MENJEBAK PRIA KAYA

MENJEBAK PRIA KAYA
BAB 1


"Bu... aku tidak bisa melakukannya. Ini gila," Marina bersikukuh menolak ide gila ibunya.


Faktanya Marina dipaksa ibunya untuk melakukan hal licik demi keuntungan yang besar. Hati nurani Marina menolaknya, pernikahan bukanlah sebuah permainan.


Perdebatan ini telah berlangsung sejak Marina pulang kerja. Bukannya disambut kehangatan malah yang ada perseteruan di antara keduanya. Selly berambisi menjadikan Marina sebagai umpan.


"Lantas apa kontribusimu untuk membantu keluarga ini? Apa kamu tidak melihatnya? Kondisi ekonomi keluarga kita sedang di ujung tanduk"


Marina menatap sendu wajah ibunya yang seakan tak peduli dengan perasaannya.


"Apakah kita sekarang berada dalam kondisi di bawah garis kemiskinan? Kita masih bisa makan dan mencari sedikit uang untuk keperluan kita, Bu" Bibir Marina bergetar dan dadanya terasa sesak. Bukan ini yang diinginkannya.


"Tutup mulutmu!" Hati Selly terbutakan, dia tidak mau mendengarkan ucapan Marina–putrinya.


Marina hanya bisa menangis meratapi nasibnya, ia juga manusia biasa yang memiliki mimpi dan cita-cita. Usianya yang masih muda, jalan hidupnya masih panjang. Apa salah Marina mendambakan masa muda seperti kebanyakan remaja lainnya.


"Kamu tidak lihat kedua kakakmu membutuhkan biaya kuliah dan ayahmu itu tidak berguna pergi meninggalkan kita begitu saja dengan hutang yang menumpuk"


Marina tahu ayahnya kini menghilang entah kemana tapi apakah ini alasannya ibunya mendesak dirinya dengan begitu tega untuk melakukan perbuatan tercela? Marina yakin ayahnya bukanlah pecundang yang melarikan diri dari kejaran para lintah darat.


Ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah ini, tapi sayang Marina tampak tak berdaya untuk bicara apalagi disaksikan oleh kedua kakaknya yang hanya diam saja.


Kedua kakak Marina, terlihat Tomi–si sulung dan Rika–nomor dua hanya duduk bersantai menatap pertengkaran antara Selly dan Marina. Mereka menganggap adegan pertengkaran ibunya dengan Marina hanya sekedar tontonan, tak ada niat mereka untuk membela Marina adik bungsunya yang berdebat dengan ibunya sendiri.


"Seharusnya kan Kak Rika bisa kuliah sambil bekerja dan juga Kak Tomi kenapa dia berdiam diri saja tak berusaha untuk membantu, dia hanya menumpang hidup seperti benalu." Marina menunjuk ke arah mereka dengan rasa kekesalan yang meluap.


"Hei, Mar! Kamu pikir mudah mencari pekerjaan ke sana kemari. Aku sudah berusaha tapi belum ada jalan. Kamu kok melemparkan kesalahanmu padaku" ujar Tomi.


Tomi tidak mau disalahkan padahal ia sendiri juga salah karena begitu malas. Beberapa pekerjaan dianggap tidak cocok dengan gelarnya, Tomi terlalu pemilih. Ekspetasinya terlalu tinggi hingga ia tidak pernah mau mencobanya dulu dan ia gengsi merintis karir dari nol.


"Kamu itu, bukannya nurut sama Ibu bukankah itu ide bagus kamu tinggal minta dan menikmati saja tidak perlu capek seperti kita yang harus kuliah dan mencari pekerjaan" Rika menimpali. Padahal ia juga sama malas bekerja. Hanya ingin kuliah dan bersenang-senang menikmati masa muda.


Kedua kakak Marina menyudutkannya hingga membuatnya jengah dan kesal.


"Diam kalian semua! Tidak usah berkomentar jika hanya memperburuk situasi ini" Marina berlinang air mata, hatinya begitu sakit terasa tertusuk jarum yang begitu dalam.


Sebenarnya gaya hidup merekalah yang membuat hidup menjadi seperti di neraka. Mereka hanya menginginkan uang dan harta tanpa mau berusaha sedangkan yang bekerja keras membanting tulang adalah Marina dan ayahnya.


"Lihatlah, Bu! Bahkan dengan kakaknya sendiri dia berani membentak" Rika terus mengompori tanpa merasa bersalah.


