Misteri Gadis Terpenggal

Misteri Gadis Terpenggal
BAB 24


BAB 24


Memang mengantuk juga Tante Mirah sebenarnya. Tapi, ia kuat – kuatkan untuk tidak tertidur sebelum Pandu datang. Tapi sekarang, ia buru - buru melepas dasternya untuk di ganti dengan gaun tidur yang tipis, nyaman untuk berbaring.


Sudah merupakan kebiasaan Tante Mirah, bahwa sebelum tidur, Tante Mirah pasti buang air kecil dulu ke kamar mandi. Namun alangkah kecewanya dia begitu melihat bak mandi ternyata kosong. Tidak ada air setetes air sedikit pun. Bak itu telah bocor, pikirnya. Ia menggerutu dalam hati.


Ia segera membuka kran ai dan menadahkan ember kecil untuk sekedar cuci kaki dan kencing. Kran air tetap dinyalakan setelah tutup saluran di bawah bak mandi itu di betulkan letaknya, menjadi rapat kembali.


‘Biar sedikit tapi harus ada air, ah..! Takut kalau tengah malam aku bangun dan pingin kencing, nggak ada air repot nanti’ pikirnya.


Tiba – tiba kran ai berhenti. Tante Mirah mendengus kesal, kecewa. Kran air di buka lebih lebar lagi sebelum ia bermaksud membuka pintu kamar mandi.


Tetapi, alangkah terkejutnya Tante Mirah begitu melihat yang keluar dari kran tersebut bukan air, melainkan asap putih. Asap itu makin lama makin banyak dan menebal.


“Ohh,, Siall.. Asap itu datang lagi..!” Tante Mirah menjadi tegang, buru – buru ia lari keluar dari kamar mandi.


Tetapi, pintu kamar mandi tiba – tiba macet, tidak bisa di buka. Makin berdetak jantung Tante Mirah, makin gemetar tangannya dan menarik kuncinya. Bahkan ia sempat mengguncang – guncangkan pintu itu, tapi pintu itu tetap kokoh, seakan kedua sisi nya terpatri kuat – kuat ke bagian kusen. Engselnya membeku, tak bisa di gerakkan sedikit pun.


Celaka….! Asap yang keluar dari dalam kran air itu semakin banyak. Memenuhi bak mandi. Tante Mirah mendobrak pintu kamar mandi, tapi tetap tidak berhasil di buka.


‘Siaalll. Apa – apaan pintu ini sih..? Ohh, harus keluar lewat mana aku kalau begini..? Lewat lobang angin itu..? Tidak, Terlalu sempit. Untuk kepala ku saja tentu tidak akan muat.’ Batin Tante Mirah.


Bentuk gumpalan asap itu persis seperti yang pernah terjadi tempo hari, yaitu berubah – ubah bentuk dan bergerak lamban mendekati Tante Mirah.


Tante Mirah mencoba meniup, mengibaskan gayung, tapi asap itu tetap tak bisa terhempas buyar.


Jrrroooossshhh….!


“Aauuhhh…” Tante Mirah terpekit kaget mendengar suara keras. Ternyata air kran keluar dengan semburan kuat. Suasana menjadi sangat berisik.


Tante Mirah berseru meminta tolong, tapi tak ada yang mendengarnya. Mungkin karena derasnya air yang menyembur dari kran, membuat suara Tante Mirah menjadi teredam dengan sendirinya.


“Tidakkk..! Jangan sentuh aku lagi…! Jangan…! Pergi kau…! Jangan ganggu aku lagi…!” Teriak Tante Mirah.


Asap Putih abu – abu itu membentuk satu formasi dari gumpalannya, mirip seperti bentuk bendera. Pada saat itu, Tante Mirah sudah mulai terpojok. Bendera dari asap itu siap menyergapnya.


Namun, dalam keadaan terjepit begitu, Tante Mirah masih bisa meloloskan diri dengan menundukkan kepala dan berlari lewat bagian bawah asap itu. Hanya saja, tiba -tiba gerakan asap itu begitu cepat membalik.. Whusss..!


“Lepaskan….! Pergi kau…! Pergi…!” teriak Tante Mirah kepada asap itu sambil meronta – ronta.


Setelah beberapa kali ia berusaha meronta namun tidak berhasil, maka Tante Mirah pun sadar bahwa segala kekuatan yang ada padanya akan sia -sia belaka. Yang ia lawan bukan tenaga manusia, melainkan tenaga setan dalam bentuk asap. Tante Mirah akhirnya pasrah, terutama setelah merasa kakinya tidak menapak di lantai kamar mandi lagi.