
Angkasa mengedarkan pandangannya, rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat istrinya bernaung benar-benar sudah tak layak huni menurutnya. Atap rumah terbuat dari bilik bambu yang sudah rusak, genteng berlumut, bahkan dindingnya pun telah usang, catnya pergi entah kemana. Namun meski begitu, tempat itu bersih dan terawat.
"Jadi yang di depan tadi bukan rumah kamu?" Tanya Angkasa, ia kemudian duduk di sofa butut di ruang tamu. Menatap Esta yang tengah menyuguhkan secangkir kopi padanya.
Jadi ternyata, rumah Esta terletak di be...