
Jam setengah dua belas malam, Tsuchiya kembali ke lantai dua untuk melihat keadaan Melody. Namun sayang, ia kembali harus tertunduk sedih karena makanan buatannya sama sekali tidak Melody sentuh.
"Apa kau tidak lapar, Mel? Kau itu tipe yang tidak bisa menahan rasa lapar. Bagaimana kau bisa melewatkan makan malammu? Jika kau sampai sakit, bagaimana ibu harus bertanggung jawab pada ayahmu?"
Tsuchiya kembali mengetuk pintu kamar Melody. Ia meminta Melody untuk makan seperti sebelumnya. Tapi masih sama, Melody terdiam enggan bersuara.
"Kau istirahatlah, Mel! Panggil ibu jika kau butuh apa-apa! Jika kau lapar, ibu pasti akan membuatkan makanan untukmu! Apa saja yang kau pinta, ibu akan menurutinya."
Tsuchiyapun kembali ke kamarnya yang ada di lantai satu.
.
.
.
Hari berganti dengan cepatnya. Hari ini cukup cerah. Sinar mentari yang tajam masuk meyusup lewat celah-celah kecil ventilasi kamar Melody. Membangunkan Melody yang tengah tertidur pulas.
Matanya malas sekali untuk terbuka. Rasa kantuk masih menderanya. Dengan gontai Melody bangun dari tempat tidurnya. Ia melihat ke sekeliling kamarnya.
Sangat berantakan!
Biasanya dia memang suka tidak bisa terlalu rapi menata kamar. Tapi kali ini benar-benar sangat mengerikan keadaan kamarnya. Mirip kapal pecah.
Baju kotor berserakan sana-sini. Sampah plastik dari makanan ringan yang ia makan juga turut andil menghiasi kamarnya.
"Kamarku jorok sekali." Gumam Melody.
Melody berjalan menuju kaca almari bajunya. Ia mengamati keadaan dirinya.
Rambut berantakan seperti singa. Ia baru ingat jika dua hari ini ia tidak menyisir rambutnya. Baju tidur yang terlihat sangat lusuh karena ia memakainya dua kali. Parahnya lagi, di sudut bibirnya ada noda bergaris. Itu pasti salivanya! Secara tidak baku bisa disebut 'ngiler'.
Meski keadaannya benar-benar menyeramkan, tapi Melody masa bodoh dengan hal itu. Ia terlihat menguap beberapa kali sambil meregangkan otot-ototnya.
Saat ia sedang melakukan olah raga ringan di dalam kamarnya, ibunya mengagetkannya.
"Melody, ibu minta maaf. Ibu tahu, ibu benar-benar egois padamu. Ibu tidak akan memaksamu. Jangan khawatir, Ibu akan meminta keringan lagi pada para renternir itu! Ibu yakin, mereka pasti akan memberinya. Jadi, jangan mengurung dirimu di kamar lagi! Ibu merasa sedih." Kata Ibu Melody di depan pintu kamar Melody.
Tok..tok..tok..
Ibu Melody meninggalkan kamar Melody dan berjalan untuk membuka pintu. Ia terheran kenapa pagi-pagi seperti ini ada tamu berkunjung? Tidakkah ini terlalu pagi untuk berkunjung?
"Ini sudah hari ke tiga, hei ibu tua lunasi hutang-hutangmu!" Kata Renternir.
"Ma..maafkan saya, bisakah saya mendapatkan waktu tambahan lagi? Seminggu saja." Pinta Ibu Melody.
"Waktu tambahan? Hahaha.. Tidak bisa! Tidak ada waktu tambahan lagi untukmu, Ibu tua. Kau fikir kami ini penyedia amal untuk orang miskin? Jika tidak bisa melunasi hutang, tidak usah berhutang! Hei, kalian semua sita semua barang-barang yang ada di rumah ini!"
"Baik Bos!"
"Tap..tapi.." Ibu Melody berusaha mencegah anak buah renternir mengambil barang-barang berharganya.
Tiba-tiba datanglah Aron dan dua anak buahnya. Membuat Ibu Melody semakin bingung karena pagi itu, ia mendapat begitu banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya.
"Ada apa ini, Nyonya? Apa yang terjadi?" Tanya Aron.
