MENJEBAK PRIA KAYA

MENJEBAK PRIA KAYA
BAB 5


Di kediaman keluarga Nagarjuna.


Dipenuhi harapan yang besar, raut wajah Selly bersinar. Perasaannya sudah sangat tidak sabar menanti kabar dari Marina. Sebentar lagi dia akan menyandang status sebagai mertua dari Arshaka Virendra, tentu itu merupakan gelar kehormatan baginya. Ia begitu membanggakan dirinya sendiri. Keegoisan melintas di hatinya. Tak ada secuil pun terlintas memikirkan nasib putrinya.


Dengan harap-harap cemas, Selly menunggu telpon dari Marina. Seharusnya Marina sudah memberinya kabar tapi entah kenapa ponselnya tak ada suara dering panggilan sampai ia jenuh menunggu.


Selly yakin rencananya tidak akan gagal. Marina sangat bisa diandalkan, Selly meyakininya dalam hati di tengah rasa gelisah yang menguasainya.


Tak lama telepon berdering.


Betapa ini mengejutkan Selly setelah menerima telepon, ia diminta untuk datang ke kediaman keluarga Virendra. Artinya ini sebuah kabar baik baginya.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Selly untuk segera bergegas menuju ke kediaman Virendra.


Dikejutkan oleh sebuah pemandangan, Selly merasa hatinya riang. Ada Tuan besar Virendra bersama istrinya dan juga Marina tengah duduk bersama seakan mereka sedang menunggu kehadiran Selly. Senyum sumringah mewarnai wajahnya.


"Maaf, kalau membuat kalian menunggu." Lalu Selly berpura-pura terkejut melihat ke arah Marina, "Lho ada putriku di sini juga, aku kira dia ikut pulang bersamaku. Semalam kepalaku agak pusing terlalu banyak minum jadi tidak memerhatikannya."


"Silakan duduk dulu, Jeng Selly...! Ada sesuatu yang ingin kami bahas bersama dengan anda." Desi mempersilakan setelah menyambut Selly.


"Baiklah..." Selly duduk dengan tenang. Jauh di sudut hatinya, Selly sangat menantikan momen ini.


Nyonya Desi memberi kode pada Tuan Virendra untuk menjelaskan pada Selly. "To the point saja, karena ini menyangkut masalah yang sangat penting."


"Ada apa yah? Kalian terlihat begitu serius." Selly berpura-pura berekspresi bingung.


"Maafkan keluarga kami yang telah berbuat salah. Demi menjaga martabat keluarga besar Virendra, aku memutuskan untuk menikahkan putra sulungku dengan putri anda."


"Me–menikah?"


Sekian detik keheningan menyelimuti. Selly bersorak dalam hati, ia tidak menyangka rencananya berjalan dengan mulus. Keinginannya sudah ada di depan mata.


"Maaf, aku masih belum mengerti. Aku diundang kemari untuk membahas pernikahan anak-anak kita? bukankah ini terdengar terburu-buru," Selly melanjutkan. Kegirangan meluap di hatinya.


"Yah ini sebagai wujud tanggungjawab dari keluarga Virendra terhadap putri anda"


"Marina...kemarilah, duduk di dekatku. Ini sesuatu yang serius rupanya. Aku butuh waktu untuk bicara dengan putriku," Selly menoleh ke arah Marina yang duduk berseberangan dengannya.


Dalam hati, Marina berharap pernikahan ini batal. Marina berencana untuk memberitahu ibunya bahwa mereka hanya memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari Marina saja. Dengan tertunduk, Marina berjalan mendekati Selly.


"Bu... batalkan saja, aku tidak mau menikah," bisik Marina.


"Stop, jangan bicara omong kosong. Lihat! Keluarga Virendra mau menerimamu saja, ini sebuah keberuntungan besar. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Ibu tidak suka kamu membantah. Ingat, ini demi keluarga kita," Selly berbicara pelan dan hanya Marina yang mendengarnya.


"Bagaimana?" Tuan Virendra dan Desi memandang ke arah Selly, mereka menantikan kepastian dari Selly.


"Aku setuju. Sebelumnya aku minta maaf kalau putriku berbuat tidak sopan"


"Ah... itu... Sebenarnya putraku yang bersalah, kamilah yang seharusnya meminta maaf," ucap Desi.


