
Melody menghampiri Yudha yang tengah duduk di balkon kamar mereka. Melody membawa dua gelas ukuran jumbo berisi jus tomat dan jus jambu biji kesukaannya.
"Ini orang tadi bilangnya setuju untuk pergi tidur, dicari di kamar tidak ada, ternyata malah nongkrong di balkon. Mana minta dibuatkan jus tomat lagi. Rasain, aku buatkan spesial tanpa es batu. Orang sok kuat seperti dia itu bisa tumbang kapan saja jika pola hidupnya seperti ini terus." Batin Melody.
Melody meletakkan jus jambu dan jus tomat di meja yang ada di depa Yudha. Yudha hanya menatap Melody dengan senyuman tipisnya.
Yudha lalu mengambil jus tomat kesukaannya. Ia memincingkan matanya. Ada yang aneh dengan jus tomat buatan Melody itu.
"Esnya mana?" Tanya Yudha.
"Tidak aku kasih." Jawab Melody.
"Kenapa tidak di kasih sih, Mel? Aku ingin minum yang dingin!" Rengek Yudha.
"Tuan Muda, kau itu sedang kurang sehat, badanmu panas, kau tidak boleh terlalu banyak minum es!"
"Tapi aku hanya ingin, Mel.."
"Kau tadi sudah meminumnya, Yudh!"
"Aku sudah tak sakit lagi! Badanku sudah tak panas seperti tadi!"
"Bohong!"
"Buktikan sendiri kalau kau tak percaya!" Kata Yudha.
Yudha meraih tangan Melody, dan entah bagaimana ia bisa membuat Melody duduk di pangkuannya. Ia lalu menuntun tangan Melody ke jidatnya.
"Sudah tidak panas, kan?" Tanya Yudha.
Melody memejamkan mata, mencoba meresapi rasa di telapak tangannya. Apa memang suhu tubuh Yudha sudah turun?
Tidak terasa. Tidak meyakinkan.
Melody menyingkirkan tangannya dan tangan Yudha dari jidat Yudha. Ia malah menggunakan jidatnya sendiri untuk memeriksa suhu tubuh Yudha. Ia menempelkan jidatnya ke jidat Yudha.
Ada efek slow motion terjadi dalam sela waktu yang tiba-tiba menimbulkan sensasi tersendiri. Ini cukup sederhana, hanya saja terasa unik. Rasa yang tak biasa, rasa yang jarang ditemui.
"Muka Melody sangat dekat di hadapanku. Ini jarak terdekat dari yang pernah kita lakukan. Ah, aku tahu jika Melody itu rupanyan manis juga. Nafasnya hangat menerpa permukaan kulit wajahku. Sial, aku tak bisa membohongi mataku, Melody tak hanya manis, tapi juga sangat cantik." Batin Yudha.
Tak beda dengan apa yang dirasakan Yudha terhadapnya, setiap kali melihat wajah Yudha, Melody mengamini perkataan Mia jika Yudha itu memang sangat tampan. Tampan tingkat dewa.
Apa Kazehaya memang selalu seperti itu?
Hasil les dari Ayane tentang silsilah keluarga Kazehaya, membuatnya sadar jika keturunan Kazehaya itu memiliki paras yang tampan. Versi muda kakek Wijaya saja sangat tampan, bayangkan, kakek buyut Indra Kazehaya juga tak kalah tampan dengan Yudha. Belum lagi Orio Kazehaya, Sisui Kazehaya, atau ayahnya Yudha, Yoga Kazehaya, ya mereka sangat tampan dan berkharisma.
Hanya saja, Melody juga sadar, kesamaan lain di antara mereka semua adalah tatapan tajam dan dingin.
Jika disuruh memilih, rasanya hanya Orion Kazehaya yang memiliki mata hangat. Ya, Melody juga tak ingin bertanya lebih lanjut soal itu. Toh, ia hanya seorang menantu saja di keluarga Kazehaya ini. Dia tak punya banyak kekuasaan untuk ikut campur jauh lebih dalam.
Melody menyadari tempatnya.
Loh, kenapa malah melantur kemana-mana?
Lihatlah apa yang sedang terjadi saat ini!
Pose apa yang sedang ia dan Yudha suguhkan?
Ia duduk di pangkuan Yudha sambil saling menempelkan jidat. Bukankah ini pose yang cukup sexy? Cukup berani? Bukankah ini pose yang pas untuk berciuman?
"Kau ingin berciuman lagi ya?" Tanya Yudha.
Melody refleks menjauhkan jidatnya dari Yudha. Ia lalu bangkit dari pangkuan Yudha
"Cih, apaan sih? Jangan terlalu percaya diri! Aku hanya memeriksa keadaanmu!" Kata Melody.
