
Budak Cinta
Suara dar dor di halaman belakang Kastel Dominic mengisi waktu pagi yang amat cerah ini. Di sana Meryn masih tampak giat berlatih menembak dengan menghabiskan puluhan stok peluru di dalam koper. Beberapa tembakannya tepat sasaran, tapi beberapa tak mengenai papan.
Orlando yang pagi ini melatih Meryn menembak, tampak diam mengamati tubuh Meryn. Postur tubuh wanita itu amat sangat seksi. Membuat Orlando tak dapat mengalihkan pandang barang sedetik. Ya, benar sekali. Setidaknya sampai teleponnya berdering. Lelaki itu segera mengambil ponsel di dalam saku kemejanya. Telepon bisnis.
“Halo, ada apa?” sahut Orlando seketika telepon tersambung.
[Bos, kasino kembali diteror oleh pasukan Javer. Pengunjung menurun drastis karena ketakutan.] lapor seorang manager kasino yang sedang berada di Milan.
Orlando menarik napas panjang. Sungguh telepon yang tepat untuk menghancurkan paginya.
“Baik. Nanti siang telfon aku lagi.”
Panggilan itu seketika ia tutup. Di waktu yang sama, Paulo datang setelah mempersiapkan kebutuhannya untuk kepergiannya pagi ini.
“Anak buah Javer kembali berulah. Kamu tangani dulu masalah kasino, urusan yang lain abaikan dulu saja.” Orlando berkata kepada Paulo yang sebenarnya hendak terbang ke Milan untuk mengurusi bisnis lain.
Paulo menganggukkan kepala.
“Baik, Bos.”
“Pakai pesawat saja supaya lebih cepat sampai. Keadaan di Milan cukup genting,” lanjut Orlando memerintah.
“Anda tidak ikut dengan saya?” tanya Paulo.
Orlando menggelengkan kepala. Ia melirik ke arah Meryn.
“Aku harus di sini menemani dia. Jadi kamu saja yang berangkat. Lakukan pekerjaanmu dengan baik seperti biasa.” Orlando menjawab.
“Anda masih berniat meneruskan pernikahan itu bulan depan?” lanjut Paulo bertanya dengan ekspresi yang misterius. Dari awal ia sudah menentang obsesi Orlando kepada Meryn yang hingga kini membawa begitu banyak masalah dari masalah pribadi sampai bisnis. Apalagi Paulo juga memprediksi di masa depan Meryn akan melakukan lebih banyak kekacauan.
“Tidak ada yang bisa menentangku soal ini, Paulo. Kamu tahu alasannya lebih dari siapa pun,” jawab Orlando tegas.
Paulo pun pasrah akan sikap keras kepala bos besarnya. Ia hanya seorang penasihat, bukan penentu keputusan akhir. Sebagai penasihat ia sudah melakukan semampu yang ia bisa untuk mencegah Orlando terlibat lebih jauh dengan Meryn, wanita yang tampak bahaya. Tapi jika Orlando tidak mau mendengarnya, maka tugasnya sudah selesai.
Sambil menganggukkan kepala, Paulo bergumam pelan, “Saya hanya berharap Anda tidak bernasib sama seperti Tuan San Dominic dan juga De Luca.”
Lalu lelaki itu pergi dengan koper hitamnya yang tampak berat. Berjalan meninggalkan halaman belakang. Menuju gerbang depan untuk masuk ke dalam mobil jemputan yang sudah menantinya. Mobil yang akan mengantarkan Paulo menuju landasan udara di pulau San Dominic.
Sekepergian Paulo, Meryn melepaskan kaca mata dan peredam suara di telinganya. Ia meletakkan pistolnya kembali ke atas meja karena peluru sudah ia habiskan untuk berlatih. Wanita itu berjalan mendekati Orlando yang menatap ke arah kepergian Paulo dengan wajah datar dan terkesan cemas.
“Paulo mau ke mana?” tanya Meryn setibanya di hadapan Orlando.
“Milan.”
“Kamu nggak ikut?” lanjut Meryn bertanya.
“Nggak perlu. Dia bisa melakukan pekerjaan baik dengan maupun tanpa aku.” Orlando menjawab ringan sambil mengembalikan pandangnya pada Meryn.
“Kau tampak gelisah,” ucap Meryn melihat bola mata Orlando yang bergetar pelan. Juga ekspresi wajahnya yang terlihat aneh.
Lelaki itu diam selama beberapa saat. Ia tampak berpikir keras karena hendak mengatakan sesuatu pada Meryn.
“Ada apa?” Meryn terus mendesak. Tidak biasanya lelaki itu terlihat secemas ini. Orlando yang selalu terlihat tangguh dan berekspresi dingin itu tidak pernah terlihat segelisah ini.
Perlahan, Orlando meraih tangan kanan Meryn. Mencium tangan lembut itu, lalu menyembunyikannya di dalam dekapan kedua telapak tangannya.
“Aku ingin menceritakan sebuah kisah.” Orlando bergumam pelan.
“Ceritakan saja. Aku akan dengarkan.”
“Tapi tidak di sini.”
“Sejak kapan ada mobil di sini?” tanya Meryn keheranan melihat mobil mewah di pulau terpencil seperti ini.
