MENJEBAK PRIA KAYA

MENJEBAK PRIA KAYA
BAB 3


Karena realisasinya yang tak sesuai, Selly memutuskan untuk beralih ke rencana lain. Seketika ide masuk ke dalam otaknya segera Selly bertindak.


BYUUUURRRR


Selly berpura-pura menumpahkan minuman yang tengah dipegangnya ke arah gaun Marina. Sontak Marina terkejut, rencana apa lagi ini rasanya tidak sesuai dengan skenario sebelumnya. Marina belum memahami rencana cadangan Selly.


Marina hanya berdiri terpaku mendapati gaunnya tersiram air.


"Ups, maaf aku tidak sengaja mengotori gaunmu. Bagaimana ini?" ucap Selly tak berdaya. Wajahnya berubah polos seolah dipenuhi rasa bersalah.


Lalu Marina mengusap-usap gaunnya yang basah. Dia masih berpikir tindakan apa yang harus dia lakukan selanjutnya karena Selly belum memberinya petunjuk.


Spontan Marina jadi pusat perhatian. Semua mata tertuju padanya.


Tidak ketinggalan dengan Nyonya Desi–ibunda Arshaka juga terkejut, "Sebaiknya kamu membersihkan gaunmu" saran Nyonya Desi yang merasa iba. "Kamu tidak bisa pulang begitu saja dengan penampilan pakaian yang basah dan kotor, biar Ema yang membantumu" lanjutnya lalu ia beralih ke Ema–pelayannya. "Ema...!" panggilnya.


Pelayan itu bergegas menghampiri Nyonya Desi,


"Iya, Nyah..." sahut Ema.


"Bantu, Nona Marina"


Ema mengangguk lalu mendampingi Marina menuju kamar ganti. "Mari Nona, akan saya tunjukkan kamar gantinya"


Marina menggangguk lalu mengikuti arahan pelayan itu. Marina berjalan sambil menghindari sorot dari cctv. Ia tahu jika dia tidak bertindak hati-hati rencananya akan gagal dan orang akan mengetahui bahwa ia sengaja menjebak.


Ini kesempatan emas yang harus Marina lakukan. Awalnya Marina belum mengerti, tapi setelah diberitahu melalui chat dari Selly akhirnya dia paham apa yang harus dia lakukan.


Sebelum memasuki ruangan kamar, Marina mendapat chat dari Selly.


[Ibu sudah cek sebelumnya, kamar Tuan Arshaka sudah ibu tandai dengan spidol di pintu berbentuk bulatan kecil. Tadi Ibu sudah bertanya pada pelayan jadi segera eksekusi rencana ibu]


[Iya, Bu]


Marina sekuat tenaga untuk menguatkan hatinya, malam ini ia akan melakukan hal yang sangat tidak patut bagi dirinya. Hal yang akan mengorbankan masa muda dan kehidupannya, dan tak ada bayangan masa depan untuk menempuh cita-cita juga impian. Semua harus ia hapus demi ambisi sang Ibu dan keluarganya.


Marina menahan airmata serta menekan kesedihannya. Semuanya akan berakhir malam ini juga, Marina pasrah menyerahkan dirinya terjatuh dan terjebak oleh seorang pria yang bahkan Marina belum mengenal juga melihat wajahnya. Hanya bermodalkan nama dari ibunya, Marina berusaha bergerak sendiri.


Marina melirik sebuah pintu kamar yang sudah ditandai oleh Selly. Itu pasti kamar Tuan Arshaka. Setelah ia berganti pakaian, Marina akan menyelinap masuk ke kamar Tuan Arshaka.


Ketegangan memenuhi wajah Marina, meski dirinya gemetar karena akan melakukan perbuatan tercela Marina berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tak ada yang bisa diandalkan selain dirinya. Marina tahu bagaimana mengkondisikan diri saat berada dalam situasi yang mencekam.


Hidupnya kini tengah dipertaruhkan. Matanya yang gelap menyimpan banyak luka di hati membuat tindakannya menjadi sedikit kejam.


Kini momen yang tepat melakukan aksinya, kesempatan telah terbuka di depan matanya. Perlahan Marina berjalan mengendap, ia menaburkan serbuk ke dalam minuman yang akan diberikan pada tuan Arshaka. Sang pelayan tak mengetahui aksi Marina.