Yudha terkekeh. "Padahal tadi pas loh."
"Sudah jangan bercanda yang tidak-tidak!" Melody lalu duduk di seberang Yudha. Saling terpisah meja kecil di antara mereka.
.
.
.
Melody meminum jus jambu biji kesuakaannya. Rasa dingin itu menghujaminya dari berbagai arah. Bahkan udara malampun juga ikutan mendingin.
"Kau terlihat senang hanya dengan memandangi langit malam?" Tanya Yudha di sela obrolan ringan mereka.
"Hm, ya, begitulah, sebenarnya bukan karena langit malamnya, tapi karena bintang." Jawab Melody tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam itu.
"Bintang?"
"Ya, bintang."
"Anak kecil sekali."
"Memang seperti anak kecil sih, tapi bagaimana ya, aku memiliki kenangan indah bersama ayah karena bintang."
"..."
"Ayahku menyukai ilmu perbintangan, dia juga sering menyanyikan lagu 'Bintang Kecil' jika aku sedang sedih. Rasanya, meski ayah sudah pergi jauh di sana, aku tetap bisa merasakan kehadiran ayah jika aku melihat bintang-bintang di langit." Melody terlihat senang memandangi kerlap-kerlip bintang yang menghiasi malam cerah itu.
Yudha mencoba mengerti, hidup tanpa ayah memang berat dan sulit. Setidaknya dia sedikit mengerti posisi Melody yang ditinggalkan ayahnya, sama seperti dirinya. Ia merasa iri juga dengan Melody karena meski ayah Melody sudah meninggal, tapi ayah Melody memberikan kenangan indah pada Melody, jauh berbeda dengan ayahnya yang meninggalkannya sejak kecil, ia bahkan hampir melupakan kenangan indah dengan ayahnya.
"Bintang kecil, di langit yang biru, amat banyak menghias angkasa, aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi, ke tempat kau berada." Melody bernyanyi.
"Haha, suaramu jelek sekali, Melody."
"Biar saja!"
Jujur, suara Melody memang tak ada pantas-pantasnya untuk bernayanyi. Melodi ancur, out of tempo, dengan suara pas-pasan.
"Kau bahkan tak bisa disebut sebagai amatiran."
Melody menoleh ke arah Yudha. "Haha, aku terima itu, Yudha. Dari dulu aku hanya menjadi pendengar saat ayahku bernyanyi, tapi sekarang? Siapa yang akan bernyanyi untukku jika bukan aku sendiri?"
"Haha, benar juga. Nah, Melody.."
"Hm?"
"Kau pasti sudah mendengar permintaan ibuku, kan?"
Yang cucu itu?
Melody terlihat cukup canggung untuk memulai pembicaraan seperti ini dengan Yudha. Ia tahu cepat atau lambat Yudha pasti akan mengajaknya berbicara mengenai permintaan Ibu Mikan.
Sudahlah, ia juga sudah memantapkan diri sesaat setelah ibu Mikan memintanya memikirkan permintaan ibu Mikan.
"Iya, aku sangat kaget dengan hal itu. Aku tak pernah membayangkan jika aku akan mendapatkan permintaan seperti itu. Apalagi dari ibumu yang kini menjadi mertuaku. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Aku dan kau menikah bukan karena keinginan hati kita, semua karena keinginan kakek dan keadaan yang memaksa seperti ini. Maka dari itu, aku benar-benar bingung harus bagaimana.. Yudha, kau adalah suamiku dan aku adalah istrimu, tapi untuk itu.. aku.. aku.. Aaahhh, Yudha, aku benar-benar tidak tahu." Kata Melody, ia bahkan menundukan kepalanya.
Yudha meminum jus tomatnya. "Aku mengerti, aku akan mengatakan pada ibu jika kau masih terlalu muda untuk—mengandung, jadi itu bisa dijadikan alasan untuk menghindari permintaan ibu sementara waktu."
"A-arigato, Yudha. Tapi usiaku sudah 20 tahun lebih, apa itu tidak apa-apa?"
"Aku juga tidak tahu."
"Jadi bagaimana, Yudha?"
"…"
Mereka malah terdiam, mencari solusi yang tepat untuk menghindari permintaan ibu Mikan.
"Yu-Yudha?"
"Kita sudah sama-sama dewasa, jadi.."
"..." Melody penasaran.
"..."
"Jadi apa, Yudha?"
".."
"Yudha?" Melody terlihat bosan menunggu jawaban dari Yudha. Ia lantas mengambil jus jambu bijinya dan meminumnya.
"Kau mau melakukannya?" Kata Yudha.
BRRUAAKKHHH