“Sejak landasan udara dibuka kembali, aku memerlukan mobil untuk transportasi.” Orlando berucap sambil membukakan pintu di kursi penumpang, untuk Meryn. Lalu Orlando pun ikut masuk ke dalam mobilnya, di kursi kemudi.
“Ini mobilmu?” tanya Meryn.
“Ya.”
“Terus? Mana buat aku?” protes Meryn setelahnya.
Setelah menyalakan mesin mobil, Orlando menoleh ke arah Meryn. Menatap wajah wanita itu yang penuh harap.
“Kamu juga mau?” tanya Orlando.
“Jelas, dong! Aku tidak tahu sampai kapan aku hidup di pulau ini. Kalau ada mobil setidaknya aku tidak akan bosan terus di kastel. Aku bisa pakai mobil buat jalan-jalan.” Meryn menjelaskan.
Benar juga. Orlando menganggukkan kepala. Ia tidak pernah kepikiran betapa bosannya Meryn ada di pulau terpencil ini. Meski segala fasilitas ada di dalam kastel, tetap saja wanita itu akan merasa bosan kalau tidak memiliki banyak kegiatan.
“Okey. Nanti aku suruh Paulo bawa mobil kemari.”
Mobil Orlando pun melaju meninggalkan kastel. Melewati gerbang yang dijaga oleh dua orang bersenjata.
Ini adalah dua kalinya Meryn pergi ke luar gerbang. Dan, pemandangan yang ia lihat tetap sama menakjubkan. Pantai di pulau buatan ini tampak begitu menawan dan eksotis. Meryn merasa tidak bisa melewatkan pemandangan yang amat memukai ini. Ia pun menurunkan kaca jendela mobilnya. Melihat hamparan lautan yang membentang penuh kesegaran. Wajah Meryn pun diterpa oleh angin laut yang sejuk. Rambutnya berkibar-kibar seperti bendera. Orlando mengendarakan mobilnya cukup kencang.
Di kursi lain, Orlando melirik ke arah Meryn yang tersenyum cerah melihat pemandangan laut yang indah. Wanita itu rupanya bisa tersenyum juga. Selama ia dibawa ke pulau ini, rasanya Orlando belum pernah melihat Meryn tersenyum. Berarti ini adalah senyuman pertama yang Meryn layangkan setelah insiden di hari pernikahannya, dan semua kisah tragis yang mengikuti setelahnya, dari kebenaran tentang Henry, hingga tragedi penculikan.
Meryn yang tersenyum bahagia itu membuat Orlando turut merasakan kesegarannya. Ia tak bisa mengelak kalau hatinya bersemi melihat wanita itu tersenyum. Selama ini yang Orlando lihat hanyalah kehancuran, kemarahan, dan kemarahan lagi. Lelaki itu merasa senang melihat Meryn tersenyum, sekaligus merasa bersalah.
“Kita akan ke mana?!” celetuk Meryn.
“Ke tempat yang indah. Kamu akan suka.” Orlando menjawab pasti sambil terus mengemudikan mobil.
“Oh ya!” Meryn tersenyum mekar saat meneriakkannya. Lantas menolehkan wajahnya kembali untuk melihat panorama lautan yang begitu indah.
Sampai sepuluh menit kemudian, mereka pun sampai di tempat yang Orlando tuju. Yaitu pantai berbentuk hati yang jaraknya sekitar lima kilometer dari kastel. Merupakan tanjung buatan berbentuk hati yang oleh ayah Orlando diberi nama ‘Tanjung Cinta” karena bentuknya yang seperti hati.
Meryn turun dari mobil dan menatap ke arah tanjung berbentuk hati itu. Ia terpesona dan langsung berlari menuju tanjung tanpa peduli soal Orlando yang baru beranjak turun dari mobil.
“Wah, so wonderfull.” Meryn menggumam-gumam.
“Kamu belum pernah lihat tanjung ini? Sewaktu naik helikopter, kamu bisa lihat dari atas.” Dari belakang suara Orlando menyahut. Melihat Meryn yang tampak bahagia seperti itu membuatnya ikut merasakan kebahagiaannya. Kebahagiaan adalah rasa yang amat langka untuk seorang Orlando. Ia nyaris tidak pernah bahagia, sejak dirinya dilahirkan hingga detik ini. Sebenarnya ia pun tidak yakin seperti apa perasaan bahagia itu.
“Aku pasti melewatkan itu!” cetus Meryn.
Di atas pasir keemasan tanjung itu, Orlando mendudukkan tubuhnya menghadap laut. Meryn yang melihat itu, ikut duduk di sebelah Orlando. Ia teringat, sesaat lalu Orlando bilang ingin menceritakan sesuatu.
“Jadi apa yang ingin kamu ceritakan?” tanya Meryn sambil menoleh ke wajah Orlando. Melihat tatapan matanya yang tampak sayu.
“Pulau ini dirancang oleh ayahku atas dasar rasa sayangnya kepada wanita yang melahirkanku.” Orlando mulai bercerita.
Meryn hanya mendengarkan. Meski pun benaknya merasakan keganjilan ketika Orlando mengganti kata ‘ibu’ dengan istilah ‘wanita yang melahirkanku’. Artinya, Orlando tidak menganggap ibunya sebagai ibu.
Orlando melirik wajah Meryn. “Aku dengan ayahku punya satu kesamaan.”
“Apa itu?” lanjut Meryn bertanya.
“Kami sama-sama budak cinta.”
*