Misteri Gadis Terpenggal

Misteri Gadis Terpenggal
BAB 27


BAB 27


Theresia melangkah di damping Dhamayanti menuju kamar Pandu. Waktu itu, Theresia berkata, “Ku rasa Mamanya Agnes lebih tahu dari pada aku. Sebab kunci masalah ini sebenarnya ada pada Mamanya Agnes.



Kemunculan Theresia di sambut senyum berair mata oleh Agnes. Mama nya Agnes juga ada di situ, tidak masuk kerja. Ia ingin mengurus anaknya dan Pandu, calon menantu yang di banggakan kesetiaannya.



Ia di perkenalkan oleh Dhamayanti kepada Theresia. Sambutan Theresia cukup ramah, tapi ia segera mengalihkan perhatiannya kepada Agnes.


“Tubuhku telah kembali, Ther..” kata Agnes


Theresia tersenyum, membuka selimut yang menyelubungi tubuh Agnes. Lalu berkata dengan nada bercanda, “Kau yakin ini tubuhmu,,? Nggak salah..?”


“Hmmm.. Menurutku… memang inilah tubuhku…!” jawab Agnes.


Theresia tertawa kecil. “Aku tahu, kau pasti menandai pada kedua bukitnya yang seperti mangkuk bubur kan..?”



Agnes tertawa sumbang dengan mata yang masih berkaca – kaca. Theresia mencubit Pipi Agnes sambil berkata, “ Syukurlah… Tak lama lagi anggota tubuhmu yang lain juga akan tumbuh..”


“Kapan, Ther..? Masih lama..?” tanya Agnes


“Yaa… tergantung Pandu atau Mama mu…!” jawab Theresia.


“Saya….?” Tanya Mama nya Agnes berkerut dahi.


Tangan Theresia segera menggandeng lengan Mamanya Agnes. Ia membawanya ke sudut kamar, berbicara dengan suara berbisik – bisik. Saat itu, Dhamayanti menyadap pembicaraan mereka dengan berlagak membenahi pakaian Pandu yang belum sempat di cuci.


“Tante pasti sudah mengetahuinya..!” kata Theresia kepada Mama nya Agnes.


“Soal apa..?” Tanya Mamanya Agnes yang masih merasa bingung.


Theresia mencium telapak tangannya yang habis di pakai untuk menggandeng tangan Tante Mirah. Kemudian berkata lirih,


“Tante telah melakukan sesuatu dengan terpaksa bukan..? saya mencium bau tubuh laki – laki di tubuh Tante.”


Mata Mamanya Agnes itu tak berani menatap Theresia. Ia menunduk, antara malu dan sedih. Sedangkan Agnes yang kini sudah bisa berguling miring, memperhatikan percakapan mereka walau tak terdengar dari tempat tidurnya.


“Tak perlu malu, Tante. Saya tahu semua itu terjadi di luar kehendak Tante Mirah. Tetapi, justru itulah yang membuat tubuh Agnes bisa kembali.” Kata Theresia.


Setelah napas satu kali. Tante Mirah berkata, “Ya… Memang saya telah diperk\*sa oleh segumpalan Asap tebal. Warnanya Putih abu – abu. Ketika asap itu membungkus tubuh saya, saya seperti di peluk oleh seorang lelaki. Dengan susah payah, saya…”


“Saya tahu… Saya tahu, Tante..! “ Theresia menyerobot kata – kata Tante Mirah sambil manggut – manggut. “Tapi saya yakin, Tante tidak tahu siapa segumpalan asap itu, bukan..?”


Tante Mirah menggeleng. Theresia berkata lagi, “Bob Shalman…!”


“Haaahhh…?” Tante Mirah terbelalak.


“Diab isa berubah menjadi segumpalan asap, karena dia sebenarnya bukan manusia.” Kata Theresia


Makin terperanjat Tante Mirah jadinya. Cemas, dan jantungnya berdebar – debar.


“Lalu, bagaimana dengan saya, Theresia..? Saya sudah dua kali bergumul dengannya dan… dan hal itu menimbulkan perubahan pada diri Agnes…” ucap Tante Mirah


“Itu jaminan dari Bob Shalman, Tante. Sebenarnya, jika Tante mau melayani keinginan Bob Shalman, maka Agnes akan pulih seperti sediakala. Setiap kali Tante melayaninya, satu ruas tubuh Agnes akan tumbuh kembali. Tetapi, tentunya Tante tahu. Cukup banyak ruas yang ada pada tubuh manusia. Belum ruas jari – jari tangan dan kaki.” Jawab Theresia.


“Begitulah kelicikan dan kejahatan Bob Shalman. Yang lebih gawat lagi, Tante harus segera periksa ke dokter..” kata Theresia.


