
"Kamu benar-benar ingin mencari mati? kamu tahu kepulanganmu ke sini malah membawa masalah besar bagi keluarga. Lihat apa yang sudah kamu lakukan! Kamu tidur bersama seorang wanita, dia adalah anak dari teman ibumu."
"Aku tidak..." kemudian Arshaka menoleh ke arah Marina dengan geram. "Ini pasti kamu yang telah menjebakku, iya kan?"
Marina tetap menangis pilu dan tak menjawab ucapan Arshaka. Tentu itu menambah kekesalan di dada Arshaka. "Hei, ayo cepat jelaskan pada keluargaku!!!" Arshaka tidak suka dengan Marina yang nampak di matanya sedang berakting.
Dihadapkan dengan kondisi begitu, Marina tertunduk. Ia tahu jelas bahwa apa yang telah dilakukannya pasti mengundang amarah Arshaka. Marina yang duduk sambil menangis sesegukan tentu mengundang simpati keluarga Virendra.
"Hentikan, dia jelas korban. Kenapa kamu malah menuduhnya balik? Mama malu dengan perbuatanmu." Nyonya Desi yang selalu penuh kasih sayang kini memilih membela Marina dan berbalik menyerang Arshaka–putra kesayangannya.
Arshaka mengangkat alisnya setelah mendengar ucapan Mamanya. Ini tidak seperti mamanya yang selalu berada di pihaknya saat sedang tersudutkan.
Ini gila! Lelucon pagi hari yang menyesakkan dada Arshaka. Dia hampir marah tapi tak mampu meluapkannya. Dia berada di situasi yang sulit.
Arshaka tidak berdaya mendapat tekanan dari keluarga karena seolah ia terlihat seperti seorang baj*ngan. Dia pun pasrah dengan perlakuan keluarganya.
Diliputi rasa bersalah yang besar, Marina diam seribu bahasa. Dalam hatinya yang paling dalam jelas ia mengutuk perbuatannya yang tercela karena telah menjebak seorang pria hanya demi materi.
'Maafkan aku, maafkan aku...' Marina meraung dalam hati. Jujur ia takut sekali melakukan ini. Tangannya meremas selimut sambil bergetar, untuk yang ini Marina tidak bisa berbohong. Ia memang ketakutan.
"Mah...Pah... aku yakin kalian telah salah paham. Aku tidak ingat apapun tentang kejadian semalam"
"Cukup! Sebelum berita ini menyebar luas, kamu harus menikahinya secepatnya. Siapa yang tahu kamu sudah menanam benih dan itu akan merusak reputasi keluarga ini jika dia melahirkan keturunan keluarga ini tanpa kamu nikahi."
Arshaka ternganga mendengar ucapan papanya. Dia seolah seperti masih berada di alam mimpi. Setelah sekian tahun menghabiskan waktu di luar negeri sekalinya pulang ke rumah tak ada sambutan hangat malah petaka yang terjadi. Ini sungguh tidak masuk akal.
Bagaimana bisa dia tiba-tiba harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dia kenal? Arshaka benar-benar tak percaya bahwa ini mimpi buruk dalam hidupnya. Bahkan ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan pada keluarganya.
Marina dibantu oleh Ema untuk merapikan penampilannya dan semua orang keluar dari kamar hingga yang tersisa hanya Arshaka dengan wajah kusutnya. Kekesalan memenuhi wajahnya. Dia hampir saja menghancurkan semua barang-barang di kamarnya. Bukan ini yang diinginkannya.
Setelah itu, Tuan Virendra mengadakan rapat keluarga, semua orang berkumpul di ruang tengah membahas masalah besar yang tengah terjadi. Marina pun belum dijinkan pulang.
Arshaka duduk seolah sedang diinterogasi. Dia tidak bisa melawan keluarganya sendiri. Dia yang telah mempertahankan nama baik keluarganya bahkan saat dirinya berada di luar negeri justru dia sendiri yang menghancurkannya bahkan itu di rumahnya. Mustahil! Rasanya dia ingin merutuki nasibnya yang tengah sial.
"Aku harap semua orang yang menyaksikan kejadian tadi bisa merahasiakannya, jika sampai bocor kalian tahu sanksi apa yang akan diterima? Aku tidak akan segan-segan bertindak tegas. Ini semua demi reputasi keluarga besar yang sudah dibangun." Tuan Virendra berdiri dengan elegan dan penuh wibawa. Kata-katanya mengandung intimidasi.
