
Maaf guys, aku punya masalah kesehatan cukup merepotkan karena bikin badan cepet lelah ampe sulit ngapa-ngapain. Jadi semua novelku terlambat update 😅.
________________________________________
Time Skip...
Yudha meminta maaf pada kedua ibunya, Mikan dan Tsuchiya karena terlambat memberitahu bagaimana keadaan Melody. Yudha hanya tak ingin memperkeruh suasana saja. Beruntung kedua ibunya itu bisa mengerti.
Semua hal memang tak selalu seperti apa yang direncanakan. Maunya seperti ini, tapi dalam perjalanannya nyatanya berbeda, tak sesuai ekspektasi. Tak jarang malah lebih buruk dari apa yang diangankan.
Menerima begitu saja?
Jangan bodoh, seorang Yudha akan selalu berusaha.
"Aku selama ini selalu menahan diri untuk bermain bersih. Kakek benar, aku tak boleh hanya bertahan, aku harus menyerang balik! Mereka sudah keterlaluan berani melibatkan Melody. Aku akan membuat perhitungan bagaimana hukum alam bertindak. Ya, aku akan memakai hukum rimba. Cara kasar dibalas cara kasar. Maaf ibu, aku tak bisa menahannya." Gumam Yudha.
Setelah memastikan Melody aman di rumah sakit Kazehaya Internasional, Yudha mengendarai mobilnya dan menuju perusahaan yang dirintisnya sejak kuliah semester dua. Next Inovasion atau di singkat, Next In. Sebuah perusahaan yang berkembang di bidang teknologi dan software.
Next In Company berada di kota Tokyo dekat dengan perbatasan Saitama. Berdiri dengan 30 lantai dan memperkerjakan lebih dari 1000 pekerja. Mulai dari ahli IT, ahli game, ahli robotic, programmer, dan ahli applikasi perangkat lunak lainnya.
Saat ini, Next In Co milik Yudha berada di masa jayanya karena beberapa produk game yang laris di pasar android dan Ios dengan ratusan juta pengguna online. Game MOBA dan MMORPG menduduki peringkat atas sumber penghasilan perusahaannya.
"Selamat pagi, Bos.." Sapa para karyawan Yudha.
"Selamat pagi, semua. Tolong suruh tim hacker ke ruanganku sekarang!" Pinta Yudha.
"Baik, Bos!"
Di kantor pribadinya, Next In, jauh lebih santai dan friendly dibandingkan di Emperor Group. Yudha memang menyukai suasana yang seperti ini. Tidak ada Tuan Muda yang terhormat, tidak ada pengaruh keluarga Kazehaya. Yudha bahkan tak mempermasalahkan jika karyawannya memanggil dirinya dengan Yudha-san, termasuk sebutan 'Bos' sekalipun.
.
.
.
Kurang dari sepuluh menit, hacker-hacker andalan Next In sudah ada di dalam ruangan Yudha. Mereka berjumlah sekitar 6 orang. Hacker handal ini Yudha kumpulkan dari belahan dunia, tak hanya dari Jepang.
"Aku ingin kalian mencari informasi apapun mengenai orang-orang yang ada di dalam daftar ini! Aku tunggu kabar baiknya dalam tujuh jam ke depan. Harusnya itu mudah, kan?" Kata Yudha sambil memberikan file yang berisi nama-nama orang yang ingin ia selidiki.
Dan enam orang hacker itu saling mengangguk. Tujuh jam adalah waktu yang lama bagi seorang hacker handal. Mereka bisa melakukannya jauh lebih cepat dari itu. Membobol akun bank saja dalam hitungan menit, kalau mau. Sayang mereka tidak ingin melakukannya. Entah apa, yang jelas mereka sangat loyal pada Yudha.
.
.
.
Emperor Group...
Ruang kerja Alvin..
"Sahamku sudah hampir 15%, aku sudah melampaui Yudha. Aku harus memperbanyak sahamku agar mengalahkan milik kakek, setelah itu, aku akan bebas melakukan apapun di perusahaan ini. Semua akan mudah jika memiliki kekuasaan. Itu benar, aku merasakan dimana orang-orang tunduk padaku layaknya penjilat. Sungguh menjijikkan memang... Sebenarnya, sudah berapa kali aku mengatai hal-hal yang kucapai sekarang ini sebagai hal yang menjijikkan? Hah, banyak sekali." Gumam Alvin.
Alvin meletakkan map yang berisi surat serah terima saham. Ya, ia memaksa membeli saham dengan cara liciknya.
"Tuan Park dan Tuan Kang mulai besar kepala. Aku tak suka cara mereka memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tahu kalian berkontribusi banyak dalam pencapaianku saat ini. Namun sayang sekali, aku harus menyingkir kalian."
Alvin menyingkirkan pion dengan kuda di papan catur. Catur bekas milik kakek Wijaya.
Tok, tok, tok... Daisuke masuk ruangan dan mempersilahkan tamu yang sudah ditunggu-tunggu oleh Alvin.
"Kabuto-san, desu ne?" Tanya Alvin.
Kabuto-san, desu ne: Tuan Kabuto, kan?