Marina sudah melakukan tugasnya dengan perasaan cemas yang menyebar di hati, Marina hanya diam menunggu waktu.


Kemudian terdengar suara pintu kamar Arshaka terbuka. Siluet pria di kegelapan yang hanya menyisakan sorot cahaya lampu kecil yang membayangi. Marina tidak bisa melihatnya dengan jelas, dia bersembunyi di tempat strategis untuk memantau.


Pria yang tegap dan tinggi itu tidak menyadari seseorang juga berada di kamarnya.


Kemudian Marina sesekali mengintip. Dipenuhi pikiran yang telah diracuni oleh Selly, Marina gadis polos berubah menjadi liar dan kejam. Dia sadar seperti bukan karakternya sendiri.


Dari pengamatan Marina, ia melihat akhirnya Arshaka meminum minuman yang sudah dibubuhi obat. Butuh selang beberapa waktu untuk menunggu obat itu bereaksi. Marina menunggu dengan perasaan cemas.


Waktu yang kian berjalan, Marina dihinggapi perasaan bersalah. 'Maafkan aku...maafkan aku...' Marina terus bergumam dan berkeringat dingin.


Obat itu mulai bereaksi, kepala Arshaka mendadak pusing dan berat. Ia seperti mengantuk berat. Tanpa menaruh rasa curiga, Arshaka menuju ranjangnya lalu merebahkan tubuhnya. Dia pun....


Pagi hari...


Marina berteriak histeris hingga membangunkan Arshaka yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Dengan mata yang masih mengantuk, Arshaka mengerjap lalu memaksa untuk membuka kelopak matanya karena telinga mendengar suara teriakan. seorang wanita.


Apa yang terjadi? Arshaka yang masih linglung terheran beberapa orang berada di kamarnya menatap tajam. Lalu ia pun bangun dengan penampilannya yang masih kusut.


"Mama...Papa...?" Arshaka bingung langsung beranjak bangun dari ranjangnya. Ia hanya mengenakan celana pendek saja bersikap santai.


Desi hampir meledak marah melihat putranya tanpa mengenakan pakaian atasnya. "Kamu!!!"


"Apaan sih, Mah?!" Arshaka masih belum mengerti. Setelah ia menengok ke sampingnya, ia terkejut seorang wanita muda berada di sisinya sambil memegang selimut. "Siapa kamu?"


Marina menangis tersedu-sedu.


"Papa tidak sangka kamu telah berbuat tidak senonoh di rumah ini. Setelah sekian lama berada di luar negeri, apakah ini hasilnya?" Tuan Virendra jelas marah besar pada putranya.


"Ada apa ini, pah? Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Terus siapa wanita ini?"


"Seharusnya papa yang tanya, kenapa kalian berada di kamar dan ranjang yang sama? Apa yang telah kamu lakukan padanya, Ar?"


Arshaka pun memerhatikan kondisi dirinya dan wanita di sebelahnya. Jelas, ia tidak ingat apapun. Ia hanya berpikir sedang tertidur nyenyak. Masih diliputi perasaan tidak bersalah, Arshaka berkata, "A-aku tidak melakukan apapun, Pah. Kalian semua salah paham"


Ketegangan mewarnai suasana di kamar Arshaka. Semua orang memandang ke arah Arshaka dengan tatapan menjijikan.


Desi menitikkan air mata, betapa ia tidak bisa menahan emosi yang bergejolak. "Apa kamu terbawa dengan pergaulan bebas? Mama kecewa padamu." Desi memijit keningnya. Hatinya terasa sakit sekali.


"Kamu harus bertanggung jawab,"


"Bertanggung jawab apa, Pah? Aku tidak melakukan apapun. Sungguh..." Arshaka bersikeras membela dirinya sendiri.


Lalu sebuah tamparan melayang ke pipinya. Tuan Virendra sudah kehilangan kesabaran, emosinya meletup. Dia merasa putranya seperti seorang baj*ngan. Sebagai seorang pria yang menjunjung harga diri dan martabat, tidak menyukai pembelaan putranya sendiri. Dia seakan lebih mempercayai apa yang dilihatnya langsung.


Arshaka tercengang, papanya menamparnya untuk pertama kali. Dia yang selalu mendapat pujian karena memang sejak kecil dia adalah anak yang selalu dibanggakan di keluarga Virendra. Kini kondisi saat ini terbalik.


----


----


Bersambung...