Siapa yang berani membantah jika Tuan Virendra sudah bicara dan mengambil sebuah keputusan. Jika ada yang berani, itu sama saja mencari mati.
Di sisi lain, Arshaka begitu membenci Marina. Keputusan orangtuanya menyangkut masa depannya.
"Aku ada satu permintaan sebelum menikahi wanita itu," Arshaka tak sedikitpun melirik ke arah Marina, dia menatap lurus penuh ketegasan melintas di matanya.
Semua orang dibuat tegang, kala Arshaka berbicara dan bahkan mengusulkan permintaannya pada saat dia sedang disidang. Apakah itu artinya dia akan berontak? Semua mata tertuju kepadanya.
Sementara Marina di hatinya dipenuhi perasaan cemas. Jujur, ia merasa tegang berada di situasi ini.
"Aku tidak mau pernikahanku dipublikasikan, dan aku menikahinya hanya sebagai bentuk tanggungjawab tidak lebih. Aku ini sudah memiliki kekasih dan hanya dengan kekasihkulah pernikahan resmiku diadakan."
Semua orang tercengang oleh pernyataan yang dilontarkan Arshaka. "Maksudmu, kamu ingin menikah sirih dengannya?" celetuk Nyonya Desi.
Arshaka mengangguk, "Kelak jika memang dia hamil dan begitu anakku lahir, biar aku yang mengurusnya."
Marina pucat, dia dimanfaatkan oleh keluarganya begitu juga dengan Arshaka. Apa yang dia dapat? Tidak ada! Ini sama saja dengan penghinaan terhadapnya. Ini diluar prediksi Marina.
Setelah banyak mendengar penuturan Arshaka, Tuan Virendra pun akhirnya bertanya, "Siapa kekasihmu?"
"Dia adalah Vania Bagaskara,"
"Vania Bagaskara???" Tuan Virendra mengulangi, dia mengingat nama belakang Bagaskara. "Dia putri keluarga Bagaskara, pemilik perusahaan food yang terkenal itu. Papa mengenal mereka" seketika wajahnya bersinar.
Bagai sebuah hantaman ke dalam dada Marina, jelas saingannya sangat luarbiasa sedangkan dia bukan apa-apa. Sudah pasti keluarga Virendra akan memilih mereka. Tapi karena mereka menjunjung martabat, mereka masih bersedia bertanggungjawab.
"Ok, papa setuju dengan usulanmu. Jika cucu keluarga Virendra lahir, dia akan dianggap anakmu dengan Vania. Yah, papa setuju kamu menikah dengan Vania karena akan membantu meningkatkan status sosial keluarga ini."
Apa itu artinya Marina hanya dianggap sebagai seorang wanita yang melahirkan anak? Sungguh sesak dada Marina, Tuan Virendra ternyata juga kejam sama seperti putranya.
"Pa, itu sama saja merugikan pihak wanita. Kasian Marina, dia putri teman Mama. Bagaimana Mama menjelaskan padanya?" Nyonya Desi sebagai seorang wanita mengerti perasaan Marina.
"Keluarga kita sudah mau bertanggungjawab pada putrinya, lalu apalagi? Kita juga akan memberinya tunjangan hidup untuknya. Tidak ada yang lebih penting dari uang kan?! Kau sebagai wanita tidak perlu mengedepankan emosional saja, pikirkan pakai akal juga. Keluarga Bagaskara, keluarga terpandang, keluarga kita juga butuh pijakan," ucap Tuan Virendra dengan arogansinya.
Marina tidak menyangka nasibnya akan begini, di satu sisi ia dijadikan sapi perah untuk keluarganya di sisi lain dia dijadikan wanita penghasil anak. Dia terjebak dengan permainan ini.
"Bagaimana Marina? Apakah kamu setuju?" Tuan Virendra bertanya pada Marina secara tiba-tiba, ini membuat Marina seolah tidak diberi pilihan yang bagus.
Marina merasa sesak, dia kehilangan kata-kata. Ini menyakitkan baginya, dia seperti objek ejekan yang tak ada harga dirinya.
Ini sudah terlanjur, haruskah ia mundur? Marina bergulat dengan pikirannya sendiri. Dalam diamnya, Marina belum bisa memutuskan.
Di sudut sana, Arshaka merasa menang. Dia pria yang cerdik, dia tahu bagaimana membuat situasi jadi berbalik.
-----
-----
Bersambung...