"Aku tahu. Kau adalah wartawan suruhan Tuan Park dan Tuan Kang untuk menjatuhkan nama baik Yudha. Kazehaya Yudha. Adik tiriku." Kata Alvin.
Kabuto melebarkan matanya. "Ba-bagaimana Anda tahu?"
"Aku mengerahui banyak hal. Akulah yang mengendalikan semuanya. Akulah sang joker dalam permainan ini. Dan bodohnya, Yudha bahkan sudah tahu siapa dirimu." Kata Alvin.
Kabuto tak menyangka jika Yudha sudah tahu. Namun, kenapa Yudha tidak menangkapnya?
"Yudha itu terlalu baik hati. Sepertinya dia memaklumimu karena kau anak dari Takaoka, pemilik kedai ramen sekaligus penginapan di Miyagi. Bukankah kau melakukan semua ini demi Ayahmu dan juga panti asuhan yang dikelola keluargamu?" Tebak Alvin yang sudah pasti benar adanya.
"..." Kabuto tak bisa menolak argumen itu. Ia juga tak bisa melawannya.
"Ancaman dua tua bangka itu rupanya tak bisa dilawan orang kecil seperti dirimu rupanya. Nah Kabuto-san, apa kau mau berkerja untukku?" Tanya Alvin.
Kabuto terlihat berpikir keras. Ancaman Tuan Park dan Tuan Kang itu tidak main-main. Dua orang itu yang mengendalikan mega proyek di Miyagi. Dua orang itu mampu menyingkirkan orang kecil seperti dirinya dengan sangat mudah.
"Kau masih ragu? Aku akan menjamin keselamatkan dirimu, ayahmu, bisnis ayahmu, dan panti asuhan yang dikelola keluargamu!" Kata Alvin.
"A-apa Anda sungguh bisa melakukannya?" Tanya Kabuto.
"Ya tentu saja, aku adalah CEO Emperor Group saat ini. Akh bisa melakukannya." Kata Alvin.
Mungkin saja Alvin adalah jalan keluar dari segala masalah yang ia alami. Itu yang Kabuto pikirkan.
"Ba-baiklah, saya akan bekerja untuk Anda." Kata Kabuto mantap.
Alvin tersenyum. "Bagus. Kau memilih keputusan yang benar."
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan Alvin?"
Alvin menoleh ke arah Daisuke, sekretaris pribadinya. "Daisuke, tunjukkan padanya dokumen yang aku minta tadi!"
"Baik, Alvin-sama..." Daisuke mengambil dokumen yang dimaksud oleh Alvin lalu memberikannya kepada Kabuto.
Kabuto menerima dokumen itu dan membukanya. Ia membacanya sekilas. Sebagai wartawan ia cukup pintar dan kritis akan hal-hal yang berbau skandal.
"Tu-Tuan Alvin, i-ini..?" Kata Kabuto terbata.
"Ya, itu adalah Bribe Paper mega proyek Miyagi." Kata Alvin.
Bribe Paper adalah dokumen yang berisi tentang penyuapan. Di sini yang dimaksud adalah kasus penyuapan di dalam mega Proyek Miyagi.
"Tapi Tuan, jika ini bocor ke publik, maka imej Emperor Group bisa tercoreng." Kata Kabuto.
"Tak masalah. Pada dasarnya, aku ingin menyingkirkan orang-orang yang bertindak seperti duri dalam daging."
"Bahkan para pejabat pemerintah juga akan terkena imbasnya."
Dalam rapat adu proposal beberapa bulan yang lalu yang akhirnya dimenangkan oleh tim Tuan Park dan Tuan Kang. Dua orang ini menyuap beberapa anggota perwakilan dari pemerintah untuk memenangkan proposal mereka. Karena Emperor Group awalnya ditunjuk langsung oleh pemerintah, maka dua orang ini juga menyuap juri-juri dari petinggi Emperor Group. Setelah menyuap dua kubu juri, juri pemerintah dan juri petinggi Emperor Group, mega proyek Miyagipun jatuh ke tangan Tuan Park dan Tuan Kang.
"Jadi Kabuto-san, apa kau takut mengungkap kasus besar ini?" Tanya Alvin.
"..." Kabuto kembali berpikir. "Ini akan menjadi berita trending se-Jepang. Mega proyek ini mengglontorkan dana lebih dari 50 Triliun."
"Kau benar, negara dan Emperor Group dirugikan oleh orang-orang seperti mereka. Tidakkah kau sayang dengan negeri ini? Jiwa jurnalismu pasti memberontak." Kata Alvin.
"Apakah Anda sungguh akan menjamin keselamatan saya dan keluarga saya?" Tanya Kabuto sekali lagi untuk memastikan.
"Ya, tentu saja. Saat kau menyetujui untuk mempublikasikannya atas sumber nama anonim, maka saat itu pula, aku akan menyuruh orang-orangku mengevakuasi keluargamu dan panti asuhan itu. Menjaminnya ke tempat yang aman. Aku akan menyewa bodyguard untuk melindungi mereka sampai semuanya aman terkendali." Alvin serius akan hal ini.
"Deal!" Kabuto menyetujuinya.