MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Wisuda 1


Time skip.. Wisuda Yudha, Alvin, dan Yura..


Semua mahasiswa yang baru saja mendapatkan mendapatkan gelar sarjananya langsung berhambur keluar penuh kegirangan.


Perjuangan belajar tidak sia-sia. Belajar 3-4-5 tahun bahkan 6-7 tahunpun terbayarkan. Lulus sarjana adalah impian utama dari penuntut akademisi jenjan sekolah lanjut tingkat tinggi.


Apa sebahagia itu rasanya? Bukankah lulus dan menjadi sarjana cukup dengan selembar kertas dan plakat? Ya bisa jadi. memang seperti itulah bukti real dari kelulusan kuliah.


Selembar kertas yang disebut dengan nama I-J-A-Z-A-H.


IJAZAH.


Namun meski hanya dalam bentuk selembar kertas, tapi perjuangan untuk mendapatkannya itu luar biasa. Butuh tahunan, butuh bolak-balik revisi skripsi, butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan juga materi.


Wajar saja jika wisuda adalah suatu kebanggaan tersendiri.


.


.


.


Di sebelah sana, keluarga bergembira dengan keberhasilan anaknya. Di sebelah situ, teman dan sanak saudara saling pelukkan, membagi bunga, dan hadiah. Di ujung jauh sana, entahlah, sagat ramai. Sepertinya dari klub mapala yang selalu heboh. Di halaman depan, dekat pintu keluar, ada yang lamaran? Lulus kuliah, menuju menikah? Terserahlah, urusan orang juga. Pojok kiri gedug, hooo, ada pasangan wisudawan dan wisudawati yang ciuman. Minta dikeplak pancen.


Yang jelas banyak orang, banyak penjual bunga, banyak tukang foto, banyak mobil, banyak apa apa. Seperti rayap yang baru keluar dari sarangnya.


Minta dikeplak pancen: minta dipukul


“Yudha-kun, selamat ya.” Kata Yura, ia memamerkan senyuman terbaiknya.


“Ah Yura, selamat juga atas kelulusanmu.”


“Mau berfoto bersama?” Yura memperlihatkan action cameranya.


Yudha mengangguk. Yura senang karenanya, ia lalu meminta teman sekelas mereka untuk memotret mereka. Yura merangkul lengan Yudha. Yudha tidak terlihat mempermasalahkan hal itu.


Cekrek.. cekrek..


Beberapa foto terekam di memori kamera milik Yura. Ini adalah kenangan yang manis. Pasalnya, Yudha adalah sosok yang tidak terlalu suka difoto. Sangat lain degannya yang hampir setiap hari selalu di depan kamera.


Setelah selesai berfoto, Yudha lebih banyak diam.


"Lihat Yudh, kau memejamkan mata di foto ini! Ayo ulangi biar lebih bagus!" Kata Yura.


"..." Yudha terlihat tak fokus pada Yura. Pendengaran dan penglihatannya teralihkan.


Yura tahu, meski Yudha ada di depannya, sedang bersamanya, tapi matanya Yudha tidak di sini. Yudha mencari seseorang.


"Selalu saja seperti itu!" Kesal Yura.


Terabaikan, kah? Lagi? Yura merasa jika hatiya saat ini begitu sakit. Tak bisakah untuk sesaat ini saja, Yudha memperhatikannya seperti dulu? Seperti saat itu dimana mereka bisa mengekpresikan perasaan hangat mereka? Apa masa seperti itu sudah tak mugkin untuknya dan Yudha? Bukankah itu sangat kejam? Setelah bersama sejak kecil selama bertahun-tahu, lalu tiba-tina menjadi dingin seperti ini?


“Apa yang kau cari, Yudha? Aku ada di depanmu. Tak sadarkah jika sikapmu itu menyakitiku?”


Yura melihat Melody mendekat dari arah belakang Yudha. Yura reflek langsung memeluk Yudha. Memeluk sangat erat. Erat sekali..l


“Yura?”


Kaget Yudha.


“Sebentar saja. Sebentar lagi aku ulang tahun, kau pasti akan melupakannya tahun ini. Untuk pertama kalinya, biarkan aku meminta hadiah darimu.” Bisik Yura sangat pelan.


Yudha membiarkannya. Benar, sebentar lagi Yura ulang tahun. Hari itu adalah hari yang sangat berharga bagi Yura. Ia sungguh tahu betul tentang hari ulang tahun itu. Perasaannya bergejolak jika ingat hari itu.


Yura melihat Melody berjalan menjauh. Gaun selututnnya Melody yang berwarna putih masih nampak jelas di balik kerumunan orang. Yura bisa melihat Melody bertemu Alvin dan mereka berjalan bersama menuju sisi samping gedung wisuda. Yura meyunggingkan senyuman. Ada sensasi bangga di dalam hatinya. Apakah ini rasa ‘kemenangan’? kenapa rasanya begitu membuat ketagihan? Haruskah ia menambah kembali merasakannya suatu saat ini?


