
BAB 29
“Idih… Mau di kasih informasi, malah melotot.” Mulut Dhamayanti maju dua sentimeter.
“Habis gaya lu kayak manusia purba sih! Ada apa sebenarnya, hah?” Tanya Pandu.
“Gue tadi baca spanduk di jalanan. Bob Shalman mau main di Hilton Hotel.” Jawab Dhamayanti
“Kapan..?”
“Ntar Malam..” kata Dhamayanti
“Berapa Harga Tiketnya..?” tanya Pandu yang tak sabar.
“Nggak tahu..! Tanya saja sama bagian resepsionis.” Jawab Dhamayanti santai
“Kalau begitu, nanti malam aku akan ke sana untuk menyelidikinya.!” Kata Pandu.
“Gue ikut, ya!” sahut Dhamayanti.
“Nggak….!”
“Yaudah! Gue doain sial terus.”
“Bodo! Doa lu dianggap nggak sah..!” kata Pandu
Benar. Malam itu, Pandu nekat pergi sendiri ke Hilton Hotel. Ia mengenakan pakaian semi-rapi. Kaos merah dan blazer biru tua. Tak lupa ia mengantongi kacamata hitam yang biasa di gunakan oleh pilot – pilot pesawat.
Mulanya ia membuka lemari pakaiannya, mengeluarkan koper dari bagian bawah lemari. Koper itu menyimpan semacam ikat pinggang lebar berisi lima belas batang pisau kecil. Dulu pisau – pisau itulah yang digunakan sebagai senjata pada masa ia menjadi pedagang obat bius.
Tapi, setelah di pikir – pikir, hanya mempelajari kelemahan Bob Shalman tidak perlu harus adu fisik. Maka, cukup dengan berpenampilan rapi Pandu berangkat menuju Hilton Hotel.
Ia berpamitan dulu kepada Agnes. Tapi wajah Agnes tampak murung dicekam kegelisahan. Agnes bahkan sempat berkata, “Hati - hati, ya..! Perasaanku sejak sore tadi nggak enak. Entah mau ada apa ini…?”
Harga tiket untuk kelas VIP, tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Pandu tidak peduli. Dibelinya tiket kelas VIP itu, sehingga ia duduk pada deretan bangku kedua dari depan.
Permainan – permainan yang di tampilkan Bob Shalman dari awalnya sudah merupakan permainan yang berbahaya. Dengan mengenakan jubah ungu dan stelan warna merah, Bob Shalman memamerkan kemampuan hipnotisnya. Seorang gadis yang di pilih dari bangku penonton, di hipnotis sehingga tertidur. Lalu tubuh gadis itu bergerak sendiri melayang pelan – pelan, akhirnya menempel pada sebuah ujung besi panjang dan tajam.
Dalam keadaan berbaring kaku, tubuh gadis itu bergerak turun. Pinggang belakangnya menembus ujung besi yang tajam itu. Tanpa ada darah sedikitpun, tubuh gadis itu bergerak ke bawah sampai mencapai sepertiga besi. Untuk menunjukkan bahwa tubuh gadis itu tembus oleh besi, maka gadis itu di putar pelan – pelan.
Penonton bertepuk tangan. Riuh mereka merasa kagum. Bob Shalman tersenyum bangga.
Kini ia mengambil seorang penonton lagi. Kali ini yang di pilih adalah penonton laki – laki. Lelaki muda itu di hipnotis kembali seperti gadis tadi. Kemudian tubuhnya di buat melayang dalam keadaan tengkurap, perut pemuda itu menembus ujung besi yang taja,. Bluuss…! Terus kebawah sampai mendekati tubuh gadis yang dalam keadaan posisi telentang.
Itulah salah satu permainan sulap Bob Shalman yang di beri nama permainan : Sate Kemesraan. Dalam hati Pandu hanya menggumam, ‘ilmunya cukup tinggi. Atau… Barangkali kedua orang itu adalah temannya sendiri yang di pasang di antara penonton.’ Pandu menggumam. Matanya tak berkedip menatap apa saja yang bergerak di atas panggung. Bahkan, bukan hanya di atas panggung yang di perhatikan Pandu, Bagian bawah panggun juga tak luput dari perhatiannya. Di perhatikan semuanya secara teliti.