"Ok, kalau begitu minggu depan kita menikahkan anak kita,"


"Hah?!! Minggu depan?" Selly terbelalak. Selly tidak menyangka secepat itu, ia pikir keluarga Virendra butuh waktu agak lama mempersiapkan pernikahan putranya. Dalam angan Selly, pernikahan Marina akan digelar megah dan itu pasti butuh persiapan matang.


"Baiklah," Selly menyetujui tanpa daya, ia masih linglung dan banyak berpikir.


Setelah pembicaraan mereka sudah menemui kesepakatan, Selly dan Marina pamit pulang.


Arshaka yang hanya mendengar di balik tembok, tersenyum licik dengan sepulang rencana di benaknya. Ia bahkan tidak mau menunjukkan wajahnya di depan Selly karena baginya Marina sudah tahu wajah Arshaka saja sudah cukup membuat kesialan.


Arshaka hanya tidak ingin ada lebih banyak orang yang tahu wajahnya. Telah sejak lama ia bersembunyi dan tak ada orang yang mengetahui identitasnya, tujuannya agar orang-orang tidak mudah menjebak dan mengambil keuntungan darinya hanya karena Arshaka adalah putra Virendra. Tapi Marina, berhasil menjebaknya. Itu membuat kekesalan di hatinya.


*******


Sejak dari kediaman keluarga Virendra, wajah Selly berseri. Selly merasa tinggal selangkah lagi, dia akan menjadi orang kaya. Impian memiliki menantu konglomerat sudah di depan mata. Berbanding terbalik dengan Marina yang terlihat lesu.


"Bagaimana hasilnya, Bu?" Rika penasaran dan langsung bertanya, begitu Selly dan Marina melangkah masuk.


"Adikmu ini bisa diandalkan, rencana ibu berhasil. Sebentar lagi..."


"Benarkah???" Rika hampir tidak percaya, ini seperti mimpi. Kenapa begitu mudahnya nasib keluarganya akan berubah. Dipenuhi rona wajah yang bercampur bahagia dan terkejut, Rika langsung meluapkan kegembiraannya. Dia berjingkrak riang. "Bagus, adikku memang paling cantik dan mampu memikat para pria." Rika beralih ke Marina dengan memujinya tapi tersirat makna satir di dalamnya.


"Sudah simpan dulu rasa bahagiamu, sekarang kamu fokus kuliah." Selly mengingatkan Rika.


Meski Selly berkata demikian menasihati Rika tetapi siapa yang tahu apa yang ada di pikirannya hanyalah menyia-nyiakan masa muda. Rika hanya ingin bersenang-senang tanpa harus melewati proses panjang.


Marina yang memandang tingkah Rika dan Selly, merasa muak. Marina benar-benar kecewa, bagaimana bisa mereka terlihat bahagia di atas penderitaan Marina. Padahal impian dan cita-cita Marina harus berhenti. Tak ada satupun yang memikirkan perasaannya.


Setelah itu, Marina menuju kamar. Di dalam kamar, Marina menelpon sahabatnya. Perasaannya kini tengah galau, dia butuh teman bicara.


"Hai, Van..."


"Ada apa, Mar? Suaramu terdengar lesu." Di seberang telepon, Vania–sahabat Marina menjawab telepon.


"Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Randi..." Sebelum menelpon Vania, Marina sudah terlebih dahulu menghubungi Randi. Dia memutuskan hubungannya lewat telepon. Di tengah rasa galau dan sedihnya setelah itu Marina langsung menelpon Vania.


"Apa?" Vania sedikit terkejut, masalahnya dia yang lebih tahu bagaimana hubungan Marina dan Randi dalam keadaan baik-baik saja. Vania menduga ada sesuatu yang tengah terjadi. Tidak ada angin dan hujan, Marina memutuskan secara sepihak pasti ada alasan kuat yang mendasarinya. "Randi selingkuh?" tebak Vania secara asal.


"Bukan itu masalahnya,"


"Bagaimana kalau kita keluar sekarang? Atau aku yang ke rumahmu. Pasti ada banyak yang ingin kamu ceritakan, iya kan?"


"Maaf... mulai sekarang aku tidak diijinkan keluar, jadi aku hanya bisa berkomunikasi lewat telepon."


"Ini ada apa sih, Mar?! Aku jadi tidak mengerti."


Sambil menahan isak tangis, Marina langsung berkata, "Minggu depan aku akan menikah..."


"Me–menikah?" Vania terkejut mendengar kabar dari Marina.


-----


-----


Bersambung...