
BAB 25
Ia menangis, tapi tak bisa keluar air mata. Ia sadar bahwa dirinya dalam keadaan mengambang, lalu seperti di dorong ke samping hingga terbaring. Tetapi, perasaan melayang – laying masih saja jelas dirasakan.
Entah bagiamana cara nya asap itu membawa Tante Mirah terbang, yang jelas Tante Mirah merasa keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan terbang dengan posisi terbaring. Asap yang membalut sekujur tubuhnya itu menjadi hangat pada bagian dekat pipi, seperti ciuman seorang laki – laki. Tangan – tangan kekar terasa sedang memeluknya erat.
Tante Mirah takt ahu, kemana arahnya ia di bawa terbang. Yang ia tahu, ia sedang di perk\*sa oleh segumpalan asap yang tak tahu apa sebenanya makhluk tersebuk. Ia merasa di perk\*sa dalam keadaan melayang – laying tanpa sadar.
Beberapa lama kemudian, Tante Mirah tersentak kaget, gumpalan asap itu hilang begitu saja. Ia bisa memandang benda – benda di sekitarnya.
“Ohhh..?!” ia terpana Kaget. Tubuhnya mengambang. Begitu ia tersentak kaget, tubuh itu pun meluncur jatuh ke bawah… Bluukkkk…!
Tante Mirah mengeluh panjang dengan memegangi dadanya. Nyaris jantungnya copot waktu ia melayang jatuh. Ternyata ia jatuh di atas sofa panjang di ruang tamu.
Embun pagi mulai hadir di sela sunyinya malam. Tante Mirah masih termenung di tepian ranjang. Ia menyadari bahwa diri nya habis di perk\*sa lagi oleh Makhluk yang berbentuk gumpalan kabut asap.
Malam yang sunyi itu menghadirkan suara samar – samar yang menimbulkan kecurigaan Tante Mirah. Suara itu seperti suara anaknya yang berseru, “Pandu…. Pandu…!”
Gemetar tubuh Tante Mirah, berdebar – debar jantungnya. Untungnya pintu pagar rumah Pandu tidak di kunci, sehingga Tante Mirah bisa lansung segera menuju ke teras dan mengetuk – ngetuk pintu rumah Pandu. Saat itu, makin jelas suara tangis Agnes, makin tak sabar Tante Mirah ingin mengetahui apa yang terjadi.
Ia sendiri ikut berseru sambil mengedor – gedor pintu, “Pandu…! Pandu…!”
Sadar bahwa Pandu nampaknya sedang dalam bahaya, Tante Mirah pun berseru memanggil yang lain. Pintu masih di gedor – geodr dengan semakin keras
“Yanti….! Yanti, buka pintunya…! Pak Salim…! Paaaakk…! Buka pintunya Pak..!”
Seruan itu membuat Om Harman terbangun. Ia takut keluar dan menengok ke arah rumah Pandu. Juga, ke arah rumah Pak Musa yang berada di seberang rumah Agnes, terdengar kuncinya di buka. Bu Musa dan anak gadisnya yang masih SMP keluar, memperhatikan ke arah rumah Pandu. Pada saat itu, Om Harman bertanya kepada Tante Mirah dari halamannya rumahnya.
“Ada apa, Tante..? Sepertinya sudah sejak tadi saya mendengar Tangis Agnes..?” tanya Om Harman.
“itulah, Om..! Saya jadi cemas, ada apa dengan Pandu. Soalnya, tadi Pandu pulang dalam keadaan tak bisa bicara dan tak bisa bergerak, Lumpuh.” Jawab Tante Mirah.
“Lumpuh…? Wah, kok makin gawat saja masalah ini..?!” gumam Om Harman. Sambil bergegas keluar dari halaman rumahnya dan masuk ke halaman rumah Pandu. Waktu itu, Pak Musa dan istrinya ikut mendekat.
Sekali lagi Tante Mirah menggedor – gedor pintu sambil berseru, “Pak Salim…! Paaakkk…! Buka Pintunya, ada apa dengan Anak saya dan Pandu Paaakkk…!?”
Klek..! Pintu di buka. Dhamayanti yang membuka pintu. Wajah Dhamayanti tampak tegang. Ia tidak bicara apa – apa, tapi segera memberikan jalan pada mereka, membiarkan mereka ikut masuk.