Permainan berikutnya, Bob Shalman meminta kesediaan penonton perempuan lagi naik ke atas panggung. Dengan malu – malu, perempuan berusia sekitar tiga puluh tahunan itu akhirnya di bombing oleh Assitant Bob Shalman untuk naik ke atas Panggung. Perempuan itu bersama suami dan anaknya. Cantik. Dalam dialog perkenalannya di atas panggung, perempuan itu mengaku Bernama Natasya, bekerja di sebuah perusahaan kontraktor asing.
Bob Shalman memasukkan perempuan itu ke dalam tabung kaca. Di atas panggung ada dua tabung kaca dalam keadaan berdiri, berjarak sekitar empat meter. Natasya di masukkan ke dalam tabung yang kanan.
“Saya akan menukar tempat Nona Natasya ini tanpa harus membuka tabung atau menggesernya,” Seru Bob Shalman. “Sekarang, saya mohon satu penonton laki – laki naik ke atas panggung untuk mengisi tabung yang kiri. Yah, siapa saja.. silahkan..”
Tanpa pikir panjang, Pandu berdiri sambil mengacungkan tangan, lalu dia di jemput oleh Assistant Bob Shalman untuk naik ke atas panggung.
Bob Shalman sedikit terperanjat melihat Pandu. Ia masih mengenali wajah itu. Dalam perkenalannya, Pandu menyebutkan namanya dan Bob Shalman mengomentari,
“Pandu, nama yang bagus. Dia pasti seorang pemberani. Mungkin kalau masih ada perang, dialah yang pertama kali yang ingin menjadi pahlawan.” Kata Bob Shalman.
Grrrrrree….! Penonton tertawa mendengar gaya humor Bob Shalman. Pandu menahan diri, walau sebenarnya dia merasa tersinggung. Dia juga tahu, bahwa Bob Shalman masih mengenalinya. Karena itulah, Pandu memasang kewaspadaan tingkat tinggi.
“Silahkan Bung Pandu masuk ke tabung kiri. Jangan kaget jika anda nanti saya tukar dengan tabung yang kanan.” Kata Bob Shalman bernada keramahan Palsu.
Pandu masuk ke dalam tabung yang kiri. Tabung kaca itu terkunci rapat. Bob Shalman menggerakkan tangan kanannya ke arah tabung kanan, tempat Nona Natasya Berada.
Bluup..! tabung itu mulai di penuhi asap putih, makin lama makin tebal, tapi Nona Natasya tetap tenang tanpa terbatuk – batuk. Makin tebal makin tak kelihatan tubuh Nona Natasya itu.
Bob Shalman menggerakkan tangan kirinya, Bluuup….! Tabung tempat Pandu berada mulai berasap. Asap itu makin tebal, membuat Pandu semakin tidak kelihatan di mata penonton.
Anehnya pada saat itu, Pandu merasa kepalanya pusing. Ia tidak bisa setenang Natasya tadi. Bukan hanya kepalanya, tapi juga dadanya terasa sakit, karena terlalu sesak untuk menghela napas. Bahkan ia terbatuk – batuk. Sedangkan asap itu makin banyak, makin membungkus tubuh Pandu. Ia sendiri tidak bisa melihat di mana penonton, dimana Bob Shalman.
Dalam keadaan terbatuk, Pandu merasa tubuhnya melayang - layang. Ringan sekali. Ia tak tahu apakah tabungnya sudah di buka atau belum, tapi menurut perasaannya waktu di dalam tabung sudah cukup lama. Ia juga tidak mendengar suara riuh tepukan penonton. Yang ada hanya suara denging kecil, menyakitkan telinga.
Suara denging itu makin lama semakin hilang. Pandangan mata Pandu masih gelap. Tapi pernapasannya mulai lega. ‘Mungkin saat itu aku sudah berada di tabung sebelah kanan’ pikir Pandu.
Hening, lengang suasana yang di terima telinga Pandu. Beberapa saat kemudian, pandangan matanya menjadi buram, makin lama semakin terang dan normal kembali.
“Hhaaahh….?” Pandu terbelalak kaget. Ia bukan berada di dalam tabung kaca, melainkan dalam ruangan berdinding logam putih, semcam logam stainless.
‘Oh..! Di mana aku ini…? Di mana Natasya..? di mana penonton?’ Pandu keheranan.