"Marina! Kamu ini tidak punya sopan santun. Kakak-kakakmu juga sama sedang berusaha. Mereka juga ingin berkarir tapi kan butuh biaya. Apa kamu tega melihat kita semua tinggal di jalanan?" Selly semakin murka pada Marina.


"Bagaimana bisa ibu bicara begitu? Aku saja baru lulus SMA tahun kemarin dan aku juga sudah bekerja selama setahun ini buat menompang kebutuhan kita semua. Aku bahkan mengalah dengan Rika, aku tidak kuliah sedangkan dia kuliah dan itu biayanya dari hasil keringat aku, bu" Marina semakin merasakan sesak di dadanya. Ini terlihat tidak adil di mata Marina.


"Aku sudah membesarkanmu selama ini, apa balasanmu untuk ibu?" Selly berkata seakan dia nelangsa. Ia tahu kelemahan putrinya itu.


Marina tercekat, dia makin tersudut ketika Selly berkata balas budi. Sebagai seorang anak, tentu saja ia akan berhutang budi pada orangtuanya tapi apakah pantas Selly menagihnya seperti itu?


Marina duduk terkulai dengan lemas, wajahnya jadi tertunduk. Bingung harus menjawab apa. Dengan posisi begini, Marina terlihat seperti objek ejekan dari tatapan kakak-kakaknya.


"Bu, aku keluar dulu. Di rumah lama-lama bikin aku tidak betah. Melihat Marina membuatku muak, ia adik yang tidak berguna" Tomi berbalik melangkah meninggalkan mereka. Ucapan Tomi tidak masuk akal menilai Marina tidak berguna, gadis secerdas Marina dipandang sebelah mata.


Disusul juga dengan Rika, "Aku juga mau ke rumah teman ada tugas kuliah. Aku sangat sibuk sekali"


"Lihatlah mereka semua, Marina! Mereka jadi tidak betah di rumah. Mereka sedang berusaha ingin berkarir demi nama keluarga kita agar dipandang terhormat tapi coba lihat dirimu!"


Ucapan Selly seakan menyudutkan Marina. Di sini Marina terkesan pecundang dan tidak berguna. Kerja kerasnya selama ini tidak dipandang.


Marina masih terdiam, bibirnya tak mampu lagi berkata karena itu percuma saja jika ia bicara pasti tak dianggap. Marina sudah menyerah untuk berdebat dengan ibunya yang menilainya dangkal.


Untuk apa Marina bersusah payah belajar untuk meraih peringkat di sekolahnya sejak SD hingga tamat SMA, jika otaknya yang cerdas tidak disalurkan untuk meraih cita-cita.


Andai saja Selly bisa memahami Marina, tentu Marina juga akan bisa berkarir dengan cemerlang tapi kemampuannya tak dipandang oleh Selly. Itulah yang membuat Marina kecewa. Ia hanya dijadikan sapi perah.


"Ibu tidak mau tahu, besok kamu harus ikuti perintah ibu. Keuangan kita sudah menipis sedangkan gajianmu masih beberapa hari lagi dan juga tidak cukup. Pikirkan baik-baik jika kamu masih mau ibu anggap kamu sebagai anak"


Setelah mengultimatum, sepertinya Marina harus pasrah mengikuti permintaan ibunya yang tidak masuk akal. Rasa baktinya selama ini tidak dipandang berharga sebelum bisa mengikuti keinginan ibunya saat ini. Marina merasakan sakit yang teramat dalam di sanubarinya.


"Baiklah, Bu. Aku akan patuh kali ini" suara Marina merendah. Meski terdengar sangat pelan, telinga Selly mendengarnya dengan jelas. Putrinya setuju dan menurut padanya.


"Bagus, besok kita akan melakukan aksi itu. Kamu tinggal mengikuti skenario yang akan ibu berikan. Kamu cukup mengikuti dengan patuh. Ibu yakin semua akan berjalan dengan lancar"


Marina tertunduk lesu membayangkan dirinya akan menjebak pria kaya untuk mendapatkan keuntungan demi menghidupi keluarganya yang kondisi ekonominya sedang sulit.


Pikiran picik ibunya mengantarkan Marina ke dalam jurang kehinaan. Betapa ini sangat melukai harga diri Marina. Tubuhnya akan ditukar dengan harta yang melimpah jika rencana itu berhasil.


Di sudut kamar, Marina menumpahkan segala perasaannya dengan berlinang air mata hingga perasaannya puas. Dalam benaknya ia seakan sedang dipaksa menikah dengan pria tua.


----


----


Bersambung...