Mulai saat ini, hari ini, dan detik ini, maukah kau menerimaku untuk menjadi kekasihmu?!".


Yuri terperanjat sambil masih menatap Bisma "Apa Bapak serius?!".


"Iya...Aku serius, bahkan sangat serius!" Tegas Bisma meyakinkan Yuri.


Beberapa saat mereka terdiam, akhirnya senyum dan juga tangis kembali terlihat dari wajah Yuri lalu dengan satu tarikan nafas Yuri pun kembali menatap Bisma dan menjawab "Iya...Aku menerima Bapak!".


.


.


.


\=\=\=> Hai teman teman... Jangan lupa untuk klik favorit , like , vote, dan komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.


Aku berdoa untuk kalian semua khususnya buat teman-teman pembaca setia "Pak Dosen I love You" agar terus di berikan kesehatan dan juga di berikan kemudahan dalam menggapai semua yang kalian inginkan aamiin🤲


Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku sampai detik ini dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you👋