“Kenapa…?” Mata Tante Mirah menjadi tegang.


“Tante akan hamil akibat pergumulan itu. Dan, bayi yang ada dalam kandungan Tante itu bukan bayi manusia.” Jawab Theresia.


“Haahh…? Ja… Jadi… Jadi aku akan mengandung anak iblis..?” Tante Mirah ketakutan.


“Semua kasus ini akan selesai, jika Bob Shalman berhasil di bunuh oleh siapa saja. Tapi membunuh Bob Shalman sama seperti membunuh segumpalan asap putih abu – abu itu, Tante.!”


Wajah Tante Mirah pucat. Bibirnya gemetar, nyaris tak bisa mengucapkan kata – kata apapun. Theresia tetap tenang, kini ia tersenyum sambil menepuk Pundak Tante Mirah,


“Sudahlah. Redam dulu pikiran itu dan bersabar, Tante. Kita punya pengharapan hanya pada Pandu. Kita harapkan Tuhan memakai Pandu untuk mengusir iblis Bob Shalman itu.” Kata Theresia


Dhamayanti diam – diam merinding mendengar percakapan tersebut. Ia sangka tak ada yang tahu, bahwa ia sengaja menguping omongan Theresia dengan Tante Mirah.



Waktu Theresia kembali mendekati ranjang, Dhamayanti selesai membenahi pakaian kotor Kakaknya. Ia berdiri di samping Theresia sambil berkata, “Sekarang bagaimana dengan Pandu ini, Ther..? Tolonglah dia…!”



Theresia tertawa pelan, berbisik pada Dhamayanti, “Pucat sekali kau mendengar percakapan tadi.., takut..?”



Dhamayanti tak bisa menjawab. Malu sekali. Ternyata sikap mengupingnya itu di ketahui oleh Theresia. Wajah yang pucat menjadi semburat merah. Makin geli Theresia melihatnya.


“Ther…,” Sapa Agnes. “Pandu bagaimana…?”


“Ah… Dia Cuma kecapekan saja kok. Nggak apa – apa..” jawab Theresia


Plukk….! Theresia menyentil ujung hidung Pandu. Seketika Pandu menggeragap, seperti orang terkejut, lalu terengah – engah.


“Tuh.. nggak apa – apa kan..?” kata Theresia.


“Pandu…! Pan..!” Agnes mulai menangis lagi karena gembiranya. Ia bergeser seperti kepompong bergerak, lalu mencium pipi Pandu. Perasaan lega dan gembira dicurahkan dengan cara merebahkan kepala di dada pandu, sebagai pengganti sikap memeluk sang kekasih.


“Gila lu…! Kalau tahu begitu, sejak semalam sudah ku sentil hidung si monyong itu…!” gerutu Dhamayanti di samping Theresia.


Theresia mengikik geli. “Kau tidak mempunyai hawa murni yang tersalur dalam tubuhmu, Yanti. Biar kamu ketok pakai martil, kakak mu tetep saja tidak akan kembali normal.”


“Ther…! Terima Kasih…” kata Pandu, “Cuma kamu memang brengsek dan suka mempermainkan keadaan yang berbahaya..! Seharusnya sejak tadi kau bisa melakukannya, kan..?


“Eh,, kamu sudah ku tolong masih sewot..!?” kata Theresia. “Sudah, urus tuh cewek lu! Hati – hati, sekarang kamu nggak bisa sentuk dia sembarangan. Bagian – bagian yang gawat sudah ada tuh..”


Kemuadian kepada Mamanya Agnes, Theresia berkata,


“Sebaiknya mulai sekarang Agnes harus tidur terpisah dari Pandu, Tante. Banyak hal yang bisa di lakukan Pandu jika tidur bersama Agnes. Jari – jari tangannya punya keterampilan khusus yang bisa menjerat cewek mana pun juga.”


“Brengsek lu…!” bentak Pandu, membuat yang lain tertawa geli. Masa Bahagia, hari – hari ceria, kini menjelma di antara mereka.


Namun, Pandu masih belum puas. Ia masih harus mengejar anggota tubuh Agnes yang lainnya. Ia tetap bertekad merebutnya dari Bob Shalman. Apalagi secara empat mata ia mendengar cerita dari Theresia tentang nasib Mamanya Agnes, hati Pandu semakin panas. Darahnya bagai mendidih membayangkan wajah Bob Shalman yang ingin sekali di remasnya sampai hancur.


“Hanya sekali pandang, aku seperti terkena pukulan keras di ulu hatiku, Ther.! Gila nggak..?” tutur Pandu dengan berapi - api