Renternir mencoba mengangkat mesin cuci dari arah dapur.
"Bukankah sudah ada uang untuk melunasinya?"
"Maafkan saya, Tuan. Anak saya belum memberikan keputusan. Saya tidak berani menggunakannya. JANGAN! JANGAN DIAMBIL! Itu DVD kesayangan anakku! Yang itu juga jangan diambil! Itu televisi kenang-kenangan suamiku. Jangan dibawa!" Teriak Ibu Melody.
Dari dalam kamar tidur, Melody mendengar keributan di rumahnya. Melody sudah menduga jika keributan itu adalah keributan yang ibunya dan para renternir buat.
Sangat berisik.
Melody mendengar ibunya berteriak mencoba meminta renternir tidak mengambil barang-barang berharganya. Kupingnya terasa panas. Kepalanya terasa seperti akan pecah.
Dengan cepat Melody keluar dari kamarnya dan membawa sujumlah ikat uang dari koper pemberian kakek Wijaya.
"Kalian semua, HENTIKAN!" Teriak Melody saat melihat Ibunya berebut DVD dengan salah seorang anak buah renternir.
Mendengar teriakan Melody yang benar-benar keras, membuat orang yang ada di rumah itu seketika terdiam dan menoleh ke arah Melody. Melody melangkahkan kakinya menuju bos renternir.
"KAU! Lintah darat penghisap uang orang miskin, lebih baik kau angkat kaki dari rumah ini!" Kata Melody kesal. Melody melemparkan uang yang ia pegang pada bos renternir itu. "Itu lebih dari cukup untuk melunasi semua hutang-hutang kami beserta bunganya!"
Bos renternir menyimpulkan senyumnya. "Jika semua pelangganku seperti ini, akan lebih mudah. Kenapa tidak sedari tadi kau memberikan uangnya? Maaf rumahmu jadi berantakkan."
"Pergi kalian dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi!"
"Kalian, ayo kita pergi! Kita sudah mendapatkan hak kita." Kata Bos Renternir. Semua renternir pergi meninggalkan rumah Melody.
"Dan kau, Tuan, katakan pada kakek Wijaya jika aku menerima lamaran darinya dan bersedia menikah dengan cucunya!" Kata Melody.
Aron dan kedua anak buahnya tersenyum lega. Setidaknya mereka tidak akan dipecat karena telah berhasil menjalankan tugas dari tuan besar mereka, Wijaya.
Ibu Melody bahkan terperanga, ia tidak menduga anaknya akan menerima lamaran itu.
"Apa kau yakin, Melody? Bagaimana dengan impianmu?" Tanya Ibu Melody.
"Aku masih bisa menggapainya meski aku sudah menikah." Jawab Melody datar.
Meski Melody menerima lamaran itu, tapi jauh dari lubuk hatinya ia tidak ingin menerimanya. Ia hanya ingin berbakti pada orang tuanya, berbakti pada ibunya. Meski berat, ia akan bertanggung jawab atas semua yang sudah ia putuskan.
"Baiklah, mari Nona, Nona harus segera bertemu dengan Tuan Besar!" Kata Aron.
"Sekarang?" Aron mengangguk. "Tapi saya belum mandi, belum berdandan."
"Maafkan saya, Nona. Tuan Besar tidak suka menunggu lama."
"Astaga, kakek benar-benar seenaknya saja." Gerutu Melody. "Baiklah, ayo pergi!"
Aron membukakan pintu mobil untuk Melody. Melody masuk ke dalam mobil itu dan pergi menuju rumah kakek Wijaya.
Dari depan pintu rumah, Ibu Melody hanya memandangi kepergian Melody seraya berharap jika semua akan baik-baik saja.
Ibu Melody tidak bisa melakukan apa-apa atas semua keputusan Melody. Ia sadar, Melody pasti terpaksa menerima lamaran itu demi dirinya. Ia sangat mengenal anak satu-satunya itu. Melody tidak bisa bergeois diri. Melody akan luluh dengan sangat mudahnya jika itu berhubungan dengan dirinya.
"Kurasa Melody benar, aku memang menjual dirinya pada orang kaya. Astaga… ibu macam apa aku ini? Maafkan Ibu, Melody."