“Yudha-kun?” Yura melepaskan pelukannya pada Yudha.


“Hn?”


“Ayo ke sisi gedung!”


“Aku di sini saja.”


“Aku melihat Melody-san berjalan ke sana, kurasa dia mencarimu!”


Yudha melebarkan matanya. Sudah Yura duga jika Yudha mencari Melody. Ia langsung berubah ekspresi saat ia menyebut nama Melody. Yudha yang sekarang sangat mudah ditebak. Oh, rasanya mengesalkan.


"Melody lagi. Lagi-lagi dia."


Merekapun berjalan bersama menuju sisi gedung.


"Loh, itu anak kemana? Bukankah harusnya ada di sisi gedung bersama Alvin? Aku ingin Yudha melihat kebersamaan mereka!"


Yudha terlihat kecewa karena Melody tidak ada.


Namun Yura masih sangat yakin akan penglihatannya. Iapun mengajak Yudha untuk berjalan jauh ke belakang gedung. Artinya lebih dekat ke parkiran.


.


.


.


Melody and Alvin side..


“Gomen ya Melody, aku mengajakmu berjalan menjauh dari gedung wisuda.” Kata Alvin.


Melody menggeleng. Ia memang ingin mejauh dari gedung wisuda. Rasanya tidak tepat saja jika saat ini ia berkeliaran di dekat gedung wisuda.


“Tidak apa-apa, Senpai. Lagian rasanya di sana sangat berisik. Ngomong-ngomong, selamat Senpai, akhirnya, pak dokter..” Melody tersenyum hangat.


“Aku masih harus mengambil study lanjutan. Kau sudah bertemu dengan Yudha?”


Ia jadi ingat kejadian tadi saat Yudha dan Yura berpelukkan. “Belum, sangat susah mencari satu orang di antara kerumunan itu.”


“Jika dia memiliki rambut panjang sepertimu, maka akan sangat mudah mecarinya.”


“Berhenti bercanda, Alvin-senpai! Jika dia mendegarnya, habislah.”


“Hahaha, tidak akan.”


“Oh iya..” Melody mengambil sesuatu dari tas jinjingya. “Ini bunga untuk Senpai.”


"?" Alvin menerima satu buket bunga palsu dari Melody. Maklum saja, saat ini sedang musim gugur, sulit sekali menemukan bunga hidup.


“Dan ini, hadiah untuk senpai..”


Alvin menerima boneka panda dengan baju toga lengkap dengan asesoris wisuda.


“Boneka panda?”


Gumam Alvin.


“Saat aku sedang mencari hadiah kemarin dengan Mia, aku melihat boneka panda itu di etalase. Aku merasa jika itu sangat mirip dengan Senpai. Rasanya boneka itu menghipnotisku untuk mengambilnya. ya sudah, hehehe..”


Jelas Melody disertai cengiran manisnya.


“Jadi kau menyamakan aku dengan panda, heh?”


Melody nyengir. “Maaaff.”


Ia menakupkan kedua tangannya untuk minta maaf.


Alvin tersenyum. Mana mungkin ia bisa marah pada Melody, kan? “Haah, baiklah, arigatou.”


Dan mereka tertawa bersama. Hingga akhirnya ada angin berhembus cukup kencang. Menerbangkan dedaunan kering. Dedauan kering itu mampir di rambut Melody. Dengan gentle, Alvin mengambil daun itu lalu menunjukkannnya pada Melody.


“Kurasa alam tidak menyutujui jika aku menyamakan Senpai degan boeka panda, hahhaha.” Melody menerima daun kering dari tangan Alvin.


Tiba-tiba...


“Melody!”


Suara Yudha terdengar. Membuat Melody dan Alvin menoleh ke sumber suara.


Melody melihat Yura berdiri di samping suaminya. Wajah mereka terlihat datar. Yudha bahkan menjadi sagat datar. Sangat dingin.


Sudah tahu, Melody memang sering menemui Yudha dengan wajah stoic dingin seperti itu.


Yudha berjalan menuju Melody dan Alvin. Ia lalu menyaut tangan Melody dan berjalan cepat meninggalkan Alvin dan Yura yang menatap kepergian mereka dengan wajah sulit diartikan.


Yudha bahkan tidak menyapa, tidak pamit, tidak minta izin. Ia hanya datang dan membawa Melody pergi.


Melody yang belum paham dengan maksud Yudha yang tiba-tiba saja menggandeng tangannya lalu mengajaknya ‘kabur’ hanya bisa mengikuti langkah Yudha yang semakin lama semakin cepat itu. Ia bahkan harus berlari untuk mengimbanginya.


Alvin menoleh ke arah Yura yang berdiri tak jauh dari dirinya.


“Rencanamu tak akan berhasil.” Alvin tersenyum lalu meninggalkan Yura yang terlihat sedang berusaha menata emosinya.